Claim Missing Document
Check
Articles

KIAT AYAH MENGHARMONISKAN HUBUNGAN DENGAN ANAK DI ERA DIGITAL Kosma Manurung
FILADELFIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Imauel Pacet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55772/filadelfia.v4i1.87

Abstract

The harmony of a true relationship is the dream of everyone, both those who are building relationships and those who are going to build relationships. Even fathers deep down crave a harmonious relationship with their children. Unfortunately, due to various reasons or actions that were born from a lack of understanding, the father and son's relationship was not harmonious. This article intends to offer tips that fathers can apply in harmonizing relationships with their children in the digital era. By using a qualitative narrative method and supported by literature review, it is hoped that it will be able to provide a careful and in-depth picture of narratives about the harmony of fathers and children in the Bible, the existence of children in the digital era, and father's tips in harmonizing relationships with their children. It was concluded that in order to harmonize the relationship with their children, fathers need to introduce harmony in their family, make their family an example of this harmony, make this a entrenched habit in the family, and the father becomes the main instrument in teaching and exemplifying harmony.Keharmonisan hubungan sejatinya menjadi dambaan setiap orang baik yang sedang membangun hubungan maupun yang akan membangun hubungan. Para ayah pun jauh di kedalaman hatinya mendambakan hubungan yang harmonis dengan anak-anaknya. Sayangnya karena berbagai alasan ataupun tindakan yang lahir dari kurangnya pemahaman menyebabkan hubungan ayah dan anaknya menjadi tidak harmonis. Artikel ini bermaksud menawarkan kiat yang bisa ayah terapkan dalam mengharmoniskan hubungan dengan anaknya di era digital. Dengan menggunakan metode kualitatif naratif dan dukungan kajian literatur diharapkan mampu memberikan gambaran yang cermat dan mendalam terkait narasi tentang keharmonisan ayah dan anak di Alkitab, keberadaan anak di era digital, serta kiat ayah dalam mengharmoniskan hubungan dengan anaknya. Disimpulkan bahwa untuk mengharmoniskan hubungan dengan anaknya maka para ayah perlu memperkenalkan keharmonisan di tengah keluarganya, menjadikan keluarganya contoh keharmonisan tersebut, menjadikan hal ini kebiasaan yang membudaya di keluarga, serta sang ayah menjadi istrumen utama dalam mengajarkan maupun mencontohkan keharmonisan.
Strategi Ayah dalam Membangun Budaya Santun Anak di Keluarga Kristiani Kosma Manurung; Sudirman
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2023): Pendidikan Agama Kristen 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v2i1.27

Abstract

Abstract: Polite children are highly desired, hoped for, also needed by parents, extended families, communities, and God's church. Good manners are important for children to have, apart from being a superior character associated with their social intelligence, they are also a surefire recipe for building and maintaining social relationships, and are very connected to the brightness of a child's future. This article is intended to examine the strategy of fathers in building cultural support for children in Christian families. The narrative qualitative method and literature review were chosen in working on this article with the hope of being able to get a strong, systematic meaning, and have an academic foundation when discussing biblical narratives about politeness, the importance of politeness for a child, and father's strategies in building a polite culture in children. It was concluded that a father will play an optimal role in building a culture of politeness in children when he makes himself the main channel of children's education, forbids it at the child's level of understanding and uses the child's love language, and makes himself the closest model of politeness that can be seen by children.Abstrak: Anak yang santun sangat diinginkan, diharapkan, juga dibutuhkan baik oleh orang tua, keluarga besar, komunitas masyarakat, maupun gereja Tuhan. Sopan santun penting anak-anak miliki selain karena itu merupakan karaker unggul yang terafiliasi dengan kecerdasan sosialnya juga merupakan resep jitu dalam membangun dan mempertahankan hubungan sosial, serta sangat berkaitan dengan kecerahan masa depan anak. Artikel ini bermaksud mencermati strategi ayah dalam membangun budaya santun pada anak di keluarga Kristiani. Metode kualitatif naratif dan kajian literatur dipilih dalam mengarap artikel ini dengan harapan mampu mendapatkan makna yang kuat, sistimatik, dan memiliki landasan akademik ketika membahas terkait narasi Alkitab tentang kesantunan, arti penting kesantunan bagi seorang anak, dan strategi ayah dalam membangun budaya santun pada anak. Disimpulkan bahwa seorang ayah akan berperan maksimal dalam membangun budaya santun pada anak ketika menjadikan dirinya saluran utama dari pendidikan anak, mengajarkannya pada tingkat pemahaman anak dan menggunakan bahasa cinta anak, serta menjadikan dirinya role model kesantunan yang paling dekat yang bisa di lihat oleh anak.
Rekonstruksi Karya Pneumatologis dalam Bingkai Aktivisme Sosial Pentakostal di Indonesia Kosma Manurung
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.788

Abstract

Abstract. This study is an attempt to build a theological view on the social activism of Pentecostals in Indonesia. Pentecostals in Indonesia are actually very familiar with social activities in the community. Otherwise, there would not be many Pentecostal Churches in various regions, which indicates the acceptance of the local community. However, such social activities are often understood separately from the understanding of the work of the Holy Spirit, or often understood to achieve the goal of proselytization. This study is conducted by re-reading the narratives of Joseph and Daniel in the Old Testament from the perspective of the Pneumatic work. The results of this study showed that the Spirit of God is the power that moves believers to work for the transformation of society.Abstrak. Kajian ini adalah sebagai upaya untuk membangun suatu pandangan teologis atas aktivisme sosial kaum Pentakostal di Indonesia. Kaum Pentakostal di Indonesia sebenarnya sudah sangat akrab dengan aktivitas sosial di tengah masyarakat. Jika tidak demikian, tidak mungkin banyak berdiri Gereja Pentakostal di berbagai daerah, yang mengindikasikan penerimaan masyarakat setempat. Namun, aktivitas sosial tersebut sering dipahami terpisah dengan pemahaman akan karya Roh Kudus, atau sering dipahami sebagai sarana mencapai tujuan proselitisasi. Kajian ini dikerjakan dengan membaca ulang narasi Yusuf dan Daniel di Perjanjian Lama dalam perspektif karya Pneumatologis. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Roh Tuhan adalah daya yang menggerakkan orang yang beriman untuk berkarya bagi transformasi masyarakat.
Membingkai Kisah Syafaat Abraham dari Perspektif Spritualitas Pentakostal Kosma Manurung
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 3 No 1 (2023): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v3i1.117

Abstract

Not everyone can write down his life story but the Bible gives a special place to the story of Abraham's life to be passed on to today's believers. The story of Abraham's intercession for the cities of Sodom and Gomorrah in Genesis 18:16-33 is an interesting story to study. It is said that God had determined to destroy the inhabitants of Sodom and Gomorrah, but Abraham tried to negotiate with God so that if possible God would keep His punishment against the cities of Sodom and Gomorrah. However, in reality the only survivors of this tragedy were Lot and his two daughters. This research intends to frame the story of Abraham's intercession from the perspective of Pentecostal spirituality. By using the method of narrative interpretation and literature review, it is hoped that it will provide a clear overview of the life lived by Abraham, provide a strong meaning about Abraham's intercession, and frame it from the perspective of Pentecostal spirituality. In conclusion, the Pentecostals view that the story of Abraham's intercession is a story of perseverance in faith, the courage to act out of compassion for others, and is a picture of the mission of the church empowered by the Holy Spirit. Tidak semua orang bisa menuliskan kisah hidupnya namun Alkitab memberikan tempat khusus pada kisah kehidupan yang dijalani oleh Abraham untuk diwariskan pada orang percaya masa kini. Kisah syafaat Abraham untuk kota Sodom dan Gomora di Kejadian 18: 16-33 adalah kisah yang menarik untuk dikaji. Diceritakan bahwa Allah telah berketetapan untuk membinasakan penduduk Sodom dan Gomora, namun Abraham mencoba upaya bernegosiasi dengan Allah agar sekiranya mungkin Allah menjauhkan hukumanNya terhadap kota Sodom dan Gomora. Walaupun, pada kenyataannya yang selamat dari tragedi ini hanyalah Lot dan kedua anak perempuannya. Penelitian ini bermaksud membingkai kisah syafaat Abraham ini dari perspektif spritualitas Pentakostal. Dengan menggunakan metode tafsir naratif dan kajian literatur diharapkan bisa memberikan ulasan yang jelas tentang kehidupan yang dijalani oleh Abraham, memberikan makna yang kuat tentang syafaat Abraham, dan membingkainya dari perspektif spritualitas Pentakostal. Disimpulkan, kaum Pentakostal memandang bahwa kisah syafaat Abraham merupakan kisah tentang ketekunan iman, keberanian untuk bertindak karena belas kasihan terhadap sesama, serta merupakan gambaran misi gereja yang diberdayakan Roh Kudus.
Menalar Kisah Dipilihnya Daud Menggantikan Saul dari Pemaknaan Kaum Pentakostal Kosma Manurung; Steven Tommy Dalekes Umboh
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i1.77

Abstract

God's action in sending Samuel to anoint David to be king in place of Saul, was not a reckless action born of occasional emotion. Desiring, Allah has a strong reason for His actions. Saul's disobedience to God's commands was suspected to be the cause of God impeaching him from the position of king and replacing him with David. This research seeks to reason out the story of David's choice to replace Saul as king of Israel through the anointing of the prophet Samuel in 1 Samuel 16:1-13 from the meaning of the Pentecostals. The use of qualitative narrative methods and support from literature studies are expected to be able to provide a strong, thorough, and systematic understanding of the review of the reconstructive background of David's election as king, the narrative of David's election in 1 Samuel 16, and the meaning of the Pentecostals about the story of David's election. It was concluded that for Pentecostals this story provides an important lesson to always live in obedience to God, see God's decrees from the right perspective, the need for believers to guard their hearts, because its existence represents the presence of God. Abstrak:Tindakan Allah yang mengirim Samuel untuk mengurapi Daud menjadi raja menggantikan Saul, bukanlah tindakan yang sembrono yang lahir dari emosi sesaat. Melainkan, Allah memiliki alasan kuat atas tindakanNya tersebut. Ketidaktaatan Saul pada perintah Allah ditengarai menjadi penyebab Allah memakzulkannya dari posisi raja dan menggantikannya dengan Daud. Adapun penelitian ini berupaya menalar kisah dipilihnya Daud menggantikan Saul menjadi raja Israel melalui pengurapan nabi Samuel dalam 1 Samuel 16: 1-13 dari pemaknaan kaum Pentakostal. Penggunaan metode kualitatil naratif serta suport dari kajian litaratur diharapkan mampu memberikan pemaman yang kuat, teliti, dan sistematik terkait ulasan reka ulang latar belakang pemilihan Daud menjadi raja, narasi pemilihan Daud dalam 1 Samuel 16, dan pemaknaan kaum Pentakostal tentang kisah pemilihan Daud ini. Disimpulkan bahwa bagi kaum Pentakostal kisah ini memberikan pelajaran pentingnya untuk selalu hidup dalam ketaatan terhadap Allah, melihat ketetapan Allah dari perspektif yang benar, perlunya orang percaya menjaga hati, karena keberadaannya mewakili kehadiran Allah.   Kata Kunci: Daud; kisah Daud; pilihan Allah; teologi pentakostal; 1 Samuel 16
Membaca Narasi Panggilan Samuel dari Pemahaman Kaum Pentakostal Kosma Manurung; Steven Palilingan
EUANGGELION: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2023): Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Lentera Bangsa Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61390/euanggelion.v4i1.52

Abstract

Abstract: The Prophet Samuel left a legacy in the form of the totality of life and ministry for today's believers to emulate. The prophet Samuel was the person God chose to anoint Saul as the first king of Israel as well as David the famous king who ruled over Israel. If you examine the way the Bible describes the story of Samuel, it will focus on a story that is very well recorded in 1 Samuel 3, where little Samuel was called by God and his response to God's call. This article attempts to read the narrative of Samuel's call from the understanding of the Pentecostals. Using a qualitative method with a narrative interpretation approach and literature review is expected to be able to provide an orderly, systematic, and in-depth explanation regarding the narrative about Samuel's life before experiencing God's call, the narrative interpretation of Samuel's call, and the Pentecostals' understanding of the narrative of Samuel's call. It was concluded that for Pentecostals the narrative of Samuel's call is actually a story that illustrates the importance of experiencing God personally, the importance of preparation, the totality of life to serve God, and living a life that benefits others.Abstrak: Nabi Samuel meninggalkan legacy berupa totalitas hidup dan pelayanan untuk diteladani oleh orang percaya masa kini. Nabi Samuel merupakan orang yang Allah pilih untuk mengurapi Saul sebagai raja pertama Israel juga Daud raja termasyur yang memerintah Israel. Jika menelisik cara Alkitab menguraikan kisah Samuel maka akan mengerucut pada sebuah kisah yang dicatat dengan sangat apik dalam 1 Samuel 3, di mana Samuel kecil yang dipanggil Tuhan dan responnya terhadap panggilan Tuhan tersebut. Adapun artikel ini berupaya membaca narasi panggilan Samuel dari pemahaman kaum Pentakostal. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir naratif dan kajian literatur diharapkan mampu memberikan penjelasan yang urut, sistimatik, dan mendalam terkait narasi seputar kehidupan Samuel sebelum mengalami panggilan Tuhan, tafsir naratif panggilan Samuel, dan pemahaman kaum Pentakostal terhadap narasi panggilan Samuel. Disimpulkan bahwa bagi kaum Pentakostal narasi panggilan samuel ini sejatinya sebauh kisah yang menggambarkan arti penting mengalami Tuhan secara pribadi, pentingnya persiapan, totalitas hidup untuk melayani Tuhan, serta menjalani kehidupan yang bermanfaat bagi sesama.
Memitigasi Peranan Ayah dalam Menanamkan Ketekunan pada Anak Usia Dini di Keluarga Kristiani Kosma Manurung
Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1, No 1: September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/realkiddos.v1i1.232

Abstract

Failure to instill perseverance in early childhood can have a fatal impact on him, both for current and future life. Perseverance is very important for early childhood because it correlates with their independence, responsibility, and future success as well as the growth of a child's Christian character. In fact, instilling perseverance in early childhood is a long process that requires fathers to be actively involved continuously to connect with the child. This study aims to mitigate the role of fathers in instilling perseverance in early childhood in Christian families. Using the description method, as well as support from the literature review is expected to be able to describe in more depth and systematic related to perseverance in the biblical picture, the urgency of perseverance in the life of children after an early age, as well as the role of fathers in instilling perseverance in early childhood in Christian families. As a result, a father will play a maximal role in determining perseverance in early childhood if he begins to introduce perseverance as early as possible by applying it through daily communication, helping to direct the child to continue to learn perseverance, motivating, and making himself the closest character that the child can model.Keywords: Christian family; persistence; child perseverance; father's role; parenting styleAbstrakKegagalan dalam menanamkan ketekunan pada anak usia dini bisa berdampak fatal baginya, baik untuk kehidupan saat ini maupun di masa depan kelak. Ketekunan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi anak usia dini karena berkorelasi pada kemandirian, tanggung jawab, dan kesuksesannya kelak serta pertumbuhan karakter Kristiani anak. Pada kenyataannya menanamkan ketekunan pada anak usia dini adalah sebuah proses panjang yang menuntut para ayah untuk terlibat aktif secara terus menerus untuk terkoneksi dengan anak. Penelitian ini bertujuan memitigasi peranan ayah dalam menanamkan ketekunan pada anak usia dini di keluarga Kristiani. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi, serta dukungan dari kajian literatur diharapkan bisa mengambarkan secara lebih mendalam dan sistematik terkait ketekunan dalam gambaran Alkitab, urgensi ketekunan dalam kehidupan anak usai dini, maupun peranan ayah dalam menanamkan ketekunan pada anak usia dini di keluarga Kristiani. Hasil penelitian ini, seorang ayah akan berperan maksmial menanamkan ketekunan pada anak usia dini apabila ia mulai memperkenalkan ketekunan sedini mungkin dengan menerapkannya melalui keseharian komunikasi, membantu mengarahkan anak untuk terus belajar ketekunan, memotivasi, serta menjadikan dirinya tokoh terdekat yang bisa dicontoh oleh anak.Kata Kunci: keluarga kristiani; ketekunan; ketekunan anak; peran ayah; pola asuh
MEMBACA NARASI DOSA AKHAN DARI POTRET KAUM PENTAKOSTAL Kosma Manurung
Jurnal Missio Cristo Vol. 6 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v6i2.57

Abstract

Both in the past and today, sin still has a bad impact on human life. The narrative of Achan's sin, which is used as the main study of this research, for example, shows that sin easily entered through Achan's inability to overcome his desire to own the spoils that so attracted his attention, and were of high value economically as well as awe. This then triggers Achan to dare to go against God's commandments. This action that Achan took, not only damaged Achan's life personally, but also resulted in the death of thirty-six Israeli soldiers who attacked the city of Ai and made Achan, his children, receive God's punishment for his actions. This article intends to read the narrative of Achan's sin from the Pentacpstals portrait. Hopely, use of the narrative interpretation method and literature review will provide a thorough and coherent description of the narrative of the conquest of Jericho by the Israelites, the narrative interpretation of Achan's sin, as well as portraits of the Pentecostals regarding this story. In conclusion, the Pentecostals portray this narrative of Achan's sin as God's attitude that never compromises with sin, do not underestimate God's commands, every action has its consequences, and the importance of always connecting oneself to God's promises. ABSTRAK BAHASA INDONESIA Baik itu di masa lalu maupun hari ini, dosa masih membawa dampak buruk dalam kehidupan manusia. Narasi dosa Akhan yang dijadikan kajian utama penelitian ini contohnya, memperlihatkan bahwa dengan mudah dosa masuk melalui ketidakmampuan Akhan mengalahkan keinginannya memiliki barang rampasan yang begitu menarik perhatiannya, serta bernilai tinggi secara ekonomi maupun juga rasa kagum. Hal ini kemudian memicu Akhan untuk berani melawan perintah Allah. Tindakan yang Akhan lakukan ini, bukan sekedar merusak kehidupan Akhan secara pribadi, melainkan juga berdampak pada tewasnya tiga puluh enam prajurit Israel yang menyerang kota Ai serta membuat Akhan, anak-anaknya mendapatkan hukuman Allah karena tindakannya. Artikel ini bermaksud membaca narasi dosa Akhan dari potret kaum Pentakostal. Adapun Penggunaan metode tafsir naratif serta kajian literatur diharapkan mampu memberi gambaran yang runut dan lebih teliti perihal narasi penaklukan Yerikho oleh bangsa Israel, tafsir naratif dosa Akhan, serta potret kaum Pentakostal terkait kisah ini. Disimpulkan, kaum Pentakostal memotret narasi dosa Akhan ini sebagai sikap Allah yang tidak pernah kompromi dengan dosa, jangan memandang remeh perintah Allah, setiap tindakan memiliki konsekuensinya, serta pentingnya selalu mengkoneksikan diri pada janji Allah.  
Kepemimpinan Pemuda Kristen di Era Digital: Pelayanan dalam Transformasi Teknologi untuk Membangun Komunitas Iman yang Relevan Aritonang, Nineson setiawan; Manurung, Kosma
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.298

Abstract

Leadership in the church for Christian youth leadership in this digital era, demands the role of human resources who have dynamic adaptation to change for the sake of significant changes in technology, because it is to build a relevant community of spirituality and faith. Where technological transformation has changed the landscape of church communication and ministry, it requires new strategies that combine Christian values with technological innovation.  This is the purpose of the paper, so that youth leadership can see opportunities and utilize technology in church ministry to create and build relevant spirituality and faith today. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the important role of Christian youth leadership in the digital era, as an effort in service to transform technology to build relevant spirituality and faith. That is, youth leadership needs to understand the nature of Christian leadership and the use of technology in church services that aim to develop spiritual leadership in the digital era, it can build relevant spiritual and faith communities. So the important role of everything lies in youth leadership in the digital era, so that Christian youth can become agents of change in forming spiritual and faith communities that have a positive impact in the digital era.AbstrakKepemimpinan dalam gereja bagi kepemimpinan pemuda Kristen di era digital ini, menuntut peran sumber daya manusia yang memiliki adaptasi yang dinamis terhadap perubahan demi perubahan yang signifikan dalam teknologi, sebab hal itu untuk membangun komunitas spritulitas dan iman yang relevan. DI mana transformasi teknologi telah mengubah lanskap komunikasi dan pelayanan gereja, memerlukan strategi baru yang menggabungkan nilai-nilai kekristenan dengan inovasi teknologi.  Ini tang menjadi tujuan dari tulisan, sehingga kepemimpinan Pemuda dapat melihat peluang dan memanfaatkan teknologi dalam pelayanan gereja untuk menciptakan  dan membangun spritualitas dan iman yang relevan saat ini. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa peran penting dari kepemimpinan pemuda kristen di era digital, sebagai upaya dalam pelayanan untuk mentransformasi teknologi membangun spritualitas dan  iman yang relevan. Yaitu kepemimpinan pemuda perlu memahami hakikat kepemimpinan Kristen dan Penggunaan Teknologi dalam Pelayanan Gereja yang bertujuan untuk Mengembangkan Kepemimpinan Rohani di Era Digital, hal itu dapat membangun komunitas Spritual dan Iman yang relevan. Maka peran penting semuanya itu terletak padaa kepemimpinan pemuda di era digital, supaya pemuda Kristen dapat menjadi agen perubahan dalam membentuk komunitas spiritual dan iman yang berdampak positif dalam era digital.
Kiat Ayah Membangun Pemahaman Tentang Kesetiaan Allah Pada Anak Di Keluarga Kristiani Manurung, Kosma
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v5i2.234

Abstract

The Bible shows that God is a faithful God. This can also be interpreted that when he makes a promise, Allah will be faithful in fulfilling every promise that He makes because loyalty is a character that is inherent in Him. Given the importance of God's faithfulness, fathers are encouraged to teach God's faithfulness to their children. An understanding of God's faithfulness needs to be built in a child because God is faithful and God's faithful nature wants from someone, this loyalty will also be related to the child's public life which contributes to future success. This article intends to describe father's tips in building an understanding of God's faithfulness to children in Christian families. By using narrative qualitative methods and literature studies, we strive to be able to provide in-depth, coherent, and accurate explanations regarding the biblical narrative about God's faithfulness, the importance of God's faithfulness being understood by children and father's tips in building an understanding of God's faithfulness to their children. In conclusion, a father will maximally build an understanding regarding God's faithfulness to his child if he provides this understanding from a young age, does it on an ongoing basis, teaches by setting a living example for his children, and becomes a friend who always supports his child.Alkitab menunjukan bahwa Allah adalah Allah yang setia. Ini juga bisa dimaknai bahwa ketika berjanji maka Allah akan setia menepapati setiap janji yang Dia ucapkan karena kesetiaan merupakan karakter yang sudah menyatu dalam diriNya. Mengingat pentingnya kesetiaan Allah, maka para ayah didorong untuk mengajarkan tentang kesetiaan Allah pada anaknya. Pemahaman mengenai kesetiaan Allah perlu dibangun pada diri seorang anak karena Allah adalah setia dan sifat setia Allah inginkan dari seseorang, kesetiaan ini nantinya juga terkait dengan kehidupan publik anak yang bersumbangsih pada kesuksesan masa depan. Artikel ini bermaksud menjabarkan kiat ayah dalam membangun pemahaman tentang kesetiaan Allah pada anak di keluarga Kristiani. Dengan menggunakan metode kualitatif naratif dan kajian litaratur diupayakan mampu memberikan penjelasan yang mendalam, runut, juga cermat perihal narasi Alkitab tentang kesetiaan Allah, pentingnya kesetiaan Allah dipahami oleh anak, serta kiat ayah dalam membangun pemahaman kesetiaan Allah pada anaknya. Disimpulkan, seorang ayah akan sangat maksimal membangun pemahaman terkait kesetiaan Allah pada anaknya jika memberikan pemahaman ini sedari kecil, dilakukan secara berkelanjutan, mengajari dengan menjadi contoh hidup bagi anak, serta menjadi sahabat yang selalu mendukungnya.