H. Muhammad Dwijo Murdiyo
Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/RSUD dr. Saiful Anwar, Malang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hipertrofi Adenoid dan Tonsil sebagai Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Anak di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2017 Ayunita Tri Wirattami; H. Muhammad Dwijo Murdiyo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i10.302

Abstract

Pendahuluan: Obstructive sleep apnea (OSA) adalah bagian dari sleep disorder breathing syndrome. Prevalensi OSA pada anak-anak sekitar 3% dengan frekuensi tertinggi pada usia 3-6 tahun. Penyebab utama OSA pada anak-anak adalah hipertrofi tonsil dan adenoid. Metode: Penelitian deskriptif untuk mengetahui kejadian hipertrofi adenoid dan tonsil pada anak dengan OSA di bagian THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2017. Hasil: Selama periode tersebut tercatat 9 pasien hipertrofi adenoid dan tonsil anak, 4 orang laki-laki dan 5 orang perempuan; terbanyak pada rentang usia 5-10 tahun. Dari 9 subjek, 2 orang dengan hasil PSG normal, 7 orang menderita OSA sedang, 2 orang dengan hasil PSG normal, 7 orang dengan OSA, di mana terbanyak adalah OSA sedang. Ukuran hipertrofi adenoid terbanyak (44,4%), yaitu grade 1, 3, dan 4 dengan OSA, dengan paling banyak OSA sedang, sedangkan ukuran tonsil terbanyak (44,4%) adalah T3-T3 dengan derajat OSA sedang dan berat. Sebanyak 6 orang dengan BMI normal dan menderita OSA sedang, 1 orang dengan obesitas menderita OSA berat. Simpulan: Hipertrofi adenoid dan tonsil tidak berbanding lurus dengan derajat OSA, namun makin meningkatnya BMI dapat meningkatkan derajat OSA.   Introduction: Obstructive sleep apnea (OSA) is part of the complex respiratory syndrome sleep disorder. The prevalence of OSA in children is around 3% with the highest frequency at 3-6 years old. The main cause of OSA in children are tonsillar and adenoid hypertrophy. Method: A descriptive study to assess adenoid and tonsillar hypertrophy incidence among children with OSA in the Otorhinolaryngology Department, Dr. Saiful Anwar General Hospital, Malang, during 1 January 2015 – 31 December 2017. Results: There were 9 children registered with tonsillar and adenoid hypertrophy, 4 males and 5 females, mostly within age range of 5-10 years; 2 with normal PSG results, 7 with OSA, mostly moderate OSA. The size of adenoid hypertrophy were grades 1, 3, and 4 (44.4%) with moderate OSA, while 44.4% tonsil size were T3-T3 with moderate and severe OSA. A total of 6 children with normal BMI and moderate OSA, 1 person with obesity suffered from severe OSA. Conclusion: Adenoid and tonsillar hypertrophy is not directly proportional to the degree of OSA, but increasing BMI can worsen OSA.
Hipertrofi Adenoid dan Tonsil sebagai Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea pada Anak di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2017 Ayunita Tri Wirattami; H. Muhammad Dwijo Murdiyo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i10.302

Abstract

Pendahuluan: Obstructive sleep apnea (OSA) adalah bagian dari sleep disorder breathing syndrome. Prevalensi OSA pada anak-anak sekitar 3% dengan frekuensi tertinggi pada usia 3-6 tahun. Penyebab utama OSA pada anak-anak adalah hipertrofi tonsil dan adenoid. Metode: Penelitian deskriptif untuk mengetahui kejadian hipertrofi adenoid dan tonsil pada anak dengan OSA di bagian THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2017. Hasil: Selama periode tersebut tercatat 9 pasien hipertrofi adenoid dan tonsil anak, 4 orang laki-laki dan 5 orang perempuan; terbanyak pada rentang usia 5-10 tahun. Dari 9 subjek, 2 orang dengan hasil PSG normal, 7 orang menderita OSA sedang, 2 orang dengan hasil PSG normal, 7 orang dengan OSA, di mana terbanyak adalah OSA sedang. Ukuran hipertrofi adenoid terbanyak (44,4%), yaitu grade 1, 3, dan 4 dengan OSA, dengan paling banyak OSA sedang, sedangkan ukuran tonsil terbanyak (44,4%) adalah T3-T3 dengan derajat OSA sedang dan berat. Sebanyak 6 orang dengan BMI normal dan menderita OSA sedang, 1 orang dengan obesitas menderita OSA berat. Simpulan: Hipertrofi adenoid dan tonsil tidak berbanding lurus dengan derajat OSA, namun makin meningkatnya BMI dapat meningkatkan derajat OSA.   Introduction: Obstructive sleep apnea (OSA) is part of the complex respiratory syndrome sleep disorder. The prevalence of OSA in children is around 3% with the highest frequency at 3-6 years old. The main cause of OSA in children are tonsillar and adenoid hypertrophy. Method: A descriptive study to assess adenoid and tonsillar hypertrophy incidence among children with OSA in the Otorhinolaryngology Department, Dr. Saiful Anwar General Hospital, Malang, during 1 January 2015 – 31 December 2017. Results: There were 9 children registered with tonsillar and adenoid hypertrophy, 4 males and 5 females, mostly within age range of 5-10 years; 2 with normal PSG results, 7 with OSA, mostly moderate OSA. The size of adenoid hypertrophy were grades 1, 3, and 4 (44.4%) with moderate OSA, while 44.4% tonsil size were T3-T3 with moderate and severe OSA. A total of 6 children with normal BMI and moderate OSA, 1 person with obesity suffered from severe OSA. Conclusion: Adenoid and tonsillar hypertrophy is not directly proportional to the degree of OSA, but increasing BMI can worsen OSA.