This community service program aimed to empower the Makmur Jaya Farmer Group in Parangmata Village, Galesong District, Takalar Regency through the optimization of productive home gardens based on environmentally friendly shallot cultivation. The main problems included the underutilization of home gardens, heavy dependence on chemical fertilizers and pesticides, and limited knowledge and skills in applying environmentally friendly agricultural technologies. The program was implemented using a participatory approach through socialization, training, field practice, mentoring, and evaluation using pre-test and post-test methods. The introduced technologies included biochar produced from corn cobs, liquid organic fertilizer and plant growth regulator derived from fermented coconut water, and botanical pesticide prepared from papaya leaves. Evaluation results showed that the proportion of participants utilizing home gardens for agricultural activities increased from 57.89% to 89.47%, while knowledge of shallot cultivation improved from 57.89% to 94.73%. Experience in using coconut water-based liquid organic fertilizer increased from 5.26% to 84.21%, knowledge of biochar benefits increased from 5.26% to 89.47%, and the ability to prepare papaya leaf-based botanical pesticide increased from 5.26% to 78.94%. Furthermore, participants with good knowledge of postharvest management and marketing increased from 10.52% to 47.36%, while those highly interested in further training increased from 31.57% to 57.89%. These findings demonstrate that the program successfully improved farmers' knowledge, skills, and readiness to adopt environmentally friendly agricultural technologies based on locally available resources for the sustainable development of productive home gardens. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan Kelompok Tani Makmur Jaya di Desa Parangmata, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar melalui optimalisasi pekarangan rumah produktif berbasis budidaya bawang merah ramah lingkungan. Permasalahan utama mitra meliputi rendahnya pemanfaatan pekarangan, tingginya ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia, serta terbatasnya pengetahuan dan keterampilan dalam penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, praktik lapangan, pendampingan, dan evaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test. Teknologi yang diterapkan meliputi pemanfaatan biochar dari jenggel jagung, pupuk organik cair dan zat pengatur tumbuh berbahan air kelapa fermentasi, serta pestisida nabati dari daun pepaya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemanfaatan pekarangan untuk kegiatan pertanian meningkat dari 57,89% menjadi 89,47%, pengetahuan budidaya bawang merah di pekarangan meningkat dari 57,89% menjadi 94,73%, pengalaman penggunaan pupuk organik cair berbahan air kelapa meningkat dari 5,26% menjadi 84,21%, pengetahuan mengenai manfaat biochar meningkat dari 5,26% menjadi 89,47%, serta kemampuan pembuatan pestisida nabati dari daun pepaya meningkat dari 5,26% menjadi 78,94%. Selain itu, pengetahuan peserta mengenai pengelolaan dan pemasaran hasil dengan kategori baik meningkat dari 10,52% menjadi 47,36%, sedangkan minat mengikuti pelatihan lanjutan dengan kategori sangat tertarik meningkat dari 31,57% menjadi 57,89%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa program berhasil meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan petani dalam menerapkan teknologi pertanian ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal untuk mendukung pengembangan pekarangan produktif secara berkelanjutan