Persentase entri data Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) di Kabupaten Ngawi pada aplikasi PIS PK 2.0 sebelum dilaksanakannya migrasi data adalah sebesar 8,8% dari 303.338 KK. Base coding antara aplikasi IKSENGA dengan aplikasi PIS PK 2.0 tidak dapat dilakukan bridging. Beberapa hambatan menjadi faktor dalam proses migrasi data sehingga perlu adanya analisis prioritas masalah untuk optimalisasi capaian entri data PIS PK. Kebaruan penelitian ini karena meneliti tentang hambatan migrasi data dari aplikasi IKASENGA ke PIS PK 2.0. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis permasalahan prioritas kendala dalam migrasi data dari aplikasi IKSENGA ke aplikasi PIS PK 2.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Petugas koordinator PIS PK di 24 puskesmas dalam lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi merupakan informan pada penelitian ini terdiri dari programmer setiap 12 indikator, kader desa, dan bidan desa. Metode keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Analisis data berdasarkan nilai modus dan teknik analisis fishbone. Hasil analisis fishbone menunjukkan bahwa prioritas masalah yang menjadi hambatan migrasi data adalah keterbatasan sumber daya manusia dalam tim penginput data PIS PK (Manpower), keterbatasan pemahaman tim PIS PK untuk mengoperasikan aplikasi PIS PK 2.0, keterbatasan sarana laptop, dan ketidakstabilan jaringan internet dengan nilai modus “Ya†masing-masing sebesar 100%, 75%, dan 62,5%. Kesimpulan bahwa hambatan berupa faktor manpower (keterbatasan sumber daya manusia yang berperan sebagai petugas entri data PIS PK dan keterbatasan pemahaman tim PIS PK dalam pengentrian data PIS PK) dan faktor material (keterbatasan sarana berupa laptop).Kata Kunci: Aplikasi IKSENGA; Hambatan; Migrasi data; PIS PK 2.0.