Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Petrogenesa Batuan Beku di Daerah Godean Okki Verdiansyah
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-11 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Godean, merupakan bagian dari sabuk magmatisme Miosen Pegunungan Selatan Jawa, yang terdiri dari batuan intrusi, vulkanik, dan sedimen. Analisis petrogenesa di interpretasi berdasarkan data geokimia dan petrografi basalt, untuk mengetahui tataan tektonik pada daerah Godean. Litologi didefinisikan sebagai andesit basaltik bertekstur interstitial dengan mineralogi dominan plagioklas, piroksen-klino, olivin, magnetit dengan diikuti diagenesa smektit dari glass. Perhitungan CIPW normatif menunjukan batuan kaya plagioklas, piroksen Mg > Ca, dan magnetit > ilmenit. Analisis geokimia unsur utama batuan menunjukan adanya diferensiasi magma dari basalt menuju dasit yang terbentuk dari magmatisme busur kepulauan tholietik – kapur alkali. Analisa unsur minor dan unsur jarang (REE) menunjukan tipe magma sebagai basalt busur kepulauan dengan afinitas kapur alkali dimana magma berasal dari peleburan peridotit tanpa garnet dan membentuk magma dengan suhu sekitar 1150ºC dengan tekanan 10-13 kbar pada dapurnya.Kata Kunci: Petrogenesa, magma, pegunungan selatan, basalt, Yogyakarta.
Bayat sebagai Kaldera purba : Sebuah gagasan konsep untuk mencari mineralisasi daerah Pegunungan Selatan Okki Verdiansyah
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berada pada daerah Bayat, dan Gunungkidul yang merupakan pusat studi geologi yang menarik. Kehadiran batuan beku, metamorf, dan karakter dari sebaran serta bentukan morfologi yang unik menjadikan ketertarikan peneliti untuk mengkaji Bayat dengan konsep diluar pakemnya, yaitu kaldera, magmatisme dan mineralisasi secara regional.  Metode penelitian bersifat kualitatif, dengan tahapan analisis studio, analisis dan interpretasi data, observasi data lapangan, analisis laboratorium, analisis dan evaluasi data. Penelitian berfokus pada fisiografi Pegunungan Jiwo dan subzona Baturagung, untuk melihat fisiografi bentukan batuan Tersier atau yang lebih tua. Kajian Bayat sebagai Kaldera didasarkan pada konsep present is the key to the past yang mengacu pada bentukan kaldera di Indonesia seperti Gunung Batur, Gunung Brayan, dan Gunung Bromo serta pendekatan geologi Kaldera di luar Indonesia seperti Valles, Rorotua, Cheonji, dan Santorini. Mineralisasi logam umumnya berasosiasi dengan gunung api strato berdasarkan model endapan mineral sabuk pasifik. Hasil kajian berupa adanya anomali morfologi pada daerah Bayat dan pegunungan Baturagung terlihat melensa, dengan bagian sisi utara berupa gawir terjal yang relatif berarah Barat-Timur. Pola batas fisiografi selatan, memperlihatkan adanya bentukan antara dataran dan perbukitan Baturagung ditandai tebing terjal ini, ketika diikuti pola sebarannya akan membentuk beberapa segmentasi yang terlihat sebagai 3 bentukan gawir berbentuk setengah lingkaran, yang diikuti sebaran vulkanisme dan batuan beku andesitik-basaltik mengikuti koridor Timurlaut-Baratdaya. Magmatisme daerah Bayat terlihat memiliki dua pola yaitu tholeiitik dan kapur alkali, bahkan terdapat high-K Alkali dan batuan tidak jenuh silika, yang membuktikan adanya perkembangan magmatisme cukup fluktuatif.  Vulkanisme yang terbentuk akibat Kaldera Bayat, menyebar mengikuti koridor yang dibentuk oleh proses tectono-volcanic yang menyebarkan vulkanisme stratovulkanik yang lebih muda, yang memungkinkan terbentuk sebagai sistem mineralisasi berasosiasi dengan hidrotermal. Mineralisasi yang terbentuk mengikuti pola Timurlaut - Baratdaya, yang pada perbukitan Jiwo dijumpai sebagai basemetal related yang berasosiasi dengan intrusi diorit di daerah perbukitan Jiwo, pada bagian selatannya terlihat adanya mineralisasi epitermal pada daerah Watukelir, Gn. Nglanggran, Piyungan, dan Pathok. Mineralisasi pada Pengkor - Pathuk, berupa vuggy quartz, diikuti argilik lanjut dan sulfida pirit-enargit (?) dengan kadar 0.03 - 0.23 ppm Au, 10.1 - 15.7 ppm Ag, 22 - 453 ppm As, 147 ppm Cudan pada Piyungan, terdapat lapisan-lapisan tuf dengan silika amorf dominan, diikuti adanya mineral lempung sebagai endapan diantara tuf dengan anomali geokimia 0.02 ppm Au, 12.9 - 17.3 ppm Ag, 21 - 33 ppm As. Konsep kaldera, dapat kami gunakan untuk melihat sebaran gunungapi yang diharapkan dapat menjadi tempat berkembangnya mineralisasi yang berhubungan dengan sistem hidroterma. Penelitian detil pada pusat-pusat erupsi purba, diperlukan untuk memahami sebaran sistem hidrotermal yang ada, baik penelitian kegeologian, geofisika, atau kegunungapian secara khusus.Kata Kunci: Bayat, gunungapi, kaldera, magma, mineralisasi, pegunungan selatan.