Abstrak: Penulisan ini memperlihatkan suatu upaya untuk “ Menganalisis makna Teologis korban Pethabisan Dalam Kitab 2 Tawarikh 7:4-10 Dan Relevansinnya Dengan Kebudayaan Ma’ tallu Rara Di Kecamatan Bittuang Tana Toraja yang dinilai sebagai suatu seremoni belaka tanpa mengedepankan makna Teologis yang terkadung didalamnya. Dalam upaya menganalisis makna Teologis korban Penthabisan dalam Kitab 2 Tawarikh 7:4-10 dan Relevansinya dengan Kebudayaan Ma’Tallu Rara Dikecamatan Bittuang Tana Toraja†Maka penulis menggunakan jenis metode penelitian kualitatif yang data-datanya diperoleh melalui studi Pustaka, observasi serta wawancara. Setelah berupaya semaksimal mungkin dalam melakukan penelitian dan menganalisis hasil penelitian, akhirnya penulis dapat sampai pada suatu kesimpulan bahwa penthabisan yang dilakukan salomo dalam 2 Tawarikh 7:4-10 dalam mempersembahkan korban sembelihan untuk methabiskan rumah Allah hampir sama halnya dengan kebudayaan Ma’Tallu rara yang dilakukan oleh masyarakat bittuang dalam mempersembahan korban Baik dalam acara Rambu solo (kedukaan) Rambu tuka (syukuran) . Yang mana Ma’ Tallu rara merupakan penuntun, penunju, mecium semua yang terjadi sebagai penjamin dan penjaga keamanan penghuni rumah juga sebagai bentuk pengakuan dosa, dan sebagai ungkapan rasa syukur serta permohonan berkat. Abstract: This paper contains the purpose of research in an effort to "Analyze the theological meaning of the Pethabisan victim in the Book of 2 Chronicles 7:4-10 and its relevance to the Ma'talu Rara Culture in Bittuang Tana Toraja District which is considered a mere ceremony without prioritizing meaning. Theology contained in it. In an effort to analyze the theological eating of the Penthabisan victims in 2 Chronicles 7:4-10 and its relevance to the Ma'Tallu Rara Culture in the Bittuang Tana Toraja district, the author uses qualitative research methods whose data are obtained through library studies, observations and interviews. After trying as much as possible in conducting research and analyzing the results of the research, finally the author can come to a conclusion that the penthabisan done by Solomon in 2 Chronicles 7:4-10 in offering sacrifices to finish the house of Allah is almost the same as the culture of Ma'Tallu rara which carried out by the Bittuang community in offering victims Both in the Rambu solo (mourning) event Rambu tuka (thanksgiving). Where Ma 'Tallu rara is a guide, a guide, kissing everything that happens as a guarantor and security guard for the residents of the house as well as a form of confession of sins, and as an expression of gratitude and a request for blessings.