Devi Apyunita
Universitas Negeri Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Cerminan Sosial Tradisi Suku Bugis-Makassar dalam Film Uang Panai’ Maha(R)L Devi Apyunita
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i1.2306

Abstract

Penelitian mengkaji sebuah film dengan menggunakan kajian sosiologi sastra model Ian Watt. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)konteks sosial pengarang; (2)sastra sebagai cerminan masyarakat; (3)fungsi sosial sastra dalam film Uang Panai’ Maha(r) oleh Amril Nuryan. Penelitian ini menggunakan Jenis penelitian kualitatif dengan metode deksriptif yang mendeskripsikan wujud sosiologi sastra. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi dan teknik wawancara. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan mendeskripsikan dalam film Uang Panai’ Maha(r) oleh Amril Nuryan mengandung aspek sosiologi sastra, yaitu: konteks sosial pengarang film Uang Panai’ Maha(r) oleh Amril Nuryan sebagai produser, sutradara, konseptor film dan melakukan pekerjaan lain. Amril Nuryan tidak pernah menganggap bahwa pekerjaannya adalah suatu profesi karena Amril Nuryan merasa dengan memiliki banyak pekerjaan itu bisa menambah ilmu dan pengalamannya. Sastra sebagai cermin masyarakat dalam film Uang Panai’ Mahal menunjukkan Uang Panai’ sangat berpengaruh besar terhadap pembatalan sebuah pernikahan, dan fungsi sosial sastra menunjukkan adanya nilai-nilai sosial seperti religius dan nilai moral (percaya diri, rajin menabung). Film Uang Panai’, mengisahkan tentang cerminan sosial tradisi Suku Bugis-Makassar, yaitu uang panai’ dengan tujuan untuk hiburan kepada khalayak, pendidikan moral dan karakter, serta memberikan informasi bagi masyarakat dalam kehidupan bersosial. Penerapan nilai-nilai moral dan religius yang terdapat dalam film Uang Panai’ Maha(r)l, sangat baik dijadikan contoh untuk pendidikan karakter dengan tujuan membentuk individu ke arah yang lebih baik.
Narasi Kebencian di Era Digital: Studi Kasus Hujatan Netizen terhadap Abidzar Al-Ghifari dalam Kontroversi Remake K-Drama Business Proposal Ade Yustina; Devi Apyunita; Aritiastary Aritiastary; Sri Mei Maharani Putri
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ujaran kebencian, faktor penyebab kemunculannya, serta dampak sosial yang ditimbulkan pada kasus hujatan netizen terhadap Abidzar Al-Ghifari dalam kontroversi remake Business Proposal. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa komentar netizen pada akun Instagram Abidzar yang diperoleh melalui teknik dokumentasi. Data dianalisis melalui klasifikasi bentuk ujaran, pengelompokan tema, serta interpretasi konteks sosial-budaya yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama ujaran kebencian, yaitu sarkasme, kritik kasar, dan ujaran provokatif, dengan sarkasme sebagai bentuk yang paling dominan. Munculnya hujatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pernyataan kontroversial aktor terkait proses adaptasi drama, sensitivitas penggemar K-Drama terhadap karya asli, nilai budaya kolektif yang menjunjung kesopanan, anonimitas pengguna media sosial, serta framing negatif oleh media daring. Ujaran kebencian tersebut berdampak pada munculnya cancel culture, pembentukan stigma negatif terhadap Abidzar, dan potensi kerugian bagi industri hiburan. Penelitian ini menegaskan bahwa dinamika komunikasi digital memiliki peran signifikan dalam membentuk opini publik dan menentukan konstruksi citra figur publik di era media sosial.