Roma Ulinnuha
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Resistensi Perempuan Iran Terhadap Kebijakan Wajib Berhijab Pada Era Hassan Rouhani Nabilah Wafa Wijayanto; Roma Ulinnuha
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.2102.171-186

Abstract

Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, Khomaeni berhasil meningkatkan kembali nilai-nilai keislaman yang sebelumnya mengalami kemunduran karena pemimpin Shah yang sangat menjungjung tinggi budaya Barat. Salah satunya yaitu ketaatan dalam penggunaan hijab bagi perempuan Iran. Kebijakan wajib berhijab bagi perempuan Iran resmi dikeluarkan pada 7 Maret 1979, tidak ada toleransi dalam hal tersebut meski sehari setelahnya demonstrasi dilakukan oleh para perempuan Iran yang mayoritas menolak kebijakan tersebut. Artikel ini menelaah mengenai resistensi perempuan Iran terhadap kebijakan wajib berhijab dengan menggunakan perspektif Feminisme Fatima Mernissi. Dalam pandangan Mernissi, hijab merupakan hasil dari kontruksi sosial dan mencerminkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Melihat realitas pemaksaan untuk berhijab di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, Mernissi mencoba untuk menelaah kembali dan menginterprertasi teks yang menjadi landasan dalam hukum berhijab. [The victory of Iran's Islamic revolution in 1979, Khomaeni succeeded in re-increasing Islamic values which had previously suffered a setback because of the Shah's leader who highly respected Western culture. One of them is obedience in the use of hijab for Iranian women. The mandatory hijab policy for Iranian women was officially issued on March 7, 1979, there is no tolerance for this even though the day after demonstrations were carried out by Iranian women, the majority of whom rejected the policy. This article examines the resistance of Iranian women to the mandatory hijab policy using the feminist perspective of Fatima Mernissi. In Mernissi's view, the hijab is the result of social construction and reflects the dominance of men over women. Seeing the reality of being forced to wear the hijab in a number of countries in the Middle East region, Mernissi tries to re-examine and interpret the text that forms the basis for the hijab law.]  
PERILAKU DUGEM MAHASISWA: IDENTIFIKASI PENYEBAB DAN METODE KONSELING Studi Kasus Event Senin Malam Party Muhamad Alif Maulana; Roma Ulinnuha
Al Irsyad : Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 14, No 02 (2023): Volume 14 Nomor 02 Tahun 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jbki.v14i02.6504

Abstract

Penelitian ini berusaha mengidentifikasi penyebab perilaku dugem pada mahasiswa dan merancang metode konseling yang efektif untuk mengatasi fenomena tersebut. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk dapat memberikan pandangan yang lebih mendalam tentang dinamika perilaku dugem pada mahasiswa serta memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan metode konseling yang dapat membantu mengatasi perilaku menyimpang. Fokus utama penelitian ini adalah pada studi kasus Event Senin Malam Party yang menjadi representasi kegiatan dugem yang populer di kalangan mahasiswa. Melalui metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap mahasiswa yang aktif terlibat dalam event tersebut. Hasil penelitin ini menunjukkan penyebab mahasiswa menggemari clubing adalah adanya bentuk konformitas terhadap perilaku kelompok tempat individu tersebut bergaul. Selain itu, dugem juga dianggap sebagai bentuk pengaruh habitus yang terinternalisasi pada individu sebagai agen untuk membentuk perilaku. Analisis mendalam terhadap faktor-faktor tersebut memberikan wawasan yang diperlukan untuk merancang metode konseling yang tepat sasaran. Dalam merancang metode konseling, pendekatan holistik yang mencakup aspek psikologis, sosial, dan akademik diintegrasikan untuk memberikan dukungan komprehensif kepada mahasiswa.
Resiliensi Menuju Konstruksi Lifeskill : Studi Kasus Relasi Pemuda dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk Karya Buya Hamka M Muhajir; Roma Ulinnuha
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 11: Oktober 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i11.2319

Abstract

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah sebuah film tentang percintaan sepasang kekasih yang terhalang oleh perbedaan latar belakang sosial dan budaya serta adat istiadat yang berlaku di Minangkabau. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji proses resiliensi tokoh dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, adegan yang menjadi subjek penelitian terdiri dari dua adegan: adegan pertama menunjukkan kondisi depresi tokoh, dan adegan kedua menjelaskan faktor-faktor yang meningkatkan resiliensi tokoh. Faktor eksternal seperti efikasi diri dan dukungan sosial merupakan dua dari sekian banyak faktor yang meningkatkan resiliensi.
Pemanfaatan Internet Sehat Guna Meningkatkat Norma Kesusilaan : Perspektif: Sosiologi Pengetahuan Farid Abdul Ghofur; Roma Ulinnuha
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 11: Oktober 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i11.2338

Abstract

Semakin berumurnya zaman semakin maju dan berkembang pula teknologi yang berbentuk internet. Jika dilihat dengan kacamata dari segi norma kesusilaan yang kemudian dibawa atau dikaitkan dengan teknologi didunia maya, maka banyak nilai-nilai kesusilaan yang menyimpang dalam berdunia maya. Norma kesusilaan sendiri bisa diartikan sebagai suatu aturan berbentuk nilai yang terkandung didalam diri pribadi seseorang, yang mana norma itu nantinya dapat bernilai baik maupun buruk tergantung penempatannya. Salah satu contoh kasus penyimpangan yang terjadi didalam dunia maya adalah “CyberSex”. Dapat dipahami Cybersex ini terjadi kepada seseorang yang sedang beraktivitas menggunakan Internet sebagai media Interaksi dengan orang lain yang tujuannya untuk mendapatkan kepuasan seksual pribadinya. Untuk mencegah adanya lagi tindakan penyimpangan yang terjadi dalam dunia maya, maka perlu adanya pengetahuan yang mendalam mengenai kegunaan dalam berdunia maya, guna untuk menciptakan nilai-nilai dalam norma kesusilaan yang baik dan benar.