Abstraksi: Manusia dengan akalnya adalah penentu dalam perkembangan kehidupan setelah adanya patokan-patokan Nash. Tetapi patokan ini terutama yang diberikan Al-Quran masih bersifat global, hal ini bertujuan untuk memberikan kekuasaan bagi manusia menyesuaikan dengan realitas keadaan dan zaman yang terus berubah. Keteladanan ulama-ulama terdahulu seperti imam Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, Malik bin Anas, Muhammad Al-Syafi’ie, Al-Makmun, Abu Yusuf Al-Kindi, Abu Nasr Muhammad Al-Farabi, Abu Ali Husein Ibnu Sina, Al-Ghazali dan lainnya, mencerminkan pemikiran yang senantiasa membumi berdasarkan pemikiran yang berpijak kepada Al-Quran, Al-Hadits, dan konsensus para sahabat pilihan yang kemudian berkembang pesat sehingga melahirkan pemikiran yang bercorak Bayani, Irfani, dan pemikiran Burhani, yang merupakan kunci keberhasilan dan kecemerlangan pemikiran dan peradaban Islam pada zamannya. Sebagaimana pernah dicontohkan pada masa Golden Age of Science In Islam antara tahun 650 M sampai tahun 1300M. Tonggak dan kunci dari maraknya pemikiran dan peradaban Islam adalah tradisi kebebasan berfikir dan independensi ulama dari ranah politik. Ulama menurut Ibnu Khaldun adalah sosok yang mampu melakukan analisis dan menangkap makna-makna yang tersirat, baik dalam ranah social maupun teks keagamaan. Dalam sejarah peradaban dan pemikiran Islam telah membuktikan lahirnya peradaban yang sangat Adiluhung dan membawa pencerahan yang dapat dirasakan masyarakat di seantero dunia, buah dari itu semua, pemikiran islam telah menjadi gerbang pencerahan bagi Eropa dan Barat serta melahirkan ulama-ulama, para cendekiawan modern seperti, Jamaluddin Al-Afgani, Moh. Abduh, Rasyid Ridho, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthb, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Moh. Iqbal, Thaha Husain dan lainnya.