Hajjah Sri Rahayu Nurjanah binti Haji Dollah
Universiti Islam Sultan Sharif Ali

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Munculnya Militan Buddhis di Myanmar dan Sri Lanka Madiyono Madiyono; Hajjah Sri Rahayu Nurjanah binti Haji Dollah
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v3i1.24386

Abstract

Selama lebih dari 2500  tahun, agama Buddha dikenal sebagai agama tanpa kekerasan. Namun fenomena di era modern, di Myanmar dan Sri Lanka muncul gerakan nasionalisme yang menonjolkan identitas perbedaan etnis dan agama (etno-religious). Gerakan itu telah meningkatkan konflik yang mengakibatkan diskriminasi dan tindakan kekerasan terhadap etnis minoritas. Dalam artikel ini dibahas mengenai fenomena munculnya gerakan militan Buddhis di Myanmar dan Sri Lanka. Metode yang digunakan dalam kajian adalah library research dengan mendeskripsikan dengan medalam dan juga disertai analisis kritis. Data dikumpulkan dari berbagai sumber. Hasil analisis menyimpulkan bahwa gerakan militan di Myanmar dan Sri Lanka dipelopori oleh bhikkhu berhaluan keras, yang tidak mencerminkan sikap kelompok bhikkhu mayoritas namun memiliki pengaruh terhadap sebagian umat Buddha. Gerakan militan bernuansa etno-religious menyebarkan hasutan anti agama lain, terutama terhadap Islam (Islamofobia), yang dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi etnis mayoritas, agama Buddha, dan juga negara yang melindungi agama Buddha. Dampaknya adalah terjadi konflik yang menimbulkan diskriminasi, persekusi, dan tindakan kekerasan terhadap etnis minoritas. Gerakan etno-religious yang berkembang di Myanmar dan Sri Lanka bukanlah murni konflik agama namun lebih jelas bermotif ekonomi dan politik dengan menggunakan isu agama sebagai legitimasi gerakan. Hal tersebut dapat dilihat dari latar belakang dan sejarah konflik pada masa lalu dan juga dari sikap dan tindakan pelopor gerakan yang pernah dihukum karena menghasut untuk memboikot  bisnis muslim di negaranya. Agama dijadikan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dan kepentingan kelompok. Namun dampaknya dapat kontraproduktif: bukannya akan menjaga agama Buddha tetapi dapat sebaliknya yaitu  akan menurunkan citra agama Buddha sebagai agama yang mengajarkan anti kekerasan.