Agus Dedi Putrawan
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kekerasan Intelektual dalam Sejarah Peradaban Islam Agustiansyah Agustiansyah; Zainul Fuadi; Agus Dedi Putrawan
Sophist : Jurnal Sosial Politik Kajian Islam dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2022): Feminisme dan Mistisme Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sophist.v4i2.77

Abstract

Paper ini mengangkat kajian tentang Imam Ahmad Ibn Hanbal dalam mempertahankan argumentasinya di tengah kebijakan Mihnah yang diberlakukan khalifah Abasiyah (Makmun, Mu’tasim dan Watsiq) di mana diketahui banyak intelektual atau ulama pada masanya menjadi korban kekerasan dan penyiksaan oleh khalifah, ada yang langsung berubah sikap dan pendapatnya, namun berbeda dengan sang imam yang sangat konsisten dengan pendapat dan argumenya. Imam Ahmad bin Hambal merupakan salah seorang intelektual islam, ulama besar yang sampai hari ini mazhabnya berkembang di seluruh penjuru dunia. Tidak dipungkiri bahwa latar belakang sosial politik merupakan bagian dari proses muncul tumbuh dan berkembangnya Mazhab Hambali hingga hari ini. Paper ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan historis, yang terkait bagaimana terjadinya kebijakan mihnah dan apa yang melatarbelakangi munculnya kekerasan dan mengapa imam Ahmad Ibn Hanbal tidak berdusta saja untuk menghindari penyiksaan (mengingat beliau adalah seorang imam mujtahid yang dapat berfatwa) disesuaikan dengan kondisi yang dialami?. Fokus Paper ini mengungkap sejarah bagaimana peristiwa intimidasi dan kekerasan yang dialami imam hanbali oleh penguasa (khalifah). Dalam menemukan jawabanya penulis mencoba melihat dari kacamatad dengan teori Relasi kuasa (power relation) yang dikembangkan oleh Michel Foucault.
TRANSFORMATIVE ARCHITECTURE OF PROPHETIC SOCIAL SCIENCES BY HUSNI MUADZ: SYNTHESIS OF LINGUISTICS, SYSTEMS, AND QUR'ANIC PRACIS Lalu Ahmad Rizkan; Agus Dedi Putrawan
Tahiro : Journal of Peace and Religious Mederation Vol. 2 No. 2 (2025): Religious Moderation, Legal Frameworks, and Ecological Justice
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tahiro.v2i2.14770

Abstract

This article analyzes the intellectual architecture of Husni Muadz, who developed Transformative Prophetic Social Science through a synthesis of Western scientific methodology and Islamic epistemology. By combining Linguistics, General System Theory (GST), and Pragmatics with Qur'anic values, Sufism ethics, and Islamic philosophy, Muadz built a paradigm that is not only diagnostic but also operational. This study maps two main phases of Muadz's development: the theoretical formulation phase (1991–2010), which produced Transformative Social Sciences and the Praxis-Recognitive Learning Model; and the practical transformation phase (2010–2021), which gave birth to social technologies such as the Meeting School and Pragmatics of the Qur'an. The research findings show that Muadz's container–content approach enables the integration of systemic analysis and a transcendent ethical orientation, thus diagnosing structural inequalities while offering a concrete, low-cost, and easily replicable mechanism for social transformation. Furthermore, the praxis-recognitive model and the use of Qur'anic speech act theory establish a system of moral accountability that connects ethical intentions with social action. This study confirms Muadz's significant contribution in expanding the framework of Prophetic Social Science by presenting an applicable methodology relevant to character development, social liberation, and community development.