Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN SEMIOTIKA SAUSSURE ATAS SIMBOL PANCASILA PADA BANGUNAN GEREJA SANTO DONATUS BHOANAWA Maria Yulita C. Age
Atma Reksa : Jurnal Pastoral dan Kateketik Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Pastoral dan Kateketik
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende, Jalan Gatot Subroto, KM 3. Tlp./Fax (0381) 250012

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53949/ar.v7i1.145

Abstract

Memperbincangkan Pancasila tidak hanya sekadar menempatkan Pancasila pada ruang hampa yang penuh dengan indoktrinisasi yang tidak memiliki makna. Nilai Pancasila merupakan nilai abstrak yang perlu diformulasikan dalam tataran kehidupan praksis, sehingga nilai Pancasila tidak sekadar melangit tetapi membumi. Pancasila serta simbol kelima butir Pancasila idealnya terpampang di bangunan atau ruangan gedung pemerintahan, rumah-rumah jabatan Presiden, Wakil Presiden, Gubernur, lembaga pendidikan, tetapi simbol Pancasila tersebut juga terpampang secara jelas dan nyata di bangunan gedung gereja Katolik St. Donatus Bhoanawa, Kevikepan Ende, Keuskupan Agung Ende. Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji makna dan mengetahui tujuan dibalik pemasangan simbol Pancasila pada bagian bangunan gereja Kuasi St. Donatus Bhoanawa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yakni, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data selanjutnya dianalisis menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure tentang bahasa yang merupakan suatu sistem tanda, dan setiap tanda tersusun dari dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). Hasil penelitian menunjukan bahwa simbol Pancasila (penanda) yang menjadi bagian dari bangunan gereja kuasi St. Donatus Bhoanawa tidak terlepas dari konteks historis, geografis, kultural, teologis dan pastoral (petanda) serta bentuk konkretisasi atas slogan 100% Katolik, 100% Indonesia dan Pembumian Pancasila sebagai komitmen kebangsaan. Karena itu, simbol Pancasila (penanda) yang menjadi bagian dari bangunan gereja St. Donatus Bhoanawa tidak dapat dimaknai (petanda) secara arbitrer (mana suka) melainkan tanda yang memiliki makna tertentu berdasarkan konteks yang melatarbelakangi pemasangan simbol Pancasila tersebut. Masyarakat Indonesia hendaknya mulai membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pembumian Pancasila dalam tindakan yang nyata.
Efektivitas Program Pendidikan Keluarga tentang 'Bahasa Cinta' terhadap Peningkatan Kualitas Komunikasi Pasangan Suami Istri di Paroki Santo Mikhael Kota Baru, Kabupaten Ende Mathilde Mitha; Fransiskus Z. M.Deidhae; Maria Yulita C. Age; Damianus Dionisius Nuwa
MASALIQ Vol 6 No 4 (2026): JULI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/masaliq.v6i4.11346

Abstract

A lack of open communication in married life can lead to misunderstandings and conflicts because some couples assume that expressions of affection are only necessary during the stages of acquaintance and courtship. This condition indicates the importance of family education on love languages as an effort to improve the quality of communication between married couples in Catholic families. This study aims to analyze the effectiveness of a family education program on love languages in improving the quality of communication between married couples at Santo Mikhael Kotabaru Parish, Ende Regency. The study employed a quantitative method with a pre-experimental approach using a one-group pretest–posttest design. The program was conducted on October 8, 2025, at the Santo Mikhael Kotabaru Parish Hall and involved married couples who had been married for five to ten years. The findings indicate that the family education program on love languages was effective in improving participants’ understanding of their partners’ emotional needs and the importance of communication within the family. The program also encouraged changes in attitudes and behavior and increased couples’ awareness of the role of communication in maintaining marital harmony. This study concludes that understanding and applying love languages can help couples maintain emotional closeness, develop mutual understanding, and resolve problems in their relationships. These findings provide practical implications for the development of family education programs within parish communities that focus on strengthening communication, harmony, and the resilience of marital relationships.