Studi fenomenologi representasi penyakit pasien Covid-19 ini menggunakan teks atau naskah dari internet yang memuat pengalaman pasien Covid-19 di Indonesia. Teks yang diambil adalah teks yang tayang di portal berita pada kurun waktu Maret hingga November 2020 masa setelah penetapan pandemi global. Penelitian dengan metode fenomenologi hermeneutik Paul Ricoeur ini menggunakan teori Self-Regulation Model of Illness Representations. Penelitian ini menemukan representasi penyakit terdiri atas konstruksi kognitif, emosional, dan spiritual. temuan ini menunjukkab hawa terdapat tambahan satu elemen yakni emosional, sehingga temuan ini dapat berimplikasi pada teori Self-Regulation Model of Illness Representations yang hanya mencakup konstruksi kognitif dan emosional.Temuan penelitian ini berimplikasi pada teori Self-Regulation Model of Illness Representations yang hanya membuat representasi kognitif dan emosional bagi pasien menghadapi penyakit yang dideritanya. Untuk representasi penyakit Covid-19 mengacu pada temuan ini mengusulkan agar mencakup representasi kognitif, emosional, dan spiritual. Sebagai implikasi praktis, temuan pengalaman pasien Covid-19 menunjukkan bahwa terjadi kesulitan mendapatkan informasi pengetahuan tentang gejala dan penyakit Covid-19, mengakses dokter ahli paru, kesulitan layanan surat rujukan, dan rujukan rumah sakit. Untuk itu, pemerintah perlu menyediakan layanan untuk memenuhi kebutuhan setiap warga negara untuk dapat mengakses informasi dan layanan penanganan Covid-19.Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai kelamahan. Salah satu kelemahan dalam penelitian yang menggunakan metode fenomenologi hermeneutik Paul Ricoeur ini adalah tidak bisa menggambarkan secara maksimal makna atau gambaran virus SARS-Cov-2 atau penyakit Covid-19 dalam ungkapan metafora karena keterbatasan teks yang diperoleh dari internet. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan metode wawancara mendalam kepada pasien Covid-19 untuk mendapatkan rupa atau kata-kata metafora tentang virus SARS-Cov-2.