Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mencari Makna Terbaik Pandemi Bagi Hidup Manusia, Melalui Filsafat Eksistensial Soren A. Kierkergaard Hendro Setiawan
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 1 No. 1 (2021): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.352 KB) | DOI: 10.55076/rerum.v1i1.2

Abstract

Lebih dari setahun pandemi Covid 19 telah melanda dunia. Lebih dari 100 juta orang telah terpapar dan lebih dari dua juta orang meninggal dunia diseluruh dunia. Angka-angka ini masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Selain bencana kesehatan, pandemi Covid 19 telah memicu bencana multidimensi global terbesar dalam satu abad terakhir. Selain dampak kesehatan, pandemi telah memicu dampak ekonomi, psikologi, sosial, pendidikan, dst. Dimulainya program vaksinasi, walau masih terbatas dan belum merata, telah memberikan harapan baru bagi masyarakat dunia untuk keluar dari krisis ini. Ditengah situasi ini, sebuah studi tentang: bagaimana seharusnya manusia memaknai pandemi ini adalah perlu dan mendesak. Pemaknaan atas suatu situasi, menentukan cara manusia bereaksi terhadapnya. Pemaknaan yang baik, membawa manusia pada tindakan positif yang membaharui. Sebaliknya, pemaknaan yang buruk berdampak destruktif bagi kehidupan. Faktanya walaupun pandemi telah berlangsung lama, penolakan terhadap keberadaannya masih berlangsung di banyak negara. Demonstrasi dan kerusuhan menyikapi penanganan pandemi terjadi dimana-mana, bahkan juga di negara-negara yang memiliki tingkat ekonomi dan kebahagiaan tinggi. Ini membuktikan bahwa pemaknaan atas pandemi yang tepat, masih sangat dibutuhkan. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, digunakan pendekatan filsafat eksistensial pemikiran S. A. Kierkergaard sebagai landasan pemikiran. Penelitian dilakukan lewat metode studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibalik dampak buruk yang ditimbulkannya, pandemi Covid 19 juga mengajarkan kearifan-kearifan baru yang dibutuhkan bagi perbaikan dunia di masa depan. Kemampuan manusia untuk mampu melewati dan menangkap pelajaran berharga dari pandemi, ternyata sangat dipengaruhi oleh sikapnya dalam memaknai pandemi. Sikap religius, dalam pengertian filsafat eksistensial Kierkegaard, adalah sikap terbaik untuk memaknai pandemi ini.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI) dan Agama dalam Kehidupan Manusia Hendro Setiawan; Yosep Irawan
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46974/ms.v6i2.167

Abstract

The development of artificial intelligence (AI) has significantly transformed many aspects of human life, including religion. This study aims to examine the impact of AI on religion and to identify the limits of AI’s influence on human life. Using a qualitative library research method, this study analyzes relevant literature on artificial intelligence, digital technology, and religion through content analysis and a comparative approach. The findings indicate that AI possesses advanced cognitive and technical capabilities and can surpass human performance in various intellectual tasks. However, AI lacks faith, moral awareness, and spiritual experience. Therefore, AI cannot replace the essence of religion, which is rooted in the human relationship with the Transcendent and the search for meaning beyond empirical reality. This study concludes that religion remains essential as a moral foundation and a source of meaning in the technological era.