Perusahaan pembuat besi dan baja seperti yang kita ketahui memiliki potensi bahaya kebakaran yang tinggi karena proses pembuatannya menggunakan suhu diatas 400°C. Kemampuan pekerja dalam upaya mengurangi risiko kebakaran dan tanggap darurat kebakaran sangat diperlukan. Dimasa pandemi COVID-19 ini seluruh pelatihan dilaksanakan melalui online termasuk pelatihan simulasi kebakaran. Sehingga peneliti ingin mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan pada simulasi online dan simulasi praktik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif quasi eksperimen dengan metode pre-test dan post-test design pada 50 pekerja dengan membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan pelatihan simulasi secara online dan kelompok lainnya menggunakan simulasi praktik langsung. Dua kelompok tersebut mengisi pre-test dan post-test lalu diuji secara statistic menggunakan uji non parametric dengan Wilcoxon Signed Ranks Test dan Mann-Whitney Test. Didapatkan hasil Pvalue <0,05 untuk simulasi online dan praktik yang berarti terdapat perbedaan sebelum simulasi dan sesudah simulasi. Hasil menunjukkan pemberian simulasi praktik memiliki nilai signifikasi yang lebih kecil daripada simulasi praktik, yang berarti sikap pekerja dalam pemberian simulasi secara praktik lebih baik daripada pemberian simulasi secara online. Sebaiknya perusahaan tetap melakukan simulasi kebakaran secara praktik langsung untuk hasil yang maksimal dimasa pandemic COVID-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.