Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy
UIN Sunan Gunung Djati

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NASKAH TUḤFAH AL-MURSALAH (MAA.021) MASJID AGUNG SURAKARTA; KONSEP POSISI SALIK DALAM MARTABAT MENUJU MAQAM ‘ILAHIYYAH. Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy; Sangidu Sangidu
Metahumaniora Vol 13, No 1 (2023): METAHUMANIORA, APRIL 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i1.45667

Abstract

Syaikh Fadhdlulah Al-Burhanpuri dalam karyanya yang berjudul Tuḥfah Al-Mursalah Ilā Ar-Rūh An-Nabiy mengungkapkan bahwa manusia memiliki posisi khusus yang bisa dilalui atau dijalani dengan berbagai macam cara. Nilai-nilai ketuhanan yang ada dalam diri manusia akan terbangun dan berfungsi sebagai titian yang akan menghantarkan dirinya kepada sang Wujūd. Dalam teks Tuḥfah Al-Mursalah Ilā Ar-Rūh An-Nabiy; terdapat tujuh martabat manusia dan berahir pada martabat insan kamil yang memiliki arti manusia yang sempurna. Manuskrip yang ada dalam penelitian ini berasal dari perpustakaan Masjid Agung Surakarta dengan kode teks MAA.021. Tujuan Penelitian ini mengungkap bagaimana konsep posisi salik dalam martabat menuju maqam ‘ilahiyyah sesuai dengan yang ada dalam manuskrip Tuḥfah. Untuk menjelaskan bagaimana posisi salik dalam maqam ‘ilahiyyah, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode filologis dan metode resepsi sastra Woflgang Iser (Repertoire), dengan pemaknaan pembaca individual terhadap teks maka nantinya konsep-kosep yang ditawarkan oleh Syaikh Burhanpuri dalam manuskrip Tuḥfah Al-Mursalah Ila Ar-Rūh An-Nabiy bisa dijelaskan dengan lugas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salik yang melakukan perjalanan spiritual menjadi ‘insān kāmil memerlukan pemahaman yang luas mengenai martabat tujuh, sehingga tidak terjebak dalam “wahdah Al-Wujūd” yang salah, untuk melakukan perjalanan tersebut diperlukan sikap Qurb Farā’id dan Nawāfil kepada memiliki Wujud.
Bahasa Inggris: Bahasa Indonesia M. Arifurrahman Hasyim; Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 9 No 1 (2026): Hijai - Journal on Arabic Language and Literature
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v9i1.58275

Abstract

This study examines how Yusuf al-Siba‘i’s Naib Izrail turns death into a narrative mechanism that destabilizes the legitimacy of office, honor, and public recognition. Previous studies have identified its religious messages, social criticism, representation of the Angel of Death, and authorial subjectivity, but have not explained how the novel withdraws symbolic recognition from dominant actors. Using Pierre Bourdieu’s concepts of doxa, symbolic capital, symbolic power, and legitimate language, the study applies qualitative close reading to narration, dialogue, characterization, and episodes involving Yusuf, Izrail, elites, and ordinary people. The findings show that worldly authority is constructed as a doxic order that misrecognizes status as moral worth; Izrail’s authorized speech reverses human hierarchies; death prevents elite capital from converting into immunity; and fantastic satire exposes manipulation, materialism, and governmental abuse. Death is therefore not symbolic power itself, but a counter-classificatory device that interrupts doxa and reveals human legitimacy as contingent within society.