Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pelatihan Public Speaking Dasar Pada Pelajar SD Muhammadiyah 12 Yulia Rahmawati; Magvira Yuliani; Rifma Ghulam Dzaljad; Euis Heryati
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Media Kreatif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46961/jpk.v5i2.1983

Abstract

Abstrak: Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) merupakan kompetensi krusial abad ke-21 yang belum terakomodasi dengan baik dalam kurikulum formal sekolah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan dasar public speaking siswa di SD Muhammadiyah 12 Pamulang yang teridentifikasi memiliki kendala dalam keberanian tampil dan penyusunan struktur bicara. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan berbasis experiential learning yang mencakup teknik vokal, bahasa tubuh, dan struktur pidato, serta diakhiri dengan praktik langsung (mini showcase). Mitra kegiatan adalah sejumlah 31 siswa sekolah yang dibagi menjadi 10 kelompok praktik. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan performa saat showcase. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keberanian siswa, di mana seluruh kelompok mampu tampil di depan kelas. Manfaat yang dirasakan meliputi peningkatan rasa percaya diri (self-confidence), kerjasama tim yang solid, dan kemampuan menyusun ide sederhana menjadi cerita yang runut. Antusiasme siswa sangat tinggi baik sebagai pembicara maupun audiens. Kata Kunci: Public speaking; Kepercayaan diri; Pelajar SD; Komunikasi verbal; Pelatihan Abstract:  Public speaking skills are crucial 21st-century competencies that have not been well-accommodated in the formal school curriculum. This community service activity aims to increase self-confidence and basic public speaking skills of students at SD Muhammadiyah 12 Pamulang, who were identified as having constraints in the courage to appear and speech structure arrangement. The implementation method includes experiential learning-based training covering vocal techniques, body language, and speech structure, ending with direct practice (mini showcase). The activity partners were as much as 31 students divided into 10 practice groups. Evaluation was carried out through performance observation during the showcase. The results showed a significant increase in student courage, where all groups were able to perform in front of the class. The benefits felt included increased self-confidence, solid teamwork, and the ability to compile simple ideas into coherent stories. Student enthusiasm was very high both as speakers and audiences. Keywords: Public speaking; Self-confidence; Elementary school students; Verbal communication; Training.
Hubungan Motivasi Mahasiswa dan Komunikasi Interpersonal dalam Peningkatan Prestasi Magvira Yuliani
MUKASI: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 2 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/mukasi.v2i1.1317

Abstract

Motivation is one of the factors that can affect student academic achievement, it is an indicator of the quality and quantity of knowledge that has been mastered by students. The outcomes are influenced by several factors including the interpersonal communication of lecturers and the motivation possessed by students in studying. This study aims to determine the relationship between students’ motivation in the Faculty of Communication, University of Muhammadiyah, Prof. Dr. Hamka, and interpersonal communication in the learning process in class. The research method uses quantitative research using a questionnaire and descriptively analyzed using David McClelland's needs theory approach as the basis of the research. Research shows that interpersonal communication influences students’ learning processes, especially for students with affiliation motivation. Thus, by knowing students’ motivation during the learning process, lecturers can choose and use the appropriate type of communication so that optimization in the teaching and learning process can be achieved.
Transformasi Budaya Tutur di Era Digital: Negosiasi Identitas Pemuda Baduy Luar melalui Media Sosial Euis Heryati; Magvira Yuliani
Journal of Media and Communication | E-ISSN : 3063-9581 Vol. 3 No. 1 (2026): Juli - September
Publisher : GLOBAL SCIENTS PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital tidak hanya mengubah cara individu berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi cara komunitas adat mempertahankan, merepresentasikan, dan menegosiasikan identitas budaya. Masyarakat Baduy dikenal memiliki keterikatan kuat terhadap pikukuh karuhun dan praktik komunikasi berbasis tradisi lisan yang dalam penelitian ini disebut Budaya Tutur. Di tengah perkembangan teknologi digital, terutama media sosial, pemuda Baduy Luar mulai berinteraksi dengan ruang komunikasi yang melampaui batas geografis komunitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Budaya Tutur memperoleh bentuk baru dalam ruang digital dan bagaimana pemuda Baduy Luar menegosiasikan identitas budaya melalui media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilengkapi keterlibatan lapangan, observasi aktivitas sosial, wawancara semi-terstruktur, pengamatan terhadap materi media sosial yang dapat diakses secara publik, serta analisis dokumen sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital tidak serta-merta menghilangkan Budaya Tutur, tetapi memperluas ruang, aktor, bentuk, dan jangkauan komunikasi budaya. Pemuda Baduy Luar tampil sebagai narator budaya yang memproduksi representasi diri melalui simbol, pakaian, aktivitas, dan narasi mengenai kehidupan Baduy. Proses tersebut dapat dipahami sebagai transformasi menuju digital orality, yakni munculnya bentuk komunikasi digital yang mempertahankan unsur naratif, interaktif, dan performatif dari praktik oral. Pada saat yang sama, identitas budaya dinegosiasikan melalui seleksi penggunaan teknologi, reinterpretasi simbol budaya, dan performativitas di hadapan khalayak digital. Media sosial membuka peluang bagi agensi dan visibilitas budaya, tetapi juga menghadirkan risiko penyederhanaan dan komodifikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan budaya pada komunitas adat lebih tepat dipahami sebagai proses negosiasi komunikasi daripada pertentangan sederhana antara tradisi dan modernitas.