Rohikal Maktum
PGSD, FKIP, Universitas Mataram, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

INTERAKSI SOSIAL ANAK TUNARUNGU DI LINGKUNGAN MASYARAKAT An Umillah Maziidah Putri; Rohikal Maktum; Sri Wahyuningsih; Syukron Zul Ramdan
Renjana Pendidikan Dasar Vol 3 No 1 (2023): Edisi Februari 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok. Dalam berinteraksi sosial, semua anak memiliki haknya masing-masing. Anak yang berkebutuhan khusus sekalipun berhak berinteraksi sosial. Interaksi sosial anak berkebutuhan khusus merupakan hubungan timbal balik antara individu yang mengalami kelainan dari segi perkembangan, fisik, emosi, mental dan intelektual dengan jenis yang sama. Interaksi sosial tersebut, dapat terjadi juga dengan jenis yang berbeda dan anak normal pada umumnya. Interaksi sosial anak berkebutuhan khusus dapat terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Dalam lingkungan sekolah, anak berkebutuhan khusus terkadang mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial. Akan tetapi, ada beberapa anak berkebutuhun khusus yang mampu berinteraksi sosial di lingkungan sekolah. Hal tersebut terjadi, karena telah terbiasa dengan lingkungan rumahnya. Kemudian di lingkungan masyarakat anak berkebutuhan khusus dalam berinteraksi sosial juga mengalami hambatan. Metode yang digunakan dalam penelitian “Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus” yaitu menggunakan kajian pustaka secara deskriptif. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa, anak down syndrome sudah mampu berinteraksi dengan temannya. Selanjutnya, anak autis masih kurang mampu dalam melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, mampu berinteraksi dengan orang terdekatnya. Kemudian, anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. di lingkungan masyarakat anak berkebutuhan khusus dalam berinteraksi sosial juga mengalami hambatan. Metode yang digunakan dalam penelitian “Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus” yaitu menggunakan kajian pustaka secara deskriptif. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa, anak down syndrome sudah mampu berinteraksi dengan temannya. Selanjutnya, anak autis masih kurang mampu dalam melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, mampu berinteraksi dengan orang terdekatnya. Kemudian, anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. di lingkungan masyarakat anak berkebutuhan khusus dalam berinteraksi sosial juga mengalami hambatan. Metode yang digunakan dalam penelitian “Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus” yaitu menggunakan kajian pustaka secara deskriptif. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa, anak down syndrome sudah mampu berinteraksi dengan temannya. Selanjutnya, anak autis masih kurang mampu dalam melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, mampu berinteraksi dengan orang terdekatnya. Kemudian, anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian “Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus” yaitu menggunakan kajian pustaka secara deskriptif. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa, anak down syndrome sudah mampu berinteraksi dengan temannya. Selanjutnya, anak autis masih kurang mampu dalam melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, mampu berinteraksi dengan orang terdekatnya. Kemudian, anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian “Interaksi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus” yaitu menggunakan kajian pustaka secara deskriptif. Hasil dari penelitian menujukkan bahwa, anak down syndrome sudah mampu berinteraksi dengan temannya. Selanjutnya, anak autis masih kurang mampu dalam melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, mampu berinteraksi dengan orang terdekatnya. Kemudian, anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah. anak tunarungu mampu berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Terakhir, anak tunagrahita ringan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan teman sebayanya di sekolah.