Muhammad Afdillah
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Contextualizing Kymlicka’s Multicultural Citizenship in Surabaya Afdillah, Muhammad
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 2 No 1 (2012): March
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.409 KB)

Abstract

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki daya tarik yang luar biasa dalam proses urbanisasi, yang secara tidak langsung telah menanamkan benih-benih keragaman di kota ini. Warga kota Surabaya adalah penduduk yang egaliter dan terbuka. Selain penduduk asli yang biasa disebut arek soerabaya, ada juga penduduk pendatang yang berasal dari Madura, Arab, Cina, Ambon, Bugis, dan Melayu. Kelompok-kelompok ini hidup berdampingan secara damai di Surabaya. Artikel ini berangkat dari riset yang penulis lakukan melalui wawancara dengan penduduk lokal, kaum migran, politisi dan intelektual. Riset tersebut bermuara pada pertanyaan bagaimana para pendatang bisa bertahan hidup di Surabaya dalam nuansa keragaman dan keberagaman; serta bagaimana mereka melihat program-program pemerintah seputar multikulturalisme. Dengan merujuk pada konsep multicultural citizenship dari Kymlicka, artikel ini menunjukkan bahwa meski terkesan “damai,” terdapat resistensi antara penduduk lokal dan migran khususnya yang berkaitan dengan politik dan ekonomi. Sebagian kelompok mayoritas, penduduk lokal termarjinalkan dalam urusan politik dan ekonomi akibat kalah bersaing dengan penduduk migran yang ada di Surabaya. Hal ini semakin diperparah dengan program festival multikulturalisme pemerintah Surabaya yang terkesan seremonial tahunan tanpa melibatkan penduduk lokal.
Contextualizing Kymlicka’s Multicultural Citizenship in Surabaya Muhammad Afdillah
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 2 No. 1 (2012): March
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.409 KB)

Abstract

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki daya tarik yang luar biasa dalam proses urbanisasi, yang secara tidak langsung telah menanamkan benih-benih keragaman di kota ini. Warga kota Surabaya adalah penduduk yang egaliter dan terbuka. Selain penduduk asli yang biasa disebut arek soerabaya, ada juga penduduk pendatang yang berasal dari Madura, Arab, Cina, Ambon, Bugis, dan Melayu. Kelompok-kelompok ini hidup berdampingan secara damai di Surabaya. Artikel ini berangkat dari riset yang penulis lakukan melalui wawancara dengan penduduk lokal, kaum migran, politisi dan intelektual. Riset tersebut bermuara pada pertanyaan bagaimana para pendatang bisa bertahan hidup di Surabaya dalam nuansa keragaman dan keberagaman; serta bagaimana mereka melihat program-program pemerintah seputar multikulturalisme. Dengan merujuk pada konsep multicultural citizenship dari Kymlicka, artikel ini menunjukkan bahwa meski terkesan “damai,” terdapat resistensi antara penduduk lokal dan migran khususnya yang berkaitan dengan politik dan ekonomi. Sebagian kelompok mayoritas, penduduk lokal termarjinalkan dalam urusan politik dan ekonomi akibat kalah bersaing dengan penduduk migran yang ada di Surabaya. Hal ini semakin diperparah dengan program festival multikulturalisme pemerintah Surabaya yang terkesan seremonial tahunan tanpa melibatkan penduduk lokal.
Teologi Ibrahim dalam Perspektif Agama Yahudi, Kristen, dan Islam Muhammad Afdillah
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v14i1.363

Abstract

This paper is intended to examine the theology of Abraham who is the father of Judaism, Christianity, and Islam. The three religions have debated on several issues and fought in several battles. The one way is to break the wall that stood around them to know the origin of the three religions. Here, Ibrahim is a single actor as a way to answer the similarities and differences of the three religions. The story of Ibrahim still inspires the believer of all three faiths to become good Jews, Christians, and Muslims. Because the Abrahamic ethic is to maintain the pure monotheism, that there is no god except Allah, without any interruption and intervention of paganism and polytheism. Generally, this research is based on the history of mankind, and focuses on the study of the Bible and the Holy Qur’an. Through this research, the writer found few differences and similarities in the Bible and the Qur’an about the life of Abraham. Firstly, that Abraham will be the patriarch of the nations and the major religions. Secondly, Abraham is spiritual journey which an inspiration for Jews, Christians, and Muslims in performing their religious rituals. Then, the writer also found that the theological concept built by Abraham is monotheistic (tawh}i>d) and totally (ka>ffah) self-surrendering (aslama) totally to the Almighty God; rejecting all forms paganism and polytheism.
Al-Mutawakkil's Edict on Christianity and Its Relation to Christian-Muslim Encounters: A Historical Analysis Muhammad Afdillah
Islamica: Jurnal Studi Keislaman Vol. 16 No. 2 (2022): March
Publisher : Postgraduate Studies of Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/islamica.2022.16.2.222-245

Abstract

This article examines the Christian-Muslim relations in the third/ninth century through the al-Mutawakkil’s edict on Christianity issued in 235/850. Historically, al-Mutawakkil’s rule in 232-247/847-861 was marked by three significant events: the ending of the Inquisition in 234/849, the declaration of an edict against Christianity in 235/850, and the lifting of the tomb of Imam Ḥusayn b. Abī Ṭālib in 236/851. Particularly, the second event highlighted the complex relations between Christians and Muslims in early Islam, and accordingly raised such a question as why the Caliph al-Mutawakkil only targeted Christians in his edict even though Muslims had encountered many religious groups (ahl al-dhimmah). Examining the classical and modern resources of Islamic history on this account, this article traces theological, social, and political factors in the Christian-Muslim encounters surrounding al-Mutawakkil’s edict. Even though al-Mutawakkil failed to fully implement the edict on Christians, he demonstrated that he was a tactician ruler who could win over his Muslim subjects and control non-Muslim citizens, bureaucrats, and soldiers.