Rizqi Ratna Paramitha
Program Studi Sosiologi, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FUNGSI, MAKNA, DAN NILAI DARI TRADISI BODO LOPIS DI DESA KRAPYAK, KOTA PEKALONGAN Rizqi Ratna Paramitha
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.60177

Abstract

Tradisi syawalan bagi masyarakat muslim di Jawa, salah satu tradisi yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal, atau seminggu setelah hari raya Idulfitri. Syawalan ini bisa disebut sebagai bodo kupat, istilah yang dipakai oleh masyarakat untuk menyebut tradisi syawalan, sebab hidangan yang disajikan adalah ketupat, tetapi tidak semua daerah menyajikan ketupat dalam tradisi syawalan. Di Kota Pekalongan dikenal dengan bodo lopis sebab hidangan yang disajikan adalah lopis. Lopis adalah kue yang dibuat dari olahan beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk bulat lonjong, maupun segitiga dan dinikmati dengan baluran parutan kelapa dan gula merah. Sejarah kue lopis merupakan makanan peranakan Cina yang berakulturasi dengan budaya Cina, Jawa, dan Arab. Pemilihan sajian kue lopis sebagai hidangan utama dalam tradisi syawalan di Desa Krapyak mempunyai makna dan filosofi sendiri sehingga dalam tulisan ini penulis tertarik untuk mengkaji makna fungsi dan nilai dari tradisi bodo lopis di Desa Krapyak, Kota Pekalongan dengan menggunakan pendekatan semiotika yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tradisi bodo lopis mempunyai makna persaudaraan yang erat dengan menjalin silaturahmi antar masyarakat kembali suci setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dilanjutkan dengan puasa syawal yang disimbolkan kue lopis sebagai sajian utama. Kata kunci: Fungsi Makna; Nilai; Bodo Lopis; Desa Krapyak; Kota Pekalongan