Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI TRANSAKSI PEMBIAYAAN GRIYA DALAM PERSPEKTIF FIKIH MU’AMALAH DI BANK SYARIAH INDONESIA KANTOR CABANG PEMBANTU SITUBONDO Ach. Afin; R. Fakhrurrazi
Al-Hukmi : Jurnal Hukum Ekonomi Syariah dan Keluarga Islam Vol. 3 No. 2 (2022): Al-Hukmi : Jurnal Hukum Ekonomi Syari’ah dan Keluarga Islam
Publisher : Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.69 KB) | DOI: 10.35316/alhukmi.v3i2.2321

Abstract

At this time there are many emerging Islamic banking with the many developments of sharia. The birth of Islamic financial institutions in Indonesia brings an interesting competitive atmosphere in the banking business discourse. In addition to the presence of conventional banks, our society is now presented with alternative options to invest their funds, of course through the presence of Islamic banking services. Islamic banking services offer products with a different scheme from conventional banks. In accordance with the title "sharia" it bears, Islamic banking claims the principle of justice in accordance with Islamic teachings as a differentiator of its identity from conventional banks. Including one of the Islamic banks in Situbondo, namely Bank Mandiri Syariah which is currently changing its name to Bank Syariah Indonesia Of all the products available at BSI, there is one financing product that is currently in great demand by the public, especially at the Bank Shariah Indonesian Cabang Situbondo Branch, namely the Griya financing product. Griya financing is short, medium, or long term financing to finance the purchase of residential (consumer) houses, both new and used, in the developer environment with a murabahah system. In relation to the murabahah concept in Fiqh Mu'amalah, it is necessary to combine its conformity with the practice of home financing transactions at BSI KCP Situbondo, where in practice the margin provisions obtained by BSI are not transparent, when purchasing property uses the practice of debt. , the delivery of money is directly given to the customer, not the BSI party who buys the needs of the customer and many other things that the author does not know. According to the author, this is not appropriate if the contract used is murabahah.
Analisis Keuntungan Usaha Budidaya Ikan Lele Dengan Menggunakan Metode Variable Costing (Studi Kasus Kopontren Musa’adah Sumberejo, Situbondo) Amir Amir; Aisatul Badriyah; Ach. Afin; Ahmad Muzayyin
Mazinda : Jurnal Akuntansi, Keuangan, dan Bisnis Vol. 1 No. 2 (2023): Mazinda : Jurnal Akuntansi, Keuangan, dan Bisnis
Publisher : Program Studi Akuntansi Syari'ah Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/mazinda.v1i2.3579

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengusaha ikan lele, yang dimana dalam praktek lapangan menentukan harga jual kebanyakan masih mengikuti harga yang telah ditetapkan di pasar tanpa menghitung berapa biaya yang telah dikeluarkan dalam satu kali panen, akibatnya pendapatan yang diterima tidak sesuai dengan biaya yang telah dikeluarkan. Menghitung biaya dari suatu produk yang dihasilkan merupakan hal yang penting dalam suatu usaha. Perhitungan biaya merupakan hal yang harus dilakukan dengan benar dan sesuai dengan tiap-tiap sumber daya yang digunakan dari setiap kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan barang tersebut karena jika terjadi kesalahan dalam perhitungan biaya produksi, maka akan dapat mempengaruhi keputusan penentuan tarif produk dan tentunya nanti juga akan mempengaruhi keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan.metode yang bisa digunakan untuk menentukan tarif produk adalah metode variable costing. karena metode variabel costing menyajikan data yang bermanfaat untuk pembuatan keputusan jangka pendek yang menyangkut mengenai perubahan volume kegiatan. Variable costing juga bermanfaat untuk penentuan harga jual jangka pendek Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif. Sedangkan data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Sedangkan metode analisa yang digunakan menggunakan metode varaiable costing. Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa dalam pelaksanaannya, unit usaha budidaya ikan lele hanya menghitung harga impas per kilo. Hasil perhitungan keuntungan (laba) di Unit usaha budidaya ikan lele dengan menggunakan pendekatan metode titik impas diketahui nilai keuntungan atau laba unit budidaya ikan lele ini sebesar Rp.555.000.-. Sedangkan untuk perhitungan keuntungan menggunakan metode variable costing mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 112.000,. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan harga pokok produksi, sebaiknya unit usaha budidaya ikan lele menggunakan metode variable costing karena metode ini menghitung biaya lebih rinci dan lebih akurat dalam penentuan harga pokok produksi dari pada metode titik impas.