Esther Kristiningrum
Medical Department, PT. Kalbe Farma Tbk. Jakarta, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penggunaan Hydroxychloroquine dalam Tatalaksana Covid-19 Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.552

Abstract

Penyakit coronavirus 2019 (Covid-19) telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Saat ini berbagai obat telah diteliti dalam upaya mengobati dan mencegah penularan virus tersebut, salah satunya adalah hydroxychloroquine yang selama ini dikenal sebagai obat antimalaria dan obat penyakit autoimun seperti lupus eritemasosus sistemik. Selain efek imunomodulasi, studi in vitro menunjukkan bahwa hydroxychloroquine juga memiliki efek antivirus, namun studi pada pasien Covid-19 hasilnya bervariasi dalam hal perbaikan outcome. Saat ini pada kondisi pandemi, hydroxychloroquine secara darurat bisa digunakan terbatas dalam pengawasan ketat oleh dokter untuk pengobatan pasien Covid-19 dewasa dan remaja yang memiliki berat badan 50 kg atau lebih dan dirawat di rumah sakit. The 2019 coronavirus disease (Covid-19) has spread rapidly throughout the world. Various drugs have been studied for treating and preventing virus transmission, including hydroxychloroquine, known as antimalarial and an autoimmune disease drug such as systemic lupus erythematosus. In addition to an immunomodulating effect, in vitro studies have shown that hydroxychloroquine also has antiviral effects, but studies on Covid-19 patients have shown mixed results. Currently, in pandemic conditions, hydroxychloroquine can be limitedly used for emergency under close medical supervision for treating adults and adolescents weighed 50 kg or more with Covid-19 in a hospital setting.
Farmakoterapi Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.479

Abstract

Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan kelainan saluran napas dan/atau alveoli yang biasanya disebabkan oleh paparan signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya. Manajemen optimal PPOK multifaset yang menggabungkan strategi non-obat dan manajemen obat. Beberapa obat seperti bronkodilator dan antiinflamasi dapat membantu pasien PPOK. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a common disease, preventable and treatable disease, characterized by persistent respiratory symptoms and airflow limitation due to airway and/or alveolar abnormalities, usually caused by significant exposure to noxious particles or gas. The optimal management requires a multifaceted approach which incorporates non-drug as well as drug-management strategies. Some medications such as inhalation bronchodilators and anti-inflammatory agents can help COPD patients
Farmakoterapi Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 4 (2019): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i4.479

Abstract

Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan kelainan saluran napas dan/atau alveoli yang biasanya disebabkan oleh paparan signifikan terhadap partikel atau gas berbahaya. Manajemen optimal PPOK multifaset yang menggabungkan strategi non-obat dan manajemen obat. Beberapa obat seperti bronkodilator dan antiinflamasi dapat membantu pasien PPOK. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a common disease, preventable and treatable disease, characterized by persistent respiratory symptoms and airflow limitation due to airway and/or alveolar abnormalities, usually caused by significant exposure to noxious particles or gas. The optimal management requires a multifaceted approach which incorporates non-drug as well as drug-management strategies. Some medications such as inhalation bronchodilators and anti-inflammatory agents can help COPD patients
Penggunaan Hydroxychloroquine dalam Tatalaksana Covid-19 Esther Kristiningrum
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 10 (2020): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.552

Abstract

Penyakit coronavirus 2019 (Covid-19) telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Saat ini berbagai obat telah diteliti dalam upaya mengobati dan mencegah penularan virus tersebut, salah satunya adalah hydroxychloroquine yang selama ini dikenal sebagai obat antimalaria dan obat penyakit autoimun seperti lupus eritemasosus sistemik. Selain efek imunomodulasi, studi in vitro menunjukkan bahwa hydroxychloroquine juga memiliki efek antivirus, namun studi pada pasien Covid-19 hasilnya bervariasi dalam hal perbaikan outcome. Saat ini pada kondisi pandemi, hydroxychloroquine secara darurat bisa digunakan terbatas dalam pengawasan ketat oleh dokter untuk pengobatan pasien Covid-19 dewasa dan remaja yang memiliki berat badan 50 kg atau lebih dan dirawat di rumah sakit. The 2019 coronavirus disease (Covid-19) has spread rapidly throughout the world. Various drugs have been studied for treating and preventing virus transmission, including hydroxychloroquine, known as antimalarial and an autoimmune disease drug such as systemic lupus erythematosus. In addition to an immunomodulating effect, in vitro studies have shown that hydroxychloroquine also has antiviral effects, but studies on Covid-19 patients have shown mixed results. Currently, in pandemic conditions, hydroxychloroquine can be limitedly used for emergency under close medical supervision for treating adults and adolescents weighed 50 kg or more with Covid-19 in a hospital setting.