Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN, KEADILAN, DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP EMPLOYEE ENGAGEMENT GENERASI MILLENNIAL DI KOTA JAKARTA Taufiq, Trengginas Wirabakti; Savitri, Lusi; Idawati, Dwi; Chandra, Julianita Kurniasari
Journal of Management and Business Review Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Research Center and Case Clearing House PPM School of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34149/jmbr.v16i1.147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan  pengembangan, keadilan, dan kepemimpinan terhadap  employee engagement generasi millennial di kota Jakarta. Keadilan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2, yaitu keadilan distributif dan keadilan prosedural. Sedangkan kepemimpinan dibagi menjadi kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis hasil kuesioner dari 391 orang karyawan generasi millennial di kota Jakarta yang disebar dengan teknik purposive sampling. Peneltian ini menggunakan SPSS 21 sebagai alat untuk melakukan analisis regresi linear berganda. Penelitian ini menunjukan bahwa secara simultan, pelatihan dan pengembangan, keadilan, dan kepemimpinan mempengaruhi employee engagement sebesar 49,2%. Sedangkan secara parsial, pelatihan dan pengembangan berpengaruh positif sebesar 0,465; keadilan distributif berpengaruh positif sebesar 0,177; keadilan prosedural berpengaruh positif sebesar 0,192; kepemimpinan transformasional berpengaruh positif sebesar 0,095; lalu kepemimpinan transaksional tidak mempengaruhi employee engagement generasi millennial di kota Jakarta. Dari semua variabel yang diuji, pelatihan dan pengembangan menjadi variabel berpengaruh paling signifikan terhadap employee engagement generasi millennial di kota Jakarta. Penelitian dapat memberikan masukan kepada manajer untuk dapat membuat strategi agar dapat meningkatkan employee engagement. Selain itu, saran untuk penelitian selanjutnya juga dibahas dalam penelitian ini. The purpose of this research is to understand the impact of training and development, justice, and leadership on employee engagement in millennials of Jakarta. Justice in this research is divided into distributive justice and procedural justice. Meanwhile, leadership is divided into transactional leadership and transformational leadership. This research is analyzing the questionnaire’s result of 391 millennials employee in Jakarta using purposive sampling technique. SPSS 21 is used for statistical analysis including regression.In this research, training and development, justice, and leadership, simultaneously, effecting employee engagement as much as 49.2%. Partially, training and development have 0.465 positive effect, distributive justice have 0.177 positive effect, procedural justice have 0.192 positive effect, transformational leadership have 0.095 positive effect, and transactional does not have effect on employee engagement in millennials in Jakarta. From all of the variables, training and development have the most impact on employee engagement in millennials in Jakarta. This research also provided insight for managers, so that they can formulate strategies to increase employee engagement. Suggestions for further research also discussed in this research.
ANALISIS PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA PT. XYZ Safrina, Prasastia Dessy; Sambang, Maria Karmelita; Idawati, Dwi
Journal of Management and Business Review Vol 13, No 1 (2016)
Publisher : Research Center and Case Clearing House PPM School of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34149/jmbr.v13i1.28

Abstract

Industri retail fashion accessories saat ini sedang berkembang pesat. Hal tersebut menjadi salah satu peluang bagi PT. XYZ sebagai salah satu pemain di industri tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan bisnis perusahaan untuk bisa meraih keuntungan dan menjadi pemain nomor satu di Asia Tenggara. Perusahaan menyadari, untuk bisa mencapai visi dari perusahaan adalah dengan meningkatkan segala macam sumber daya yang ada di perusahaan, salah satunya adalah sumber daya manusia. Melalui sistem yang mampu menilai dan meningkatkan kinerja karyawan, yang biasa disebut dengan istilah manajemen.Oleh karena itu perusahaan meyakini untuk bisa mencapai tujuan perusahaan dibutuhkan sistem manajemen kinerja yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi karyawan terhadap penerapan sistem manajemen kinerja PT. XYZ. Jenis penelitian ini applied research dengan menggunakan metode pengumpulan data gabungan metode kuantitatif melalui survei menggunakan kuesioner yang dimodifikasi dari model kuesioner Weiss dan Hartle (1997) untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap sistem manajemen kinerja dan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan kantor pusat PT. XYZ yang berjumlah 315 orang dengan metode non-probability sampling, dengan jenis sampel yang digunakan adalah purpossive sampling sebanyak 104 responden untuk survei dan 3 narasumber untuk wawancara mendalam. Data kuantitatif diolah menggunakan SPSS 22 untuk mencari nilai mean dari setiap tahapan proses manajemen kinerja. Batas minimum suatu sistem manajemen kinerja dikatakan baik adalah nilai mean sebesar 3,20. Sedangkan data kualitatif diolah dengan menggunakan verbatim, reduksi data, intepretasi hasil, dan kesimpulan berdasarkan tahapan proses manajemen kinerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan sistem manajemen kinerja secara keseluruhan belum cukup baik dengan nilai mean sebesar 2,94. Untuk masing-masing tahapan dalam proses manajemen kinerja sendiri menunjukan nilai mean 3,07pada perencanaan, 3,09 pada pelaksanaan, 2,85 pada penilaian, dan 2,75 pada tindak lanjut. Ini menunjukan bahwa sistem manajemen kinerja di PT. XYZ dikategorikan lemah. Hal tersebut juga didukung dari hasil wawancara yang menunjukan bahwa tidak adanya kesepakatan antara atasan dan bawahan mengenai apa yang dilakukan dan dicapai dalam pekerjaan. Sehingga karyawan merasa tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam pekerjaan, bagaimana cara meningkatkan kinerja, apa yang harus dicapai, dan apa yang akan mereka peroleh ketika mereka mencapai atau tidak mencapai target mereka.