Suryani Yuliyanti
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Gambaran Pelaksanaan Pelayanan BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Semarang Suryani Yuliyanti; Ratnawati Ratnawati
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.931 KB) | DOI: 10.22146/jkki.v5i1.36079

Abstract

Latar Belakang: Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh pemerintah merupakan amanat UU Nomor 40 tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, pada tahun 2011 terbit UU Nomor 24 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selanjutnya BPJS merupakan badan penyelenggara program JKN yang mulai dilaksanakan sejak Januari 2014. Dalam peraturan BPJS fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan. Pelayanan FKTP seharusnya mengutamakan Preventif dan Promotif tanpa melupakan kuratif dan rehabilitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan layanan BPJS di Fasilitas kesehatan tingkat 1. Metode: Penelitian deskriptif terhadap cakupan dan pemanfaatan layanan yang tersedia di fasilitas kesehatan tingkat 1. Pengumpulan data selama bulan Januari 2015 dilakukan dengan observasi dan wawancara pada 100 pasien dan 20 dokter di fasilitas kesehatan tingkat 1. Hasil: Data yang diperoleh dari FKTP, dokter menyatakan bahwa rata – rata kunjungan pasien 10-50 orang perhari, cakupan layanan yang diberikan memenuhi aturan BPJS yaitu meliputi pemberian layanan pengobatan, preventif, promotif dan rehabilitatif. Pelayanan yang masih kurang optimal diantaranya masih terdapat 5 Faskes yang belum memberikan layanan imunisasi, layanan KB belum mencakup MKJP, dan pelayanan home care yang tidak dilaksanakan secara maksinal. Kendala yang dirasakan sulitnya prosedur layanan BPJS akibat sosialisasi yang kurang bagi pasien dan Faskes menimbulkan kesalahpahaman baik antara pasien dengan Faskes maupun antara FKTP dengan Faskes tingkat 2. Pasien mengeluh obat yang diperoleh berbeda merk, pelayanan yang kurang memuaskan, Meski demikian 100% persen responden dokter dan Pasien menyatakan bahwa BPJS bermanfaat, yaitu biaya kesehatan menjadi lebih murah. Penyakit kronis menjadi lebih terkontrol, kompetensi dokter lebih meningkat dengan adanya program pelatihan yang dilaksanakan oleh BPJS, adanya rujukan balik sebagai proses evaluasi layanan yang diberikan FKTP. Sehingga berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan BPJS di Semarang sesuai ketentuan dan memberikan manfaat baik bagi pasien maupun bagi dokter meskipun masih perlu perbaikan pada program preventive dan promotif. Background. Implementation of the National Health Insurance program (JKN) by the government is mandated by Law No. 40 of 2004 on National Social Security System. In 2011 the government published Law No. 24 about the Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) hereinafter BPJS. BPJS is an organization who implement the JKN program that started since January 2014. BPJS at primary health facilities is an important component of health care that should give priority to preventive and promotive without forgetting curative and rehabilitative. This study aims to describe the implementation BPJS services at primary health facilities. Method. Descriptive study on the coverage and utilization of primary health facility service. Data collection at January 2015 is done by observation and interviews on 100 patients and 20 doctors at the primary health facility. Results. Data obtained from primary health facility, average of patient visits is 10-50 people per day, the availability of services is accordance with the BPJS rule, but need improvement on immunization, family planning and home care service. Obstacles of BPJS program is the lack of procedure and rule information, that cause misunderstandings between patients and doctor. Patient complain that they receive difference medicine, and the bad service when they use BPJS. Nevertheless physician and patient agree that BPJS make the health costing affordable, especially in chronical diseases. It increases medical personnel competencies through training program from BPJS and patient referral system. So the conclusion is implementation of health program from BPJS in Semarang is accordance with the rule, and give many benefits in health service. However it needs improvement in preventive and promotive service. 
The Implementation of Integrated Antenatal Care In BEmNOC and non-BEmNOC Health Service In Semarang Suryani Yuliyanti; Putri Vinorica; Ratnawati Ratnawati
JURNAL KEBIDANAN Vol 11, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkb.v11i1.6404

Abstract

The maternal mortality rate in Central Java is ranked 4th in Indonesia. Implementation of quality Antenatal Care (ANC) can reduce maternal mortality (MMR) through early detection in pregnancy. ANC services can be carried out both at BEmNOC (Basic Emergency Obstetric Care) and non-BEmNOC primary health care services (PHC). All PHC are given the same authority in terms of early detection and services for pregnant women. This study aims to determine the relationship of the health centers status and the implementation of integrated antenatal care in the Semarang municipality. This was a cross sectional design carried out on 140 samples taken by consecutive sampling divided into primary health care services BEmNOC and non-BEmNOC 70 samples each. The implementation of integrated ANC was measured using 50 checklists consisting of 13, 12 and 25 checklist of first, second and third trimester sequentially and divided in two value namely do and not do. The relationship between the health center status and the implementation of the integrated ANC was further analyzed by Chi-square test using SPSS 22 software. The study found that the number of samples implementing an integrated ANC in the BEmNOC PHC group was 81.4% (57 samples) while the non-BEmNOC PHC group was 32.9% (23 samples). Chi-square test showed a significant difference between the status of the PHC and the implementation of the ANC (p = 0,000; PR value = 2.47). It was concluded that there was a significant correlation between the health center status and the implementation of ANC in Semarang municipality.
Analysis on Management of Strategic Plan of Sultan Agung Islamic Hospital through Balanced Scorecard Approach Suryani Yuliyanti; J. Sugiarto; Septo Pawelas Arso
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.13 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.3.2015.%p

Abstract

ABSTRAKBalanced scorecard merupakan contemporary management tool yang dapat pula digunakan sebagai rerangka penyusunan rencana strategis dan sebagai alat untuk memperbaiki aliran informasi dan komunikasi antara top eksekutif dengan manajemen menengah dalam perusahaan. Sejak tahun 2005 RSI Sultan Agung telah melaksanakan perencanaan strategi dengan pendekatan balanced scorecard, Data dari penelitian pendahuluan didapatkan pada pelaksanaan rencana strategis tersebut didapatkan kesulitan dalam internalisasi, dan sosialisasi visi dalam rumah sakit sehingga menjadi visi bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen strategis di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang dengan pendekatan Balance Scorecard. Penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat eksploratif. Obyek yang diteliti meliputi visi, value, misi, tujuan, sasaran strategis, strategic map, dan keselarasan antara masing – masing variabel. Selanjutnya dibuat alternatif rumusan visi, value, misi, tujuan dan sasaran strategis yang baru. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi dokumentasi, wawancara mendalam dan FGD kepada subyek penelitian  yang terdiri berjumlah 19 orang Hasil penelitian, Visi dan misi di rumah sakit telah mengalami perubahan menjadi lebih singkat, padat dan mudah dipahami, value masih dalam proses implementasi, untuk tujuan dan sasaran kalimat masih terlalu panjang dan kurang fokus dan hanya sebagian sesuai visi sehingga sulit untuk dikomunikasikan,strategic mapping hubungan kurang logis, cascading belum dilakukan. Disimpulkan RSI Sultan Agung kurang baik dalam melaksanakan manajemen strategis berdasarkan pendekatan balanced scorecard.Kata kunci :, Rumah sakit. manajemen strategis, balanced scorecardABSTRACTBalanced scorecard was a contemporary management tool that can be used as a frame of strategic plan development and as a tool for improving information flow and communication between top executive and middle management in the company. Since 2005, Sultan Agung Islamic hospital (RSI) have implemented strategic plan with balanced scorecard approach. Data obtained from preliminary studies showed that problems during internalization and socialization of vision of the hospital to become a group vision were found in the implementation of the strategic plan. Objective of this study was to analyze strategic management in Sultan Agung Islamic hospital Semarang using balanced scorecard approach.This was an explorative descriptive-qualitative study. Objects of the study included vision, value,mission, purpose, strategic target, strategic map, and harmony among variables. Alternative formulation of vision, value, mission, purpose, and new strategic target were made. Data were collected by conducting observation, documentation study, in-depth interview, and FGD to 19 study subjects. Results of the study showed that vision and mission of the hospital has changed to be shorter, more compact, and easier to understand. Value was still implemented. Sentences in the purpose and target were still too long and not focused; only part of purpose and target that were in line with the vision, consequently, it was difficult to be communicated. Illogical relation was found in the strategic mapping, and cascading had not been implemented. In conclusion, Sultan Agung Islamic hospital is not good in implementing strategic management based on balanced scorecard approach.Keywords : hospital, strategic management, balanced scorecard
Hubungan Tingkat Pencapaian Indikator Kapitasi Berbasis Kompetensi (KBK) Dengan Kepuasan Pasien Khujaefah Khujaefah; Ratnawati Ratnawati; Suryani Yuliyanti
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 23 No 3 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v23i3.3214

Abstract

Patient satisfaction is one of the health service quality indicators. The national health insurance, the quality in First Level Health Facilities (FKTP) is translated to Competence-Based Capitation indicators. This study aims to elaborate on the correlation between CBC Indicators and Patient Satisfaction at FKTP in Semarang City. A cross-sectional design with observational study was conducted from July to August 2019. According to CBC Data, indicators achievement involving Contact Rate (AK), Non-Specialist Referral Rate (RRnS), and Ratio of Chronic Disease Management Program Attendees (RPPB) were obtained from First Level Health Facility collaborated with Social Health Insurance Administration Body (BPJSK), (consisting of 2 Health Centers, 2 Physician Practices, and 2 Primary Clinics). Furthermore, Patients Satisfaction Data were gathered from 60 respondents, where every ten patients for each FKTP use questionnaire had validation test. Satisfaction Scale uses LIKERT with range 1 for very dissatisfi ed until 5 for very satisfi ed. The Mean of patient satisfaction toward health services at FKTP in Semarang City was Quite Satisfi ed (3,74), satisfaction dimensions lowest were tangible and assurance. The Spearman test results showed that AK was 0.038(p<0,05), RRnS was 0,651(p>0,05), and RPPB was 0,939(p>0,05). It concluded a correlation between the AK indicator and patient satisfaction, whereas RRnS and RPPB indicators were not correlated with patient satisfaction at FKTP in Semarang City. Attempts to increase the contact rate through a healthy contact are needed to improve the FKTPs CBC target achievement. Abstrak Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan kesehatan. Pada era jaminan kesehatannasional, kualitas pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dinyatakan dalam indikator Kapitasi Berbasis Kompetensi (KBK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pencapaian indikator KBK dengan kepuasan pasien di FKTP di Kota Semarang. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada bulan Juli sampai Agustus 2019. Data capaian KBK yang terdiri dari Angka Kontak(AK), Rasio Rujukan non Spesialistik (RRnS) dan Rasio Peserta Prolanis Berkunjung (RPPB) diperoleh dari FKTP mitra BPJS yang terdiri dari 2 Puskesmas, 2 Dokter praktik mandiri, dan 2 klinik pratama. Data kepuasan pasien diperoleh dari 60 responden (masing-masing 10 pasien dari setiap FKTP) menggunakan kuesioner yang sudah di uji validitasnya. Skala kepuasan menggunakan skala LIKERT dengan nilai antara 1 untuk sangat tidak puas sampai 5 untuk sangat puas. Rerata kepuasan pasien terhadap pelayanan di FKTP di Kota Semarang adalah cukup puas (3,74), aspek kepuasan terendah terletak pada dimensi tangible dan assurance. Berdasarkan uji korelasi Spearman didapatkan nilai p<0,05 (0,038) untuk angka kontak (AK), p>0,05 (0,651) untuk RRNS dan p>0,05 untuk (0,939) RPPB. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pencapaian indikator KBK pada indikator AK dengan kepuasan pasien di FKTP di Kota Semarang, sedangkan untuk indikator lain tidak berhubungan. Upaya peningkatan kontak sehat diperlukan untuk memperbaiki capaian target KBK di FKTP.
Pengaruh Implementasi Rujukan Berjenjang terhadap Skor Faktor Risiko Ibu Bersalin Renata Ndaru Kusuma; Suryani Yuliyanti; Ratnawati Ratnawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1915

Abstract

Rujukan pelayanan kesehatan merupakan faktor yang dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Namun, banyaknya fasilitas kesehatan yang memiliki angka rujukan yang tinggi, menunjukkan bahwa sistem rujukan belum berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi rujukan berjenjang terhadap faktor risiko ibu bersalin di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dilakukan pada 754 ibu bersalin yang dirawat di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang (RSISA). Penelitian ini menggunakan data rekam medis dan Kartu Skor Poedji Rochjati. Data penelitian diuji menggunakan Uji Non parametrik Mann-Whitney. Terdapat 596 ibu bersalin sebelum dan 158 ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang dengan rerata skor Poedji Rochjati masing-masing adalah 12,61 dan 12,24. Terdapat perbedaan skor faktor risiko ibu bersalin sebelum dan sesudah implementasi rujukan berjenjang (P-value = 0,01). Kebijakan rujukan berjenjang efektif dalam menyeleksi kasus persalinan dengan risiko tinggi di rumah sakit tersier yang terlihat dari peningkatan rerata skor Poedji Rochjati bagi ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang di RSISA (12,24 vs. 14,00). Evaluasi lebih lanjut terkait skor risiko pasien di Rumah sakit tersier dan sekunder diperlukan sebagai salah satu indikator efektifitas rujukan berjenjang.
The Maternal Risk Factors Analysis Based on The Type of Refferal Senders Suryani Yuliyanti; Fitri Rahmawati; Ratnawati Ratnawati
JURNAL KEBIDANAN Vol 13, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkb.v13i1.8430

Abstract

The obstetric emergency referral system is intended to handle pregnancy emergencies quickly, precisely, efficiently, and effectively by the capabilities and authorities of health care facilities. This condition is reflected by sending referrals following the established risk factor diagnosis. The purpose of this study was to determine the differences in maternal risk factors based on the type of referral sender’s health facility. A cross-sectional study was conducted in 2018-2019 taking 113 cases of referral deliveries at the Sultan Agung Islamic Hospital in Semarang. Referral senders are divided into three groups consisting of 1) private practice midwives, 2) primary health care, primary health clinics, general practitioner, type D hospitals, and 3) type C hospitals. The risk factors of pregnancy are divided into three categories such as low, high, and very high-risk pregnancies. Very high-risk pregnancy was the most dominant finding in each referral sending health facility. The very high-risk pregnancy rate that comes from private practice midwives is 62.5%; from the primary health centers, type D hospitals, clinics, and general practitioner is 57.9%, and 92.9% came from type C hospitals. Based on the fisher’s exact test, there is no difference in maternal risk factors based on the sender’s referral (p-value of 0.187). It is necessary to review and harmonize tiered referral regulations with regional health regulations, so that the referral system can be implemented effectively and efficiently.
Pengaruh Implementasi Rujukan Berjenjang terhadap Skor Faktor Risiko Ibu Bersalin Renata Ndaru Kusuma; Suryani Yuliyanti; Ratnawati Ratnawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 02 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v12i02.1915

Abstract

Rujukan pelayanan kesehatan merupakan faktor yang dapat menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Namun, banyaknya fasilitas kesehatan yang memiliki angka rujukan yang tinggi, menunjukkan bahwa sistem rujukan belum berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi rujukan berjenjang terhadap faktor risiko ibu bersalin di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dilakukan pada 754 ibu bersalin yang dirawat di Poli Obgyn Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang (RSISA). Penelitian ini menggunakan data rekam medis dan Kartu Skor Poedji Rochjati. Data penelitian diuji menggunakan Uji Non parametrik Mann-Whitney. Terdapat 596 ibu bersalin sebelum dan 158 ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang dengan rerata skor Poedji Rochjati masing-masing adalah 12,61 dan 12,24. Terdapat perbedaan skor faktor risiko ibu bersalin sebelum dan sesudah implementasi rujukan berjenjang (P-value = 0,01). Kebijakan rujukan berjenjang efektif dalam menyeleksi kasus persalinan dengan risiko tinggi di rumah sakit tersier yang terlihat dari peningkatan rerata skor Poedji Rochjati bagi ibu bersalin setelah implementasi rujukan berjenjang di RSISA (12,24 vs. 14,00). Evaluasi lebih lanjut terkait skor risiko pasien di Rumah sakit tersier dan sekunder diperlukan sebagai salah satu indikator efektifitas rujukan berjenjang.