Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN MOVEMENT BEHAVIOUR DENGAN HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE REMAJA SELAMA PANDEMI COVID-19 Theodorus Wijaya; Herwanto Herwanto
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.13025

Abstract

Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or disability. Various studies have shown that adequate levels of physical activity, limited screen time, and adequate sleep is positively related to indicators of physical and mental well-being in children and adolescents. This accumulation of evidence eventually led to the publishing of the Canadian 24-h Movement Guidelines for Children and Youth. However, the COVID-19 pandemic has resulted in the implementation of policies that affect movement behaviour which is highly affecting HRQoL (health-related quality of life). The purpose of this study is to determine the relationship between movement behaviour and HRQoL during the COVID-19 pandemic. This research is an analytical study with a cross-sectional design with a sample size of 160 respondents. Sampling was done by distributing questionnaires. The result shows that Most students (129, 80.6%) do physical activity less than 1680 MET-minute/week, 70 (43.8%) students sleep for 6-8 hours, 45 (28.1%) students do sedentary activities for 5-6 hours, and 120 (75%) students don’t meet all the recommendations of the Movement Guidelines. 145 (90.6%) students have good physical HRQoL, while the other 15 (9.4%) are bad. Students’ HRQoL mental components are good on 90 (56.3%) students while 70 (43.7%) others are bad. Statistical analysis shows a significant relationship between sleep duration and the mental components summary of HRQoL (r=0.189 p= 0.008) and a significant relationship observed between meeting the recommendations of the Movement Guidelines and mental components summary of HRQoL (r= 0.170 p=0.016). Keywords: Movement Behaviour; Health-Related Quality of Life; High School Students; COVID-19 Pandemic AbstrakKesehatan adalah suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental, dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik yang cukup, screen time yang terbatas, dan tidur yang cukup secara positif terkait dengan indikator kesejahteraan fisik dan mental anak-anak dan remaja. Akumulasi bukti ini mengarah pada dikeluarkannya Canadian 24-h Movement Guidelines for Children and Youth. Namun adanya pandemi COVID-19 mengakibatkan diterapkannya berbagai kebijakan yang mengakibatkan terpengaruhnya movement behaviour yang sangat berhubungan dengan health-related quality of life. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan movement behaviour terhadap HRQoL (health-related quality of life) siswa selama pandemi COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong-lintang dengan besar sampel 160 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik movement behaviour yaitu sebagian besar siswa (129, 80,6%) melakukan aktivitas fisik kurang dari 1680 MET-menit/minggu, 70 (43,8%) siswa tidur selama 6-8 jam, 45 (28,1%) siswa melakukan kegiatan sedentary selama 5-6 jam, dan 120 (75%) siswa tidak memenuhi semua rekomendasi Movement Behaviour Guidelines. HRQoL fisik siswa yaitu 145 (90,6%) siswa baik, sedangkan 15 (9,4%) lainnya buruk. HRQoL komponen mental siswa yaitu 90 (56,3%) siswa baik sedangkan 70 (43,7%) lainnya buruk. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara durasi tidur dengan ringkasan komponen mental HRQoL (r=0,189 p= 0,008) dan hubungan bermakna antara memenuhi rekomendasi Canadian Movement Guidelines dengan ringkasan komponen mental HRQoL (r=0,170 p=0,016).
POLA ASUH PEMBERIAN STIMULASI BERBAHASA TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI PUSKESMAS WILAYAH BANTEN Angeline Wijaya; Herwanto Herwanto
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22042

Abstract

Abstrak Peran orang tua dalam mengasuh merupakan faktor yang penting dalam mencapai perkembangan anak yang optimal termasuk perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa yang optimal dapat didukung dengan pemberian stimulasi berbahasa secara berkesinambungan, seperti bermain bersama, membaca buku dongeng, mengajak anak bernyanyi, memberikan buku bergambar, bahkan berdialog dengan anak mampu meningkatkan pemahaman dan respon anak dalam berbahasa. Interaksi antar aorag tua dan anak juga dibutuhkan untuk pemantauan tumbuh kembang agar dapat melakukan deteksi dini bila terjadi perkembangan bahasa yang tidak sesuai atau keterlambatan bicara. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pemberian stimulasi berbahasa terhadap perkembangan bahasa pada anak usia 3-5 tahun di Puskesmas Wilayah Banten. Penelitian merupakan studi analitik observatif menggunakan metode potong melintang. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik konsekutif dengan subyek orang tua serta anak usia 3-5 tahun sebanyak 71 responden. Pengambilan data penelitian dilakukan menggunakan kuesioner pemberian stimulus dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), kedua kuesioner tersebut digunakan untuk menilai frekuensi orang tua dalam pemberian stimulus dan perkembangan bahasa pada anak. Analisis hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-square, dan dari hasil analisis pada penelitian ini didapatkan nilai p < 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemberian stimulasi berbahasa dengan perkembangan bahasa anak. Kata kunci: Pola asuh, stimulasi berbahasa, perkembangan bahasa, keterlambatan bicara Abstract Parenting is important in achieving optimal child development, including language development. Providing continuous language stimulation, such as playing together, reading fairy tales, singing together, giving illustrated magazine and having dialogue with children can improve children’s understanding and response in language. Parent-child interaction is also needed to monitor growth and development so that early detection can occur if there is speech delay. This study was made to know the relationship between language stimulation and language development in children aged 3-5 years at the Health Center in Banten region. Design of the research used analytic observational and the study used cross sectional  method. The sampling method was carried out by consecutive technique, parents and children aged 3-5 years as subjects and total 71 respondents collected. Research data collected using language stimulation questionnaire and Developmental Pre Screening Questionnaire to asses language development in children. Analysis of the study used the Chi-Square statistical test, and the p-value < 0,05 was obtained, therefore it can be conclude that there is a significant relationship between the language stimulation and language development in children Keywords: Parenting, language stimulation, language development, speech delay Â