Wijayanti Fuad
Staff Pengajar Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR RISIKO NOISE INDUCED HEARING LOSS (NIHL) AKIBAT KERJA PADA PEKERJA PABRIK PT KAYU PERKASA RAYA Alya Yasmin Adhi; Wahyu Budi Martono; Wijayanti Fuad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 3 (2023): Volume 10 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i3.9488

Abstract

Abstrak: Analisis Faktor Risiko Noise Induced Hearing Loss (NIHL) Akibat Kerja pada Pekerja Pabrik PT Kayu Perkasa Raya. Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah penyakit akibat kerja berupa tuli sensorineural yang disebabkan karena pajanan bising di lingkungan kerja dengan intensitas bising tinggi dan lama paparan semakin lama yang berakibat rusaknya sel-sel rambut telinga dalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) pada pekerja pabrik PT Kayu Perkasa Raya. Penelitian observasional analitik dengan cross sectional dengan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 48 responden pekerja pabrik PT Kayu Perkasa Raya menggunakan purposive sampling. Data diambil menggunakan kuesioner dan pemeriksaan audiometri yang kemudian dianalisis bivariat dengan Chi-Square didapatkan hasil hubungan yang tidak bermakna antara usia dengan NIHL (p=0.133), masa kerja dengan NIHL (p=0.168), dan hobi/aktivitas bising dengan NIHL (p=1).
PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTARA TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF DAN TERAPI SLOW DEEP BREATHING TERHADAP TINGKAT KECEMASAN LANSIA DI RUMAH PELAYANAN SOSIAL PUCANG GADING SEMARANG Aulade Ayu Amanullah; Novita Sari Dewi; Wijayanti Fuad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i6.9910

Abstract

Abstrak: Perbedaan Efektivitas Antara Terapi Relaksasi Otot Progresif Dan Terapi Slow Deep Breathing Terhadap Tingkat Kecemasan Lansia Di Rumah Pelayanan Sosial Pucang Gading Semarang. Lansia merupakan salah satu kelompok atau populasi berisiko (population at risk) yang semakin meningkat jumlahnya. Batasan lanjut usia menurut UU Nomor 13 tahun 1998, adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Masalah psikososial yang paling banyak terjadi pada lansia seperti kesepian, perasaan sedih, depresi dan ansietas (kecemasan). Relaksasi otot progresif adalah suatu terapi yang berpusat pada otot agar menjadi relaks, metodenya dengan cara meregangkan otot dengan cara fokus pada ketenangan, seluruh otot anggota gerak pertama-tama dikontraksikan terlebih dahulu, lalu diikuti oleh relaksasi. Slow deep breathing merupakan salah satu bagian dari latihan relaksasi dengan teknik latihan pernapasan yang dilakukan secara sadar untuk mengatur pernapasan secara dalam dan lambat. Tujuan dari penelitian iniĀ  untuk mengetahui perbandingan keefektivitasan antara terapi relaksasi otot progresif dan terapi slow deep breathing terhadap tingkat kecemasan pada lansia. Jenis penelitian penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen semu (quasi experiment) dengan metode pretest dan postest (one group pre test and post test design). Responden sebanyak 49 lansia diolah dengan uji mann whitney dan wilconxon. Kuisioner kecemasan menggunakan kuisioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SRAS). Analisis data dilakukan dengan uji beda berpasangan dengan uji paired t atau uji Wilcoxon. Uji beda tidak berpasangan dengan uji independent t atau mann whitney. Uji beda berpasangan didapatkan nilai selisih pre test dan post test relaksasi otot progresif p = <0,001 dan pada slow deep breathing p = <0,001 adalah signifikan (p < 0,05). Sedangkan pada uji beda tidak berpasangan antara terapi relaksasi otot progresif dan slow deep breathing didapatkan pada kecemasan pre, kecemasan post dan selisih kecemasan tidak signifikan (p < 0,05). dengan nilai p = 0,269. Kedua terapi tersebut memiliki tingkat keefektivitasan yang sama, keduanya tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga terapi relaksasi otot progresif dan slow deep breathing sama-sama efektif dalam menangani kecemasan dan dapat menurunkan tingkat kecemasan.