Syihabudin Syihabudin
IAIB Serang, Banten, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Internet, Hadith And Traditional Islamic Learning Practices In Indonesia: Negotiation between Offline and Online in Traditional Islamic Learning Systems Syihabudin Syihabudin
International Journal of Nusantara Islam Vol 10, No 2 (2022): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v10i2.24338

Abstract

Sebagai bidang penelitian yang berkembang, arah penelitian internet dan keagamaan menunjukkan perkembangan yang dinamis. Pada tahap awal perkembangannya, studi agama digital berfokus pada bagaimana agama memperkenalkan praktik online dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian internet (Brasher 2001, Zaleski 1997), sebelum mengeksplorasi bagaimana agama diadaptasi dalam praktik online (Bunt 2003, 2010), juga sebagai fenomena yang muncul dari agama siber dan agama digital (Campbell 2005a, 2005b, 2007; Cloete 2016; Helland 2005). Beberapa peneliti telah menggunakan sejumlah pendekatan teoritis untuk studi agama digital, termasuk mediasi (Hoover 2006; Martin-Barbero 1993) dan mediatisasi (Giorgi 2019; Hjarvard 2011a, 2011b; Loveheim 2008). Secara umum, agama digital telah menarik perhatian sejak studi O'Leary tentang bagaimana internet berfungsi sebagai ruang sakral (O’Leary 1996). Campbell bahkan mengusulkan agama sebagai mikrokosmos baru dalam studi internet (Campbell 2012).
Internet, Hadith And Traditional Islamic Learning Practices In Indonesia: Negotiation between Offline and Online in Traditional Islamic Learning Systems Syihabudin Syihabudin
International Journal of Nusantara Islam Vol 10, No 2 (2022): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v10i2.24338

Abstract

Sebagai bidang penelitian yang berkembang, arah penelitian internet dan keagamaan menunjukkan perkembangan yang dinamis. Pada tahap awal perkembangannya, studi agama digital berfokus pada bagaimana agama memperkenalkan praktik online dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian internet (Brasher 2001, Zaleski 1997), sebelum mengeksplorasi bagaimana agama diadaptasi dalam praktik online (Bunt 2003, 2010), juga sebagai fenomena yang muncul dari agama siber dan agama digital (Campbell 2005a, 2005b, 2007; Cloete 2016; Helland 2005). Beberapa peneliti telah menggunakan sejumlah pendekatan teoritis untuk studi agama digital, termasuk mediasi (Hoover 2006; Martin-Barbero 1993) dan mediatisasi (Giorgi 2019; Hjarvard 2011a, 2011b; Loveheim 2008). Secara umum, agama digital telah menarik perhatian sejak studi O'Leary tentang bagaimana internet berfungsi sebagai ruang sakral (O’Leary 1996). Campbell bahkan mengusulkan agama sebagai mikrokosmos baru dalam studi internet (Campbell 2012).