Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Konservasi Nilai Kepedulian Sosial Mahasiswa melalui Program Hari untuk Negeri Ngabiyanto Ngabiyanto; Didi Pramono; Harto Wicaksono; Tutik Wijayanti; Noven Tresandya; Devia Fitri Alfiana; Naufal Hafiz Ikhsan
SEWAGATI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 1 No. 4 (2022): Desember : Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/sewagati.v1i4.503

Abstract

Konservasi nilai kepedulian sosial salah satunya bisa ditanamkan melalui kegiatan “Hari untuk Negeri”. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah mengimplementasikan program bersih desa, donasi sembako, pendampingan belajar dan mengaji, pengembangan bakat dan keterampilan anak-anak, serta penanaman mangrove. Metode pelaksanaan program meliputi tahap prakegiatan, yang berisi persiapan pelaksanaan program. Tahap pertama meliputi implementasi program. Tahap kedua adalah pendampingan. Tahap ketiga monitoring dan evaluasi. Hasil dari implementasi program “Hari untuk Negeri” ini masyarakat sangat mengapresiasi pelaksanaan Program “Hari untuk Negeri” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES. Kegiatan ini dinilai berhasil dalam meningkatkan kebersihan, semangat gotong royong, motivasi belajar siswa, dan kebersamaan masyarakat Desa Tapak. Karang taruna, pemerintah desa, dan perguruan tinggi merupakan triple helix yang bernilai strategis dalam program pemberdayaan masyarakat desa. Masyarakat berharap kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini dinilai efektif sebagai upaya konservasi nilai kepedulian sosial bagi mahasiswa.
Etnoekologi Sistem Pengelolaan dan Teknologi Pertambangan Minyak Tradisional di Desa Wonocolo Muhammad Azra Fikri Maulana; Harto Wicaksono
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 14 No 1 (2025): Volume 14 Issue 1, February 2025
Publisher : Laboratory of Anthropology Department, Faculty of Humanity, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v14i1.2991

Abstract

Oil mining in Wonocolo Village, Bojonegoro Regency, uses simple technology that can be viewed from an ethnoecological perspective. Although the technology applied is relatively simple, mining activities still cause negative impacts on the environment. However, community knowledge about environmental management can reduce these impacts. The research method used was qualitative with an observation, interview and literature study approach, involving the village head, mine workers, mine owners and the surrounding community. The results showed that the community has a deep understanding of the ecosystem and oil mining practices. They try to maintain the balance of nature through developed customary norms, such as planting trees and soaking wells after use. This practice reflects the concept of ethnoecology, in which the community tries to maintain harmony between the natural and social environment. This high ecological awareness indicates the important role of local traditions in reducing the negative impacts of mining activities.
Seni sebagai Katalis Pembentukan Literasi dan Karakter Anak : Studi Fenomenologi pada Komunitas Lanang Wadon Semarang Tri Padhlurrohman Mahdi; Harto Wicaksono
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 4 Nopember (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.1224

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran seni sebagai katalis dalam pembentukan literasi dan karakter anak melalui studi fenomenologi pada Komunitas Lanang Wadon di Semarang. Pendidikan literasi dan karakter menjadi fondasi penting dalam pembentukan individu yang kompeten dan bermoral. Namun, pendidikan formal sering kali kurang optimal dalam mengembangkan kedua aspek ini. Komunitas Lanang Wadon menggunakan seni pertunjukan sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai literasi dan karakter pada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis fenomenologis interpretatif. Data penelitian ini didapatkan dengan cara wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumentasi. Teori pembelajaran eksperiensial David A. Kolb digunakan sebagai kerangka analisis. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan SINOM (Sinau Dolanan Lan Makaryo) yang menggabungkan belajar, bermain, dan berkarya melalui seni pertunjukan dan permainan tradisional dapat meningkatkan literasi, kreativitas, dan karakter anak. Kegiatan komunitas berdampak positif pada perkembangan kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan fisik-motorik anak. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang potensi integrasi seni dalam pendidikan non-formal untuk meningkatkan literasi dan karakter anak.
Respon Recipient dan Strategi Pengelolaan Berkelanjutan Sekolah Komunal Vonggo dalam Menghabituasikan Praktik Sekolah Komunitas Fitri Handayani; Harto Wicaksono
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 9 No 2 (2023): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v9i2.18752

Abstract

The problem of education in Vonggo Village is a crucial matter that needs to be resolved immediately. The presence of the Vonggo Communal School is expected to be a beacon for the Vonggo people so that they can pursue education like other children in general. This paper aims to look at how the Vonggo Village community responds to the inclusion of education through the Vonggo Communal School and see how the Vonggo Communal School's management strategy is in habituating community school practices. The method used in this research is qualitative research with a participatory action research (PAR) approach. The problems in this study were analyzed using the Habituation theory by Pierre Bourdieu. The results showed that at the beginning of SKV's presence, there were negative responses, including 1) people's attitude which tended to be closed; 2) there is public opinion that education is not a priority; and 3) concerns about the entry of Islamization through schools. However, over time, the community began to show a positive response by starting to participate in the development of school implementation and the emergence of enthusiasm to send their children to SKV. SKV, which is still relatively new, has been running quite well, but in its implementation, there are still many problems that require various alternative solutions so that this school can run continuously.
Practices of interfaith moderation on Punjungan tradition in Kecis Village Elsha Pipit Nathalia; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.36643

Abstract

The residents of Kecis Village demonstrate their commitment to both Christianity and Islam by fostering interfaith tolerance. The practice of the punjungan tradition, observed during Christmas and Eid, facilitates moderation in the interfaith community. Punjungan represents an expression of goodwill towards individuals of different faiths, marked by the sharing of food to commemorate religious holidays. This study examines the model of interfaith moderation cultivated through the punjungan tradition within the framework of religious moderation and Bourdieu's social practice theory. Employing a qualitative research methodology, this study focuses on ethnographic analysis through interviews, observations, and a literature review. The findings indicate that punjungan, as a symbol of communal affection, effectively rationalizes the practice of the punjungan tradition, thereby promoting tolerance and harmony among interfaith communities in Yogyakarta. The significance and rationalization of the punjungan tradition serve as mechanisms for establishing habitual moderation through the process of interfaith community habituation. The integration of religious moderation concepts within the punjungan tradition is conducted systematically, offering a model to mitigate the risk of disintegration within interfaith communities.   Masyarakat Desa Kecis menganut agama Kristen dan Islam dengan menjaga toleransi antar lintas agama. Hadirnya praktik tradisi punjungan yang dilakukan pada Natal dan Idulfitri menciptakan moderasi masyarakat lintas agama. Punjungan adalah bentuk tali kasih kepada sesama berbeda keyakinan untuk mengabarkan hari besar agama dengan memberikan makanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis model praktik moderasi lintas agama yang terhabituasi tradisi punjungan dalam konsep moderasi beragama dan teori praktik sosial Bourdieu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, berfokus pada studi etnografi melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan, punjungan sebagai bentuk tali kasih mampu menciptakan rasionalisasi praktik tradisi punjungan,  toleransi dan harmonisasi masyarakat lintas agama. Melalui pemaknaan dan rasionalisasi praktik tradisi punjungan menjadi alat untuk menciptakan moderasi yang terhabituasi melalui proses habituasi masyarakat lintas agama. Proses habituasi konsep moderasi beragama dilakukan secara terintegrasi dalam proses praktik tradisi punjungan, sehingga dapat menjadi model untuk mencegah ancaman disintegrasi masyarakat lintas agama.
The transmission of agricultural knowledge among members of The Mulya Tani Farmer Group in Sipanjang Hamlet Lujeng Lutfi Fauziah; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i1.38796

Abstract

Knowledge inheritance is a crucial component of sustaining agricultural practices amidst modernization. This study examines the role of farmer groups in the transmission of farming culture and the system of cultural knowledge inheritance among members of the Mulya Tani Farmer Group in Sipanjang Hamlet. This study employs a qualitative methodology with an ethnographic approach to explore and comprehend farming culture through behavioral patterns and interactions within the farming community of Sipanjang Hamlet. Data were collected through observations, interviews, and documentation. The findings indicate that the transmission of farming knowledge among farmers persists, evolving from traditional local knowledge to incorporating elements of agricultural modernization into the training. Farmer groups introduce new knowledge, resulting in a shift in traditional practices. The integration of modern and local knowledge in farming practices encompasses aspects such as knowledge, farming techniques, tools, technologies, and traditions. The transmission of farming cultural knowledge is facilitated by three preservation aspects: protection, development, and utilization. Agricultural modernization is associated with capitalization through government extension programmes. However, local traditions remain intact, as commercialization does not undermine the knowledge system. The transmission of farming cultural knowledge serves not only economic purposes but also supports the preservation of local knowledge and agricultural sustainability.   Pewarisan pengetahuan menjadi aspek penting dalam upaya menjaga keberlanjutan praktik pertanian di tengah era modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelompok tani dalam pewarisan budaya bertani dan sistem pewarisan pengetahuan budaya bertani pada petani Kelompok Tani Mulya Tani di Dusun Sipanjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi sebagai pendekatan untuk menggali dan memahami budaya bertani melalui pola perilaku dan interaksi pada masyarakat petani Dusun Sipanjang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan pengetahuan bertani pada petani  dilakukan hingga sekarang dengan dinamika pengetahuan bertani dari yang sebelumnya berupa pengetahuan lokal hingga masuknya modernisasi pertanian. Kehadiran kelompok tani membawa kebaharuan pengetahuan dan adanya pergeseran pengetahuan lama. Pewarisan praktik bertani seiring modernisasi pertanian mengintegrasikan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal yang meliputi aspek pengetahuan, teknik bertani, alat, teknologi dan tradisi. Pewarisan pengetahuan budaya bertani melalui tiga aspek pelestarian, yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Modernisasi pertanian memiliki keterkaitan dengan kapitalisasi melalui program penyuluhan oleh pemerintah. Akan tetapi, aspek pengetahuan berupa tradisi lokal tidak digantikan sebab komersialisasi tidak menyerang sistem pengetahuan tersebut. Pewarisan pengetahuan budaya bertani tidak hanya sekedar untuk kepentingan mendapatkan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga mendukung menjaga kelestarian pengetahuan lokal dan keberlanjutan pertanian.
Social and cultural strategies in the frugal living practices of UNNES students amidst contemporary economic pressures Niswatun Mufarrikhah; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41676

Abstract

This study aims to understand the socio-cultural strategies used by students in practicing a frugal lifestyle amidst economic challenges and a consumer culture in higher education. This study was conducted at Semarang State University (UNNES) using a qualitative approach and descriptive design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation with six primary informants and eight supporting informants selected purposively. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that students implement three main strategies, namely (1) rational financial management through budget recording and planning; (2) controlling consumption by limiting daily expenses and prioritizing basic needs; and (3) socio-cultural adaptation through internalizing the values ​​of simplicity, solidarity among boarding housemates, and family habits. These three strategies illustrate that a frugal lifestyle is not only a response to economic limitations, but also an expression of social and cultural values ​​that shape student identity. Theoretically, this study extends the application of Parsons' theory of frugality and social adaptation to the cultural context of Indonesian college students, by positioning frugal living as a moral practice and a form of counterculture to a consumptive lifestyle. Practically, the results of this study can serve as a basis for developing policies on financial literacy, character development, and student welfare based on socio-cultural values. The limitations of this study lie in the limited number of informants and research locations. Therefore, further research is recommended to expand the context and use a mixed methods approach to obtain more comprehensive results.   Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi sosiobudaya yang digunakan oleh mahasiswa perguruan tinggi dalam menerapkan gaya hidup hemat di tengah tantangan ekonomi dan meningkatnya budaya konsumerisme di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan enam informan utama dan delapan informan pendukung yang dipilih secara purposif. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa menerapkan tiga strategi utama: (1) pengelolaan keuangan rasional melalui perencanaan anggaran dan pemantauan pengeluaran; (2) pengendalian konsumsi dengan membatasi pengeluaran harian dan memprioritaskan kebutuhan dasar; dan (3) adaptasi sosiobudaya melalui internalisasi kesederhanaan, solidaritas sesama, dan nilai-nilai yang diwariskan keluarga. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan hanya respons ekonomi, tetapi juga ekspresi budaya yang membentuk identitas sosial mahasiswa. Secara teoritis, studi ini memperluas penerapan teori kesederhanaan dan kerangka kerja adaptasi sosial Parsons dalam konteks budaya mahasiswa Indonesia, menempatkan kesederhanaan sebagai praktik moral dan kontra-budaya terhadap konsumerisme. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan wawasan untuk mengembangkan program literasi keuangan, pendidikan karakter, dan kebijakan kesejahteraan mahasiswa yang berakar pada nilai-nilai sosial dan budaya. Penelitian ini dibatasi oleh jumlah informan yang sedikit dan cakupan institusional tunggal; oleh karena itu, penelitian masa depan sebaiknya memperluas konteksnya dan menggunakan metode campuran untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif.