Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGABDIAN KEMITRAAN MASYARAKAT PEMANDU LOKAL BUKIT LAHANGAN DI BANJAR SEGA, DESA BUNUTAN, KECAMATAN ABANG, KABUPATEN KARANGASEM I.N. Rata Artana; N.K. Wiradnyani
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 2 (2019): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.564 KB)

Abstract

ABSTRAKBukit Lahangan adalah salah satu nama dari gugusan atau barisan perbukitan yang terdapat di desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Permasalahan yang dihadapi adalah SDM pemandu lokalnya belum memiliki soft skill maupun hard skill antara lain permasalahan dalam berbahasa asing, hospitality, etika dan estetika, penanganan K3 peserta, kesehatan dan gizi seimbang pemandu dan peserta trekking, padahal betapa indahnya barisan perbukitan yang ada di 4 banjar yakni Bangle, Sega, Gulinten dan Cangwang (BSGC) tetapi Tujuan pengabdian kemitraan masyarakat bagi para pemandu lokal ”Suluh Bukit Wisata” di desa Bunutan, khususnya di Banjar Bangle, Sega, Bunutan dan Cangwang adalah dalam rangka memberikan soft skill dan hard skill serta motivasi kepada generasi mudanya yang tertarik menjadi pegiat pariwisata berbasis keindahan alam dan kreativitas budaya (local genius) untuk meningkatkan kontribusi masyarakat daerah setempat, khususnya banjar Sega, dan meningkatkan kwalitas maupun kuantitas SDM pemandu lokal. Metode yang dipergunakan adalah learning by doing, ceramah, simulasi dan demonstrasi. Pendampingan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan kursus bahasa Inggris dasar, cara-cara memandu wisatawan menuju bukit Lahangan. Proses pemanduan sangat ditentukan dengan sumbangan 15 buah baju kaos warna oranye dan topi tiga warna berlogo Undhira dan nama kelompok pemandu. Pencapaian hard trekking di lancarkan/dipermudah dengan pemberian satu buah papan nama Lahangan diletakkan di daerah Cekek 2,5 Km sebelum Lahangan Hill, Satu unit papa nama pos pemandu ”Suluh Bukit Wisata” , 5 potong kayu papan, 5 batang kayu jati, 2 lembar atap, 5 unit bambu, satu unit tongkat pengaman pemandu dan peserta, 1engkel pasir dan 5 sak semen untuk penanaman papan nama, satu unit lampu senter, 5 unit obat-obatan dan 5 unit P3K. Serta memberikan asupa gisi seimbang sebelum dan sesudah setiap kegiatan melakukan soft tracking maupun hard trekking. Luaran selain kualitas peningkatan kemampuan pemandu, adalah publikasi pada proceeding skala Nasional.Keywords: bukit lahangan, trekking, soft skill, hard skill, BSGC.ABSTRACTBukit Lahangan is one of the names of clusters or rows of hills located in the village of Bunutan, District Abang, Karangasem Regency. The problem faced is the local guide SDM does not have soft skills or hard skills, among others, problems in foreign language, hospitality, ethics and aesthetics, handling K3 participants, health and nutrition balanced guide and trekking participants , but how beautiful the ranks of the hills in 4 Banjar namely Bangle, Sega, Gulinten and Cangwang (BSGC) But the goal of Community partnership devotion to local guides "Suluh Bukit Wisata" in Bunutan village, especially in Banjar Bangle, Sega, Bunutan and Cangwang are in order to provide soft skills and hard skills and motivation to the young generation who are interested to become tourism activists based on natural beauty and cultural creativity (local genius) to increase the contribution Local community, especially Sega's Banjar, and improved the quality and quantity of local human resources. The methods used are learning by doing, lectures, simulations and demonstrations. Mentoring is done by giving basic English courses, ways to guide tourists to the Bukit Lahangan. The driving process is very determined by the donation of 15 pieces of orange T-shirts and a three-color hat with Undhira logo and the name of the Guide group. Achievement of hard trekking on launch/simplified with the gift of one piece of the name of Lahangan is placed in the area Cekek 2.5 Km before Lahangan Hill, one unit Papa name guide "Suluh Bukit Wisata", 5 pieces wood Board, 5 teak sticks, 2 pieces of roof, 5 Bamboo units, a unit of guiding safety sticks and entrants, 1engkel sand and 5 bags of cement to plant a nameplate, one unit of flashlight, 5 drugs and 5 units of P3K. And give a balanced nutrition before and after each activity doing soft tracking or hard trekking. An external addition to the quality enhancement of the guide, is a publication on proceeding national scale.Keywords: Bukit Lahangan, trekking, soft skill, hard skill, BSGC.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN SASUKA CATUR OIL PADA REMAJA YAYASAN AMARA BHAWANA SASTRA DESA SUSUT KAJA, KECAMATAN SUSUT, KABUPATEN BANGLI, BALI N.K. Wiradnyani; I.N. Rata Artana; I. P. Darmawijaya
Seminar Nasional Aplikasi Iptek (SINAPTEK) Vol 2 (2019): PROSIDING SINAPTEK
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.04 KB)

Abstract

ABSTRAKPelatihan pembuatan sabun SASUKA bertujuan untuk memperdayakan minyak wajah produksi desa Catur dan bahan lokal sekitar Susut Kaje Bangli menjadi sabun cair untuk upaya peningkatan pendapatan rumah tangga. Permasalahan prioritas yang dihadapi oleh anak asuh Yayasan ABSA adalah kesenjangan sosial dan ekonomi kluarga, keterbatasan mengenyam pendidikan skill dan kebutuhan gizi seimbang serta pola hidup sehat. Metode yang dipergunakan adalah pendampingan, pelatihan, skill, pre tes dan post tes untuk mengetahui perkembanga kemampuan skill. Tahapan yang dilakukan adalah sosialisasi resep sabun, konversi, pengenalan alat-alat pembuatan sabun, Hygiene sanitasi dan keselamatan serta kesehatan kerja, pengadaan dan pengetahuan asupan gizi seimbang. Produk baru berupa sabun “SASUKA” yang diproduksi oleh anak-anak remaja Yayasan ABSA di banjar Susut Kaje, kecamatan Susut, kabupaten Bangli yang terdiri dari SASUKA Jepun, SASUKA Kelor, SASUKA Tumeron. Produksi sabun berjalan lancar diikuti dengan pemberian 5 unit bahan sabun, 5 unit perlengkapan K3 dan saniter, sumbangan 5 unit sembako dan 10 unit resep bahan pizza dan soto Madura. Luaran tambahan adalah skill kompetensi membuata pizza ala Yayasan ABSA.Kata Kunci: Sabun, SASUKA, Desa Susut, Remaja, Yayasan AbsaABSTRACTThe SASUKA soap making training aims to empower oil from the face of Catur village production and local materials around Susut Kaje Bangli to become liquid soap for efforts to increase household income. The priority issues faced by ABSA foster children are social and economic inequality of the family, limitations on education in skills and balanced nutritional needs and a healthy lifestyle. The method used is mentoring, training, skills, pre-test and post-test to determine the development of skill abilities. The steps taken are socialization of recipes for soap, conversion, introduction of soap making tools, sanitation hygiene and occupational safety and health, procurement and knowledge of balanced nutrition. The new product is "SASUKA" soap produced by teenagers from the ABSA Foundation in the Susut Kaje banjar, Susut sub-district, Bangli district, which consists of SASUKA Jepun, SASUKA Kelor, SASUKA Tumeron. Soap production went smoothly followed by the provision of 5 units of soap ingredients, 5 units of safety and sanitary ware, donations of 5 basic foods and 10 units of recipes for pizza and soto Madura. An additional output is the competency skill of making pizza in the style of the ABSA Foundation.Keywords: Soap, SASUKA, Susut Village, Teenagers, Absa Foundation