Brigitta Sita Oentari
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INKONSISTENSI EJAAN BAKU AKIBAT PENAMBAHAN BUNYI VOKAL /ə/ DALAM KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA Brigitta Sita Oentari
EPIGRAM (e-journal) Vol 20 No 1 (2023): Epigram Volume 20 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Politeknik Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32722/epi.v20i1.5569

Abstract

As a reference source, dictionaries play a major role in providing linguistic information to the speech community as accurately as possible. One of which is the standard form. The use of the standard words required for formal situations and official communication demands the establishment of standard and consistent rules. This study aims to identify and describe the standard spelling inconsistencies caused by anaptyxis, or the addition of the vowel sound /ə/ in KBBI or the Fifth Edition of the Big Indonesian Dictionary (2018). This mixed research refers to the application of dictionaries as a result of codification (Kaplan & Baldauf, 1997) and the use of existing dictionaries as a data source for lexicography (Lauder, 2010). The note-taking method is used to analyze a research data sample of 40 standard and non-standard words in KBBI. The results showed that there are two types of standard spellings based on the presence or absence of the vowel /ə/ anaptyxis between the consonant clusters. The first type is the standard form, which contains anaptyxis, and the second type is the standard form, which does not contain anaptyxis. The first type dominates the data by 57.5% and shows that the Indonesian standard spelling is dominated by forms that insert the vowel /ə/ between the consonant clusters. The second type, whose standard form does not contain anaptaxis, can be seen in the nine categories of consonant clusters, with /tr/, /st/, and /sp/ as the most dominant consonant clusters. These findings indicate that there is a discrepancy in the rules of standard form when standardization is truly needed to direct speech community to be able to use the language according to the rules.  
Ejaan Kata Serapan Bergugus Konsonan , , dan dalam Bahasa Indonesia Brigitta Sita Oentari; M. Umar Muslim
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 9 (2023): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54371/jiip.v6i9.2500

Abstract

Penulisan kata serapan bergugus konsonan dalam bahasa Indonesia sudah lama menjadi masalah. Sebagian kata tersebut ada yang ditulis dengan mempertahankan gabungan huruf yang mewakili gugus konsonan dalam bahasa asalnya, sebagian yang lain ditulis dengan menambahkan huruf <e> di antara gabungan huruf tersebut. Melalui kajian terhadap sampel kata serapan yang ditulis dengan gabungan huruf , <kr>, dan <tr> yang mewakili gugus konsonan, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan inkonsistensi ejaan bergugus konsonan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menunjukkan ketidaksamaan ejaan dalam KBBI dengan ejaan yang digunakan masyarakat melalui korpus berita daring Leipzig Corpora Collection, serta menawarkan kemungkinan pemecahan masalah tersebut. Sumber data penelitian ini berasal dari KBBI dan sekumpulan daftar kata serapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan teknik simak catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam KBBI, pembakuan kata serapan menerapkan dua strategi, yakni mempertahankan gabungan huruf , <kr>, dan <tr> atau menambahkan huruf <e> di antara gabungan huruf tersebut. Kedua strategi tersebut bahkan dapat diaplikasikan dalam satu gabungan huruf. Dalam korpus, kedua strategi pembakuan tersebut masih berlaku, namun masyarakat tampak memiliki kaidah tersendiri dalam menuliskan kata serapan. Dengan kata lain, yang seharusnya ditulis dengan penambahan huruf, justru ditulis tanpa penambahan huruf, dan juga sebaliknya. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan bahwa kedua strategi pembakuan tersebut dapat tetap diaplikasikan, namun perlu mengakomodasi frekuensi dan pola-pola penyerapan ejaan yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat.