Muhammad In'am Esha
Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hambatan dan Model Dialog Keagamaan di Era Kontemporer Muhammad In'am Esha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.305 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i2.4333

Abstract

This paper examines problems of religious dialogues in this contemporary era. The conclusion of this discussion suggests that religious dialogue is one of the important problems in the globalization era that becomes one of the alternative methods to anticipate religious conflicts in our society. There are many barriers to develop religious dialogues, such as the level of knowledge, social-political problems, and psychological and theological barriers. In the recent era, three models of religious dialogue can be developed, that is, theological dialogue, anthropological dialogue, and cosmological dialogue. Makalah ini membahas masalah dialog keagamaan di era kontemporer ini. Kesimpulan dari diskusi ini menunjukkan bahwa dialog keagamaan merupakan salah satu masalah penting di era globalisasi yang menjadi salah satu metode alternatif untuk mengantisipasi konflik agama di masyarakat kita. Ada banyak hambatan untuk mengembangkan dialog keagamaan, seperti tingkat pengetahuan, masalah sosial-politik, dan hambatan psikologis dan teologis. Di era baru-baru ini, tiga model dialog keagamaan dapat dikembangkan, yaitu dialog teologis, dialog antropologis, dan dialog kosmologis.
Agama Sikh di India: Sejarah Kemunculan, Ajaran dan Aktivitas Sosial-Politik Muhammad In'am Esha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.542 KB) | DOI: 10.18860/el.v8i1.4615

Abstract

The paper examines the Sikhism on its history, doctrines, and political activities. The Sikhism was founded by Guru Nanak whose ideology was initially closed to Islam and further moved to Hindu. However, the political conflict in India between Hindu and Islam is as one strong reason to make eclecticism. Therefore, the doctrines of Sikhism were taken from Islam on one side and Hindu on another side. It results in the Sikhism as a dualistic doctrine in its concept on God, human beings and nature. The Sikhism was involved conflict in India's society when the leader of Sikhism dragged in the political sphere. In the beginning it tried to mediate the conflict between Islam and Hindu. However, it turned to be a trigger into triangle conflict, The Sikh, Islam and Hindu. It becomes obvious that religion is not immune from political conflict, as politics can also become the conflict trigger among religions. Makalah ini mengkaji Sikhisme mengenai sejarah, doktrin, dan aktivitas politiknya. Sikhisme didirikan oleh Guru Nanak yang ideologinya awalnya tertutup bagi Islam dan selanjutnya beralih ke Hindu. Namun, konflik politik di India antara Hindu dan Islam adalah salah satu alasan kuat untuk membuat eklektisisme. Oleh karena itu, doktrin Sikhisme diambil dari Islam di satu sisi dan Hindu di sisi lain. Ini menghasilkan Sikhisme sebagai doktrin dualistik dalam konsepnya tentang Tuhan, manusia dan alam. Sikhisme terlibat konflik di masyarakat India ketika pemimpin Sikhisme menyeret dalam ranah politik. Pada awalnya ia berusaha menengahi konflik antara Islam dan Hindu. Namun, hal itu berubah menjadi pemicu konflik segitiga, Sikh, Islam dan Hindu. Menjadi jelas bahwa agama tidak kebal dari konflik politik, karena politik juga bisa menjadi pemicu konflik antar agama.
Kalam Aktual: Upaya Revitalisasi Ilmu Kalam Muhammad In'am Esha
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v6i2.4671

Abstract

The science of Kalam (Islamic theology) is a historical product which needs to be discussed and restored its ‘elan vital’. Its strategic position and content, since it directly relates to human’s fundamentalism aspect (human’s belief principles), should not be considered as something ‘holy’ and ‘sacred’. Kalam is no other than the experts’ manifestation of sense of social crisis in responding the problematic and mainstream thought at the time. Hence, in the mid of modern phenomenon, the challenge and mainstream thought faced by Moslem is a fate to hold a reposition and revitalization (actualization) of ‘elan vital’ of Kalam science. Each Moslem has an obligation to learn about the recent issues regarding pluralism and humanity crisis and to put it into a serious discussion in a modern perspective. Ilmu kalam adalah produk historis yang perlu untuk dikaji ulang dan dikembalikan elan vital-nya. Posisi dan kandungannya yang strategis, karena sangat bersentuhan dengan aspek fundamental manusia (pokok-pokok keyakinan manusia), hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang suci dan sakral. Ilmu kalam tidak lain merupakan manifestasi sense of social crisis para pemikir dalam merespon problematika dan mainstream pemikiran pada zamannya. Oleh karena itu, di tengah berbagai fenomena kekinian, tantangan dan mainstream pemikiran yang tengah dihadapai umat Islam adalah sesuatu yang niscaya untuk mengadakan reposisi dan revitalisasi (aktualisasi) elan vital ilmu kalam. Setiap Muslim diharuskan untuk mempelajari isu-isu terkini mengenai pluralism dan krisis kemanusiaan dan mendiskusikannya dalam perspektif era kontemporer.