The face can display how the emotion of a human. Some research concluded that it is possible to be different details of emotion and event. As found in the gender studies, men and women are having professional anger in both statuses for their own emotions. Especially for women who are actively become netizens of social media such as Facebook, Twitter, and Instagram are predictively more interactive in that media and have various emotions to say and receive anything from them. The critical introduction of social media from N. Bakić-Mirić explained a wide variety of topics including how to define the characteristics of new media; social and political uses of new media and new communications; new media technologies, politics, and globalization; everyday life and new media; theories of interactivity, simulation, the new media economy; cybernetics, cyberculture, the history of automata and artificial life. Therefore, more specifically, women have the psychology of becoming women in social media. Applying qualitative methodology, this study explores what cyberpsychology extend to women and how their emotion be on social media. The research contributes to women on to be careful with social media. [Wajah pada kesempatannya mampu menampilkan bagaimana emosi manusia. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan adanya emosi dan peristiwa tertentu dalam konteks yang berbeda. Sebagaimana dalam studi gender, pria dan wanita mengalami kemarahan yang bermakna dari ungkapan untuk emosi mereka sendiri. Khususnya bagi perempuan yang aktif menjadi warganet di media sosial seperti facebook, twitter dan instagram; perempuan diprediksi lebih interaktif dalam media tersebut dan memiliki berbagai emosi untuk menyampaikan dan menerima apa pun dari. Pengenalan kritis media sosial dari N. Bakić-Mirić dijelaskan dalam berbagai topik termasuk: bagaimana mendefinisikan karakteristik media terbarukan; penggunaan media baru dan komunikasi baru secara sosial dan politik; teknologi media baru, politik dan globalisasi; kehidupan sehari-hari dan media baru; teori interaktivitas, simulasi, ekonomi media baru; sibernetika, budaya siber, sejarah automata dan kehidupan buatan (maya). Oleh karena itu, terkhusus lagi, perempuan memiliki psikologinya sendiri untuk menjadi perempuan di media sosial. Menerapkan metodologi kualitatif, studi ini mengeksplorasi pertanyaan penelitian seperti: apa pengertian psikologi-siber yang terdapat pada perempuan dan bagaimana emosi mereka di media social. Hasil dari penelitian ini, adalah memberikan wawasan kepada wanita agar lebih peduli pada dirinya sendiri dalam penggunaan media sosial.]