Mikka Wildha Nurrochsyam, Mikka Wildha
Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Humanisme dalam Tradisi Kubur Batu Megalitik di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Nurrochsyam, Mikka Wildha
KALPATARU Vol 21, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.306 KB) | DOI: 10.24832/kpt.v21i1.102

Abstract

Tradisi kubur batu di Sumba merupakan salah satu budaya kolosal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bagi masyarakat Sumba, kesadaran tentang hidup sesudah mati telah melahirkan tradisi kubur batu yang unik dan spektakuler. Penelitian ini memperlihatkan dua aspek dinamika budaya dalam tradisi kubur batu megalitik, yaitu proses internalisasi dan akulturasi budaya. Selanjutnya, saya akan memperlihatkan adanya aspek humanisme sebagai dasar penting dalam dinamika budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan melakukan wawancara mendalam serta dukungan studi pustaka. Obyek penelitian adalah tradisi kubur batu megalitik di Sumba yang dilihat menurut sisi dinamika budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bermanfaat sebagai orientasi untuk melihat adanya dinamika kebudayaan dalam masyarakat, dan melihat orientasi bagi perkembangan budaya yang bermartabat. Abstract. Humanism in the Megalithic Stone Burial in Sumba, East Nusa Tenggara. The tradition of stone burial in Sumba Island is one of the colossal and exotic cultures owned by the nation of Indonesia. For the people of Sumba, awareness on life after death has spawned a unique and spectacular tradition of megalithic stone burial. This study illustrates two important aspects of cultural dynamics in the tradition of megalithic stone burial, namely internalization and acculturation processes. I will also reveal a fundamental aspect of humanism as a very important role in the dynamics of culture. This study uses qualitative methods, which are depth interviews and observations, supported by library research. The object of this research is stone burial tradition seen from the dynamics of culture to enhance the dignity of its community. Result of this research is useful as an orientation to understand the cultural dynamics of a society, and to view the orientation for the development of more humane culture.
Wayang as an Instrument of Indonesia’s Nation Branding through Public Diplomacy Khairunnisa, Najwa Dzakkiyah; Dermawan, Windy; Nurrochsyam, Mikka Wildha
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v8i1.62905

Abstract

Wayang is a form of cultural heritage originating from Indonesia and is recognized in various local traditions, including Javanese, Sundanese, and Balinese cultures. Initially, Wayang functioned as a medium for communicating with ancestral spirits; however, over time, it has evolved into a medium for conveying messages, providing entertainment, and educating the public. Wayang has been officially acknowledged by UNESCO as an Intangible Cultural Heritage of Humanity. Indonesia’s appreciation of Wayang is further institutionalized through National Wayang Day, which is celebrated annually on 7 November. Nevertheless, Indonesia has yet to establish a distinctive “brand” that effectively introduces Wayang to international audiences. This study employs a qualitative approach based on a literature review. It aims to explore the potential of Wayang as Indonesia’s national brand. The findings indicate that Wayang has strong potential to serve as Indonesia’s brand, as it contributes to cultural preservation, supports economic development through the empowerment of related industries, promotes cultural tourism, and helps enhance Indonesia’s international image as a country rich in culture and values. Therefore, this article argues that the development of Wayang as Indonesia’s brand requires the synergy of three key pillars: the government, art and cultural organizations, and digitalization. These three pillars must work in tandem to successfully position Wayang as Indonesia’s national brand. Wayang merupakan warisan budaya yang berasal dari Indonesia. Wayang sangat familiar di berbagai kebudayaan Indonesia seperti kebudayaan Jawa, Sunda, dan Bali. Awalnya, Wayang digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan roh nenek moyang namun seiring dengan berjalannya waktu, Wayang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan, menghibur, dan mengedukasi massa. Wayang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda yang luar biasa oleh UNESCO. Apresiasi Indonesia terhadap Wayang telah diperkuat dengan perayaan Hari Wayang Nasional setiap 7 November. Akan tetapi, Indonesia belum memiliki “merek” yang membuat masyarakat asing mengenal Wayang secara lebih baik. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi pustaka. Kajian ini bertujuan untuk melakukan ekplorasi mengenai Wayang sebagai merek Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wayang dapat digunakan sebagai “merek” Indonesia yang bermanfaat karena bisa mendukung proses pelestarian budaya, meningkatkan ekonomi yang bisa memberdayakan industri terkait, mendukung pariwisata budaya, dan memproyeksikan citra yang positif Indonesia sebagai negara dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang kaya. Agar Wayang bisa maju sebagai merek Indonesia, terdapat tiga hal fundamental: pemerintah, organisasi seni dan budaya, serta proses digitalisasi. Tiga pilar tersebut perlu berjalan bersamaan untuk mewujudkan Wayang sebagai merek Indonesia.