Noveryna Dwika Reztrie
Institut Teknologi Nasional Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Desain Jalur Pedestrian Jalan Dago Sebagai Infrastruktur Yang Mendukung Konsep Walkability Noveryna Dwika Reztrie; Annisa Rahma Fauzia; Kylie Dwi Andreas
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.8159

Abstract

AbstrakDalam mendukung pengembangan Kota Bandung menjadi ‘walkable city’, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan renovasi jalur pedestrian di beberapa titik. Salah satunya adalah Jalan Dago. Sebagai ikon dan pusat orientasi warga kota, uniknya kehadiran para pejalan kaki masih terlihat jarang di Jalan Dago. Karya tulis ini akan mengidentifikasi pengaruh fitur fisik dan streetscape di Jalan Dago dengan kehadiran pejalan kaki. Identifikasi dilakukan melalui analisis berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Reid Ewing. Data didapat melalui observasi langsung ke lapangan. Sebagai praktisi yang bergerak pada bidang perencanaan dan perancangan, sangatlah penting untuk mengetahui aspek apa saja yang mempengaruhi minat masyarakat untuk berjalan kaki di ruang publik. Isu terkait hubungan antara pengaruh lingkungan binaan dengan walkability ini masih terus dikembangkan bahkan oleh berbagai bidang seperti transportasi, perencanaan kota dan kesehatan masyarakat. Hasil dari identifikasi ini merekomendasikan beberapa hal untuk perencanaan pembangunan pedestrian termasuk pemahaman terhadap konteks terutama terkait kepadatan penduduk dan rencana tata ruang daerah. Hal ini akan berdampak pada penentuan zonasi kawasan. Sehingga, ketika dilakukan penentuan zonasi dapat direncanakan cara terbaik untuk mencapai value dari masing-masing kriteria jalur pedestrian yang memengaruhi walkability. Selain itu, penyediaan aksesibilitas untuk transit transportasi publik pun dapat memiliki dampak positif pada ‘kehidupan’ jalanan. Hal ini sejalan dengan teori “Great Street” yang dikemukakan oleh Allan Jacobs, dimana jalan yang baik harus mendukung konektivitas antar lokasi di dalam kota, juga dapat dengan mudah diakses. Selain itu, menurut Reid Ewing Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di sepanjang jalan sebaiknya bernilai tinggi dan fasad bangunan lebih baik didominasi oleh retail.Kata kunci: walkability, jalur pedestrian, Jalan DagoAbstractIn order to support the development of Bandung City to become a walkable city, the goverment had renovated pedestrian in several streets. Among them is the one on Dago Street. As the icon of the city and the orientation center of citizen, it is odd that pedestrians are rarely seen on Dago Street. This journal will identify the influence of physical fiture and streetscape on Dago Street within the presence of the pedestrians. The identification is carried out by analizing a theory brought out by Reid Ewing. While the data is taken from direct observation. As a practitioner in design and planning, it is important to know the aspects that encourage citizen’s desire to have a walk in public facility.The issue of  relation between built environment’s impact and walkability is been continously developed by various fields like trsasportation, urban planning and public health. The outcome of this identification would recommend some points for pedestrian development planning, such as understanding the context especially those that are related to population density and regional layout planning, as they would intervene area zoning. So, in zoning, it is possible to plan the best way to reach the value of every pedestrian path criteria that affect walkability. Moreover, providing accessibility for public transportation transit would give positive impact for pedestrian’s life. These are in line with “Great Street” theory by Allan Jacobs, where good street should support connectivity within location in the city and have an easy access.On the other hand, according to Reid Ewing, Floor Area Ratio (FAR) along the streets should be valuable and the façades should be dominated by retail.Keywords: walkability, pedestrians, Dago Street
KRITERIA PENILAIAN BANGUNAN HIJAU PADA HUNIAN VERTIKAL MENURUT PREFERENSI MASYARAKAT Noveryna Dwika Reztrie
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 4 No. 2 (2023): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v4i2.8576

Abstract

Bangunan hijau adalah bangunan yang pada proses pembangunan dan pemakaian sepanjang siklus hidupnya bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pembangunan tanpa tanggung jawab terhadap lingkungan dapat memberikan dampak negatif pada lingkungan dalam jangka panjang, minimal sepanjang daur hidup bangunan tersebut. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat mengenai konsep bangunan hijau menjadi penting mengingat manusia sebagai pengguna bangunan akan menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam bangunan. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan hijau perlu diselaraskan dengan perilaku hijau penggunanya. Di sisi lain, konsumsi energi terbesar di indonesia terdapat pada sektor bangunan yaitu sebesar 41%, sebagian besar konsumsi energi sektor bangunan tersebut diperuntukan untuk operasi bangunan khususnya bangunan residensial atau bangunan hunian. Perlu upaya khusus dalam memastikan penggunaan energi yang optimal dalam operasi bangunan hunian, khususnya pada hunian vertikal berlantai banyak dengan jumlah penghuni yang besar. Pemahaman yang baik atas konsep bangunan hijau pada penghuni, diharapkan dapat merubah perilaku penghuni yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan pada penggunaan dan pemeliharaan huniannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi masyarakat mengenai konsep bangunan hijaupada hunian vertikal. Penelitian dilakukan menggunakan mixed method untuk mendapatkan data yang valid berupa kriteria sederhana terkait bangunan hijau untuk hunian vertikal. Pada penelitian ini ditemukan tujuh kriteria bangunan hijau pada hunian vertikal menurut preferensi masyarakat, diantaranya kesehatan lingkungan, kenyamanan thermal, strategi pasif, privasi dan sirkulasi, efisiensi penggunaan sumber daya, lingkungan alami, dan manajemen air bersih. Dalam penelitan selanjutnya, evaluasi variabel laten dapat dikonfirmasi ulang dengan memasukkan sample pekerja profesional dan ahli bidang bangunan hijau untuk mendapatkan hasil yang representatif. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam perencanaan bangunan hunian vertikal yang beroriantasi pada konservasi lingkungan.