Nicholas Renata Lazarosony
PPDS-1 Program Studi Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peranan Status Antioksidan pada Abortus Spontan Nicholas Renata Lazarosony
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i1.338

Abstract

Abortus merupakan masalah obstetrik yang merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan janin. Perdarahan atau ancaman abortus pada trimester pertama terjadi pada sekitar 20% sampai 25% wanita hamil, dengan 50%-nya akan berakhir sebagai abortus spontan. Beberapa penelitian mengindikasikan terjadinya stres oksidatif pada abortus spontan. Stres oksidatif yang disebabkan oleh penurunan kadar antioksidan dapat memengaruhi sistem imun ibu, sehingga mengalami pergeseran dominasi sistem imun Th2 ke Th1 yang menyebabkan abortus; menunjukkan stres terhadap sinsitiotrofoblas dan kerusakan jaringan plasenta dengan bukti morfologis dan imunohistokimia, yang berkontribusi terhadap risiko kegagalan kehamilan awal. Kadar antioksidan yang tidak adekuat meningkatkan risiko abortus spontan. Abortion is an obstetric problem that may cause maternal and fetal death. Bleeding or threat of abortion in first trimester occurs in 20% to 25% pregnancy and 50% will end up as spontaneous abortion. Some studies indicate oxidative stress occurs in spontaneous abortion. Oxidative stress caused by a decrease in antioxidant levels can affect mother’s immune system, making a shift in the dominance of the Th2 to Th1 immune system that causes abortion. Oxidative stress contributes to early pregnancy failure, by showing a marked increase in oxidative stress to syncytiotrophoblasts and damage to placental tissue with morphological and immunohistochemical evidence. Inadequate levels of antioxidants are likely to induce spontaneous abortion.
Peranan Status Antioksidan pada Abortus Spontan Nicholas Renata Lazarosony
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i1.338

Abstract

Abortus merupakan masalah obstetrik yang merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan janin. Perdarahan atau ancaman abortus pada trimester pertama terjadi pada sekitar 20% sampai 25% wanita hamil, dengan 50%-nya akan berakhir sebagai abortus spontan. Beberapa penelitian mengindikasikan terjadinya stres oksidatif pada abortus spontan. Stres oksidatif yang disebabkan oleh penurunan kadar antioksidan dapat memengaruhi sistem imun ibu, sehingga mengalami pergeseran dominasi sistem imun Th2 ke Th1 yang menyebabkan abortus; menunjukkan stres terhadap sinsitiotrofoblas dan kerusakan jaringan plasenta dengan bukti morfologis dan imunohistokimia, yang berkontribusi terhadap risiko kegagalan kehamilan awal. Kadar antioksidan yang tidak adekuat meningkatkan risiko abortus spontan. Abortion is an obstetric problem that may cause maternal and fetal death. Bleeding or threat of abortion in first trimester occurs in 20% to 25% pregnancy and 50% will end up as spontaneous abortion. Some studies indicate oxidative stress occurs in spontaneous abortion. Oxidative stress caused by a decrease in antioxidant levels can affect mother’s immune system, making a shift in the dominance of the Th2 to Th1 immune system that causes abortion. Oxidative stress contributes to early pregnancy failure, by showing a marked increase in oxidative stress to syncytiotrophoblasts and damage to placental tissue with morphological and immunohistochemical evidence. Inadequate levels of antioxidants are likely to induce spontaneous abortion.