M. Zainuddin
Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kebebasan Beragama dan Demokratisasi di Indonesia M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.862 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.431

Abstract

The objective of this research is to understand the religious freedom and the process of democratization in Indonesia. The result of this research shows that the religious freedom in Indonesia is regulated by the law. In this sense, religious freedom means freedom to choose and believe in certain religion, it does not mean that people have freedom to be atheism. In fact, the religious freedom in Indonesia has not run well since there is a religion banned by claiming it as a wrong and deviate religion. Furthermore, the violence by a religion to another religion is common in social life. Tujuan penelitian ini untuk memahami kebebasan beragama dan proses demokratisasi di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama di Indonesia diatur oleh undang-undang. Dalam pengertian ini, kebebasan beragama berarti kebebasan memilih dan percaya pada agama tertentu, tidak berarti orang memiliki kebebasan untuk bersikap ateis. Sebenarnya, kebebasan beragama di Indonesia belum berjalan dengan baik karena ada agama yang dilarang dengan mengklaimnya sebagai agama yang salah dan menyimpang. Selanjutnya, kekerasan oleh agama ke agama lain biasa terjadi dalam kehidupan sosial.
Pendekatan Multikultural menuju Pemahaman Agama yang Plural M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.387 KB) | DOI: 10.18860/el.v7i2.4656

Abstract

We have the expectation of the birth of change which makes our life blissful. Among the educators and the intellects, a new awareness is now there for growing and developing the open-mindedness (inclusive) on religion comprehension. The birth of intellectual thinking of transformative Islam, liberal, inclusive, contextual, and many other terms whatsoever are the new era for desecration of the thought of Islam (alla taqsidiyyah). Moreover, the contemporary liberal-inclusive thoughts such as Hassan Hanafi, Arkoun, al Jabiri, al Naim, and so forth were already introduced to the young intellects generation in Indonesia. This article discusses about the absolute claims of some religions and also multicultural approach to create the harmony life among people with different religions. Kita masih memiliki harapan akan lahirnya perubahan yang menggembirakan. Di kalangan akademisi dan intelektual kita, kini telah muncul ‘kesadaran baru’ bagi tumbuh dan berkembangnya pemikiran terbuka (inklusif) dalam pemahaman agama. Munculnya pemikiran intelektual Islam transformative, liberal, inklusif, kontekstual, dan apapun istilahnya merupakan era baru bagi desakralisasi pemikran Islam (alla taqdisiyyah). Apalagi kemudian pemikiran-pemikiran kontemporer liberal-inklusif seperti Hassan Hanafi, Arkoun, al Jabiri, al Naim, dan seterusnya telah disosialisasikan oleh generasi intelektual muda di Indonesia. Artikel ini membahas klai-klaim absolut dari beberapa agama dan juga pendekatan multicultural untuk menciptakan kehidupan harmonis di kalangan umat beragama.
Haji dan Status Sosial: Studi tentang Simbol Agama di Kalangan Masyarakat Muslim M. Zainuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.704 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2764

Abstract

Religion as a fact and history has symbolic and sociological dimensions as a structure of abstract realm regardless of space and time. Pilgrimage substantially contains humanity values, such as the doctrines of equality, the necessity to preserve life, property, and honor of others, a ban of oppressing or exploiting the weak people, either economically or others. For example, releasing daily wear and changing it with ihram wear has meaning to erase the social gaps between the rich and the poor. That is the ideal teaching of pilgrimage making one aware that he is a social human. This paper is sociologically intended to see the phenomenon of pilgrimage in the Muslim society of Indonesia, especially in Java. The study showed that the pilgrimage of the majority of Indonesian Muslim is loaded with social attributes. Although the pilgrim is a part of the religion pillars, it has been utilized   by the local ruling elite as a political resource or a mean to establish power legitimacy. Agama sebagai fakta dan sejarah memiliki dimensi simbolis dan sosiologis sebagai struktur sebuah makna yang berada pada ranah abstrak, terlepas dari ruang dan waktu. Ibadah haji secara substansial mengandung nilai-nilai kemanusiaan, seperti ajaran tentang: persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah, baik di bidang ekonomi maupun bidang-bidang lain. Misalnya, menanggalkan pakaian yang dipakai sehari-hari dan menggantinya dengan baju ihram untuk menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Itulah harapan ideal ajaran haji untuk membuat pelakunya menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap fenomena haji dalam masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, secara sosiologis. Studi ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang dilakukan oleh mayoritas muslim Indonesia dipenuhi dengan atribut-atribut sosial. Meski merupakan salah satu pilar agama, ibadah haji telah digunakan elit penguasa lokal sebagai sumberdaya politik atau alat membangun legitimasi kekuasaan