Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Bell's Palsy Olivia Mahardani Adam
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol 8, No 1 (2019): EDISI MARET 2019 (available online since April 2019)
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.311 KB) | DOI: 10.30742/jikw.v8i1.526

Abstract

Bell’s palsy didefinisikan sebagai kelumpuhan saraf fasialis satu sisi, dengan penyebabnya tidak diketahui. Beberapa keadaan lain juga dapat menyebabkan kelumpuhan fasialis, misalnya tumor otak, stroke, myasthenia gravis, dan penyakit Lyme. Namun, jika tidak ada penyebab khusus yang dapat diidentifikasi, kondisi ini dikenal sebagai Bell’s palsy yang disebabkan akibat pembengkakan dan tekanan saraf pada foramen stylomastoid dan menyebabkan penghambatan atau kerusakan saraf. Seringkali mata di sisi yang terkena tidak dapat ditutup, lipatan nasolabial dan garis dahi menghilang. Kortikosteroid ditemukan untuk memperbaiki hasil ketika digunakan lebih awal, sementara obat anti-virus belum. Banyak yang menunjukkan tanda perbaikan 10 hari setelah onset, bahkan tanpa pengobatan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas Bell’s palsy terutama patofisiologinya. Tingkat keparahannya syaraf menentukan proses penyembuhan Bell’s palsy.