Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GERAKAN REMAJA PUTRI BEBAS ANEMIA UNTUK PENCEGAHAN DAN PENANGULANGAN STUNTING DI DESA PASSI KECAMATAN PASSI BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Olvie Sahelangi; Meildy E. Pascoal; Sesca D. Solang
ABDIKEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 Desember (2022): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.807 KB) | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v4i2 Desember.1402

Abstract

Kerentanan anemia pada remaja putri terjadi karena proses kehilangan darah saat menstruasi.Rematri yang menderita anemia berisiko mengalami anemia jugasaat hamil, yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan, ahkan menyebabkan kematian ibu dan anak. Tujuan : Remaja sehat Bebas Anemia merupakan investasi masa depan bangsa. Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di desa Passi Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow yang dilakukan pada tanggal 4 – 5 Agustus 2022. Peserta berjumlah 20 orang remaja putri yang dipilih secara acak. Peserta diberikan materi pelatihan dan melakukan pre test di awal dan diakhir pelatihan dilakukan post tes. Sedangkan analisis pada pengabdian masyarakat ini adalah univariate dan bivariat. Hasilnya pengetahuan gizi yang kurang 90 % menjadi cukup 75 % dan baik 15 %, pengetahuan tentang anemia kurang 55 % menjadi cukup 35 % dan baik 55 %, Sikap kurang 100 % menjadi cukup 25 % dan baik 75 %, peran orang tua kurang 100 % menjadi cukup dan baik 50%, media kurang 100 % menjadi cukup 55 % dan baik 45 %. Hasil uji parametrik (paried t test) nilai signifikan P value = 0,000 (<0,05) yang berarti terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan materi. Remaja perempuan mempunyai risiko yang jauh lebih besar untuk terkena anemia dibandingkan lakilaki.Kebiasaan Sarapan pagi merupakan faktor yang menentukan untuk remaja mendapatkan asupan yang baik sebagai bekal aktivitas sehari-hari sehingga terhindar dari anemia.Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa dengan pemberian materi pengetahuan tentang kejadian anemia pada remaja putri terdapat peningkatan yang baik dari semua materi yang diberikan dan secara uji statistik terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan materi. Kata Kunci: Anemia, Reproduksi, Remaja, Pengetahuan Gizi ABSTRACT The susceptibility of anemia in adolescent girls occurs due to the process of blood loss during menstruation. Rematri who suffer from anemia are at risk of experiencing anemia during pregnancy, which has an impact on the growth and development of the fetus in the womb and has the potential to cause complications in pregnancy and childbirth, even causing maternal and child mortality. Objectives: Anemia-free healthy youth is an investment in the nation's future. This community service was carried out in the village of Passi, West Passi District, Bolaang Mongondow Regency which was carried out on August 4-5, 2022. The participants were 20 young women who were chosen randomly. Participants were given training materials and conducted a pre-test at the beginning and at the end of the training a post-test was conducted. While the analysis on this community service is univariate and bivariate. The result is that the knowledge of nutrition that is less than 90% becomes sufficient 75% and good 15%, knowledge about anemia is less 55% to be sufficient 35% and good 55%, attitude is less than 100% to be sufficient 25% and good 75%, the role of parents is less 100% to be sufficient and good 50%, less media 100% to be sufficient 55% and good 45%. The results of the parametric test (paried t test) significant value P value = 0.000 (<0.05) which means that there is a significant difference in knowledge between before and after being given the material. Adolescent girls have a much greater risk of developing anemia than boys. Breakfast habits are a determining factor for adolescents to get a good intake as a provision for daily activities so as to avoid anemia. The results of community service show that by providing knowledge material about the incidence of anemia in young women there is a good increase in all the material provided and statistically there is a significant difference in knowledge between before and after being given the material. Keywords: Anemia, Reproduction, Adolescent, Nutrition Knowledge
Optimalisasi Peran Bidan dalam Pengelolaan Diabetes Melitus Gestasional di Desa Likupang Satu Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Irmasanti Fajrin; Freike S.N. Lumy; Sesca D. Solang; Fredrika Nancy Losu; Amelia Donsu; Fonnie Kuhu; Agnes Montolalu; Yan Deivita; Claudya Wohos
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.6299

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus Gestasional (DMG) merupakan komplikasi kehamilan dengan prevalensi yang terus meningkat dan berisiko memicu komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang bagi ibu dan janin. Di wilayah pedesaan dengan keterbatasan fasilitas seperti Desa Likupang Satu, bidan memiliki peran krusial sebagai garda terdepan, namun kapasitas mereka dalam manajemen DMG masih terbatas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran dan kapasitas bidan serta kader kesehatan dalam deteksi dini, edukasi, dan pengelolaan DMG berbasis komunitas. Kegiatan ini dilaksanakan pada 21 Oktober 2025 dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 4 bidan desa, 9 kader kesehatan, dan 8 ibu hamil. Metode intervensi meliputi edukasi konsep DMG, pendampingan teknis skrining (pemeriksaan glukosa darah sewaktu), serta pelatihan gerakan prenatal yoga. Evaluasi keberhasilan diukur melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner terstruktur serta observasi klinis. Terdapat peningkatan signifikan pada pengetahuan rata-rata peserta setelah intervensi; skor bidan meningkat dari 62,5 (Cukup) menjadi 87,5 (Baik), sedangkan kader meningkat dari 58,9 (Kurang) menjadi 82,2 (Baik). Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan 75% ibu hamil memiliki kadar gula darah normal, namun ditemukan 25% (2 orang) dengan kadar glukosa darah ≥ 140 mg/dL yang memerlukan pemantauan intensif. Bidan dan kader juga berhasil mempraktikkan keterampilan skrining dan memandu prenatal yoga. Penguatan kapasitas melalui edukasi, pendampingan praktis, dan intervensi aktivitas fisik efektif mengoptimalkan peran profesional bidan dan kader dalam deteksi dini serta pencegahan komplikasi DMG di tingkat komunitas.  Kata Kunci: Bidan, Diabetes Melitus Gestasional, Kader Kesehatan, Likupang Satu, Prenatal Yoga.  ABSTRACT Gestational Diabetes Mellitus (GDM) is a pregnancy complication with a rising prevalence that poses both short- and long-term health risks for mothers and fetuses. In rural areas with limited access to healthcare facilities, such as Likupang Satu Village, midwives serve as critical frontline providers, yet their capacity in managing GDM remains constrained. This community service program aimed to optimize the role and capacity of midwives and health volunteers in early detection, education, and community-based management of GDM. The program was conducted on October 21, 2025, utilizing a participatory approach involving 4 village midwives, 9 health volunteers, and 8 pregnant women. Intervention methods consisted of educational sessions on GDM concepts, technical mentoring for early screening (random blood glucose testing), and practical training for prenatal yoga exercises. Program outcomes were evaluated using structured pre- and post-test questionnaires and direct clinical observations. There was a significant improvement in the participants' average knowledge scores after the intervention; midwives' scores increased from 62.5 (Fair) to 87.5 (Good), while health volunteers' scores rose from 58.9 (Poor) to 82.2 (Good). Health screening results indicated that 75% of pregnant women had normal blood glucose levels, whereas 25% (2 women) exhibited blood glucose levels ≥ 140 mg/dL, requiring closer follow-up monitoring. Midwives and volunteers also successfully demonstrated proficiency in performing health screenings and guiding prenatal yoga. Capacity building through structured education, hands-on mentoring, and physical activity interventions is an effective strategy to optimize the professional roles of midwives and health volunteers in early detection and prevention of GDM complications at the community level.  Keywords: Midwives, Gestational Diabetes Mellitus, Health Volunteers, Likupang Satu, Prenatal Yoga.