Aida Muyasaroh
Maksi FEB UGM

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS TINGKAT DAN KUALITAS PENGUNGKAPAN ASET TAK BERWUJUD PADA PERUSAHAAN BERBASIS ILMU PENGETAHUAN ATAU TEKNOLOGI DI INDONESIA Aida Muyasaroh
ABIS: Accounting and Business Information Systems Journal Vol 7, No 4 (2019): November
Publisher : Master in Accounting Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/abis.v7i4.58864

Abstract

 Inti sari Tujuan – Penelitian ini menganalisis tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud oleh perusahaan berbasis ilmu pengetahuan atau teknologi di Indonesia dengan menggunakan kerangka kerja Sveiby (1997) yang dikembangkan oleh Guthrie dan Petty (2000).Metode penelitian – Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis konten. Penelitian ini terbatas pada informasi aset takberwujud yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan tahun 2017. Sampel penelitian ini berjumlah 84 perusahaan terbuka di Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau teknologi.Temuan – Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal eksternal adalah kategori aset takberwujud yang paling banyak diungkapkan dengan tingkat pengungkapan 28%, sedangkan modal internal adalah yang paling sedikit diungkapkan. Di antara pengungkapan sukarela, modal manusiawi adalah kategori aset takberwujud yang memiliki kualitas pengungkapan paling tinggi, yaitu 55%. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk adalah perusahaan dengan tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud tertinggi. Tingkat pengungkapan perusahaan sampel berada pada kategori cukup yaitu 71%, sedangkan kualitas pengungkapan perusahaan sampel berada pada kategori rendah yaitu 49%.Orisinalitas – Penelitian ini merupakan studi pertama di Indonesia yang secara bersamaan menganalisis tingkat dan kualitas pengungkapan aset takberwujud baik sukarela maupun wajib. Belum banyak peneliti yang menganalisis kualitas pengungkapan aset takberwujud dengan menggunakan kerangka kerja Sveiby (1997) di Indonesia.