Muhammad Habiburrahman
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat, Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Indonesia, RSUD Tebet, Jakarta Selatan, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Autopsi Virtual (Virtopsy): Tinjauan Etik, Bioetika, Sosial, Budaya, Agama, dan Medikolegal Muhammad Habiburrahman; Aria Yudhistira
Jurnal Etika Kedokteran Indonesia Vol 5, No 1 (2021): VOL 5, NO 1 (2021)
Publisher : Majelis Kehormatan Etik Indonesia PBIDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26880/jeki.v5i1.52

Abstract

ABSTRAKPerkembangan ilmu forensik telah memunculkan gagasan metode autopsi virtual (Virtopsy) sebagai jawaban atas hambatan praktik autopsi konvensional yang invasif. Perspektif keilmuan forensik medis dan radiologi memandang bahwa melalui kombinasi modalitas radiologi utama Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dengan tambahan metode minimal invasif biopsi menunjukkan nilai sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang tinggi dalam pembuktian dan rekonstruksi sebab kematian. Meskipun demikian, masih sedikit literatur yang membahas tinjauan Virtopsy dari aspek etik, bioetika, medikolegal, sosial, budaya, dan agama. Melalui penelusuran pustaka secara daring dari empat database jurnal besar yang dilanjutkan dengan telaah keabsahan studi, maka diketahui bahwa secara etik, Virtopsy sebagai temuan baru memerlukan perhatian khusus pada kerahasiaan data digital yang dihasilkan. Selain itu profesionalisme tenaga medis yang berperan dan kerjasama multidisiplin terbentuk menjadi aspek etik yang baik dari Virtopsy. Adapun tinjauan bioetika, memandang Virtopsy melalui pertimbangan manfaat dan kerugiannya dalam praktik medikolegal. Dokter wajib memberikan informasi atas prosedur autopsi ini pada keluarga pasien termasuk pilihan alternatifnya. Kemudian, Virtopsy juga mampu menjawab tantangan penolakan pasien karena alasan sosial, budaya, dan agama sehingga jumlah pembuktian sebab kematian dapat meningkat. Namun sayangnya, Indonesia masih berhadapan pada dasar hukum yang belum kuat terkait penerapan Virtopsy dan keabsahan bukti yang diproduksi pada meja pengadilan. Dengan demikian dibutuhkan analisis komprehensif terkait potensi regulasi hukum yang jelas agar Virtopsy dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu kedokteran di masa depan.ABSTRACTThe development of forensic science has led to the idea of a virtual autopsy (Virtopsy) as an answer to the obstacles of conventional autopsy. Medical forensics and radiology view that through the combination of computed tomography (CT) and magnetic resonance imaging (MRI) modalities and minimally invasive biopsy, high sensitivity, specificity, and accuracy in proving and reconstructing the cause of death can be obtained without being invasive. Even so, there is still lack of literature that discusses virtopsy from the aspects of ethics, bioethics, medicolegal, social, culture, and religion. Through online literature searches from the four big journal databases and followed by a review of the validity of the study, it is known that ethically, virtopsy requires special attention to the confidentiality of the digital data generated. Also, the professionalism of medical personnel who play a role and multidisciplinary collaboration are important ethical basis. As for the bioethics review, looking at Virtopsy through consideration of its benefits and disadvantages in medicolegal practice, the doctor is obliged to provide information on this autopsy procedure to the patient’s family, including alternative options. Then, Virtopsy is also able to answer the challenge of patient rejection for social, cultural, and religious reasons so that the number of proofs for the cause of death can increase. Unfortunately, Indonesia is still faced with an inadequate legal basis regarding the application of Virtopsy and the validity of evidence produced in court. Thus, a comprehensive analysis is needed regarding the potential for clear legal regulation so that Virtopsy can be useful for the advancement of medical science in the future.
Manajemen Asma dalam Kehamilan: Apa yang Harus Dipahami oleh Dokter Umum Muhammad Habiburrahman; Muhammad Ilham D Rakasiwi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.657

Abstract

Eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat mempersulit proses persalinan dan berisiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dan ibu berisiko mengalami persalinan preterm, preeklampsia, dan sectio caessaria. Penyebab eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat akibat terapi kurang optimal selama kehamilan akibat kekhawatiran personal pasien dan dokter yang kurang didukung bukti terkait keamanan agen farmakologis asma dalam kehamilan, dan rendahnya kepatuhan pasien untuk kontrol rutin, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hingga kini, manajemen asma antenatal menjadi tugas besar dokter umum di layanan primer, dan dokter spesialis obstetrik dan ginekologi, serta dokter spesialis paru di layanan sekunder, sedangkan panduan khusus komprehensif asma dalam kehamilan di Indonesia masih terbatas. Telaah literatur ini bertujuan untuk memberikan pemahaman esensial perubahan klinis dan mekanisme yang berkontribusi terhadap tidak terkontrolnya asma selama kehamilan, pendekatan diagnosis komprehensif asma dalam kehamilan, dan menyediakan informasi obat-obatan yang aman untuk manajemen asma dalam kehamilan. Asthma exacerbations in pregnancy can complicate the delivery process and risk low birth weight in the baby, as well as preterm labor, preeclampsia, and a cesarean section in mothers. Asthma exacerbations during pregnancy can be caused by ineffective treatment due to patient and physician concerns about the safety of asthma medications during pregnancy that are not supported by reliable data, as well as poor patient compliance for routine control, particularly during the COVID-19 pandemic. Asthma management during antenatal care falls primarily on general practitioners in primary care, and obstetricians and gynecologists, and pulmonologists in secondary-level services. While specific guidelines in Indonesia are still limited, this review aims to present a fundamental understanding of clinical changes and mechanisms that contribute to the uncontrolled status of asthma during pregnancy, a comprehensive diagnostic approach to asthma in pregnancy, and provide a safety drug profile during pregnancy
Manajemen Asma dalam Kehamilan: Apa yang Harus Dipahami oleh Dokter Umum Muhammad Habiburrahman; Muhammad Ilham D Rakasiwi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v50i3.657

Abstract

Eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat mempersulit proses persalinan dan berisiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah dan ibu berisiko mengalami persalinan preterm, preeklampsia, dan sectio caessaria. Penyebab eksaserbasi asma dalam kehamilan dapat akibat terapi kurang optimal selama kehamilan akibat kekhawatiran personal pasien dan dokter yang kurang didukung bukti terkait keamanan agen farmakologis asma dalam kehamilan, dan rendahnya kepatuhan pasien untuk kontrol rutin, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hingga kini, manajemen asma antenatal menjadi tugas besar dokter umum di layanan primer, dan dokter spesialis obstetrik dan ginekologi, serta dokter spesialis paru di layanan sekunder, sedangkan panduan khusus komprehensif asma dalam kehamilan di Indonesia masih terbatas. Telaah literatur ini bertujuan untuk memberikan pemahaman esensial perubahan klinis dan mekanisme yang berkontribusi terhadap tidak terkontrolnya asma selama kehamilan, pendekatan diagnosis komprehensif asma dalam kehamilan, dan menyediakan informasi obat-obatan yang aman untuk manajemen asma dalam kehamilan. Asthma exacerbations in pregnancy can complicate the delivery process and risk low birth weight in the baby, as well as preterm labor, preeclampsia, and a cesarean section in mothers. Asthma exacerbations during pregnancy can be caused by ineffective treatment due to patient and physician concerns about the safety of asthma medications during pregnancy that are not supported by reliable data, as well as poor patient compliance for routine control, particularly during the COVID-19 pandemic. Asthma management during antenatal care falls primarily on general practitioners in primary care, and obstetricians and gynecologists, and pulmonologists in secondary-level services. While specific guidelines in Indonesia are still limited, this review aims to present a fundamental understanding of clinical changes and mechanisms that contribute to the uncontrolled status of asthma during pregnancy, a comprehensive diagnostic approach to asthma in pregnancy, and provide a safety drug profile during pregnancy