Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ukuran Anatomi dan Histomorfometri Oviduk Puyuh Periode Produksi setelah Pemberian Aditif Pakan Tepung Daun Kelor Sunarno Sunarno; Rachellita Elizania Kristanto; Kasiyati Kasiyati; Muhammad Anwar Djaelani
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 25, No 2 (2023): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.25.2.165-176.2023

Abstract

Kelor (Moringa oleifera) diketahui memiliki kandungan nutrien lengkap dan kaya antioksidan serta memiliki potensi sebagai aditif pakan untuk memperbaiki kinerja reproduksi puyuh. Ukuran anatomi, histomorfometri, dan profil histologi oviduk merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui kinerja reproduksi puyuh periode produksi. Riset ini dilakukan dengan tujuan untuk memberi analisis ukuran anatomi, histomorfometri, dan profil histologi oviduk puyuh periode produksi setelah diberi imbuhan aditif pakan tepung daun kelor. Desain riset ini dilakukan dengan acak lengkap yang meliputi 5 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 9 kali. Hewan uji yang digunakan adalah puyuh betina umur 20 hari yang berjumlah 45 ekor. Perlakuan terdiri atas P0 (kontrol) berupa pakan standar tidak diberi aditif pakan tepung kelor dan perlakuan aditif pakan tepung daun kelor dalam pakan standar, masing-masing dengan kadar 2,5% (P1); 5% (P2); 7,5% (P3) 10% (P4) per bobot pakan. Variabel penelitian yang diukur meliputi ukuran oviduk, antara lain bobot total oviduk, panjang oviduk, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina. Variabel histomorfometri, meliputi tebal lapisan muskularis, tinggi, dan lebar kelenjar mukosa magnum. Profil histologi oviduk meliputi gambaran lapisan muskularis dan mukosa magnum. Data hasil riset selanjutnya diolah dengan analisis variansi satu arah pada signifikansi 5% dan deskriptif kualitatif. Hasil riset yang diperoleh menyatakan imbuhan tepung M. oleifera tidak signifikan dalam mempengaruhi ukuran anatomo serta histomorfometri oviduk. Profil histologi oviduk menunjukkan aditif pakan Tepung daun M. oleifera dengan kadar 2,5% serta 5% berpotensi meningkatkan proliferasi sel, sedangkan pada kadar 7,5%, dan 10% berpotensi mempertahankan integritas seluler lapisan muskularis dan mukosa magnum. Riset ini mendapatkan kesimpulan bahwa aditif pakan tepung daun M. oleifera dapat digunakan sebagai aditif pakan untuk mempertahankan ukuran anatomi dan histomorfometri oviduk serta berpotensi meningkatkan proliferasi sel dan mempertahankan integritas seluler pada puyuh periode produksi.
Potensi Jamu Kencing Manis Madura terhadap Struktur Limpa Tikus Jantan Galur Wistar Penderita Diabetes Melitus Cindy Ruriasri; Agung Janika Sitasiwi; Kasiyati Kasiyati
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Suku Madura merupakan salah satu etnis di Indonesia yang hingga kini mempertahankan pengetahuan tradisional dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Masyarakat Madura, khususnya di Sumenep dan Pamekasan, menjaga kearifan lokal dalam penggunaan tanaman obat untuk mengatasi diabetes, seperti jamu kencing manis yang dikenal di Kecamatan Pamekasan. Jamu ini memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan, antara lain daun insulin (Tithonia diversifolia), sirih merah (Piper crocatum), kayu manis (Cinnamomum burmannii), ketumbar (Coriandrum sativum), dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi jamu kencing manis madura terhadap struktur limpa tikus diabetes melitus. Penelitian menggunakan 30 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi enam kelompok perlakuan: kontrol P0 (akuades), P1 (diabetes + metformin), P2 (diabetes + 5 g jamu), P3 (diabetes + 10 g jamu), P4 (diabetes + 15 g jamu), dan P5 (diabetes tanpa terapi). Tikus dieuthanasia pada hari ke-3, 10, dan 20, kemudian limpa diisolasi dan difiksasi. Preparat histologis dibuat menggunakan metode parafin dan pewarnaan hematoksilin-eosin. Parameter yang diamati meliputi bobot badan, bobot limpa, indeks organ, serta diameter dan luas germinal center serta pulpa putih. Data dianalisis dengan uji sidik ragam satu arah, dilanjutkan uji Duncan, sedangkan parameter non parametrik diuji dengan Kruskal-Wallis. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan nyata pada bobot badan (p<0,05), namun bobot limpa, indeks organ, diameter, dan luas germinal center tidak berbeda nyata (p>0,05), begitu pula diameter dan luas pulpa putih tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Disimpulkan bahwa jamu kencing manis madura tidak berdampak negatif pada struktur histologi limpa tikus diabetes melitus.