Role play adalah campuran antara terapi conditioned refleks (reflek terkondisi) dari salter, teknik psikodrama dari Moreno, dan fixed role terapy (terapi peran tetap) dari Kelly. Kemendikbud menyebutkan 4 macam di antaranya, bullying secara verbal, bullying secara sosial, bullying secara fisik dan bullying secara cyber. Korban bullying rentan mengalami masalah kesehatan fisik dan mental. Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang dilaksanakan dalam suatu kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok sehingga anggota dapat mengembangkan potensi diri sekaligus memperoleh manfaat dari pembahasan topik masalah. Instrumen data penelitian berupa angket. Dengan menggunakan kertas, kuesioner dibagikan kepada 10 responden siswa. Waktu penelitian akan menyesuaikan dengan jadwal pelayanan bimbingan konseling yakni 1 JP setiap minggu. Penelitian ini menunjukkan bahwa menulis dengan menggunakan teknik role playing dapat diharapkan bahwa dapat mereduksi perilaku bullying. Sehingga siswa dapat memiliki pemahaman lebih tentang perilaku bullying. Selain itu, siswa akan tidak lagi melakukan perilaku bullying. Terdapat peningkatan pada pemahaman siswa tentang perilaku bullying. Pada siklus I sebanyak 45% sedangkan pada siklus II sebanyak 51,66 % siswa memiliki pengetahuan yang kuat tentang bahaya, penyebab dan dampak buruk dari perilaku bullying. Siswa pun sangat setuju dengan penggunaan teknik role playing dalam pemberian layanan bimbingan kelompok dapat mereduksi perilaku bullying siswa. Karena sebanyak 76,67% siswa menyatakan teknik role playing dapat mereduksi perilaku bullying disekolah. Siswa sangat menyukai role play dalam pelaksanaan bimbingan kelompok. Setelah melaksanakan role playing ini responden menjadi pelopor anti bullying di sekolah. Serta pengalaman yang dipetik siswa dari bertukar cerita ketika role play pada pelaksanaan bimbingan kelompok.