Firman Herdiansyah
Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FASIES FORMASI TANJUNG, CEKUNGAN BARITO, KALIMANTAN SELATAN Efrilian Adeghea Rosa; Moeh. Ali Jambak; Firman Herdiansyah
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan pada Formasi Tanjung, yang merupakan bagian dari Cekungan Barito, Kalimantan Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fasies, lingkungan pengendapan dan distribusi vertikal dan lateral dari asosiasi fasies pada daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan tiga data sumur. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis elektrofasies dari tiga log sumur (pola kurva log) menggunakan klasifikasi Kendall (2003), analisis marker sikuen stratigrafi dengan metode T-R sequence menggunakan klasifikasi Embry (1993), analisis marker biostratigrafi berdasarkan kelimpahan foraminifera bentonik menggunakan klasifikasi Van der Vlerk & Umbgrove (1927), analisis fasies menurut klasifikasi Walker (1992), dan analisis lingkungan pengendapan menggunakan klasifikasi Boggs (2006). Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan hasil dua marker sikuen, yaitu SB 2 dan Top Tanjung dengan fasies berupa fluvial channel, fluvial pointbar, fluvial floodplain, shale delta plain, distributary channel, dan mouthbar. Sedangkan lingkungan pengendapan pada daerah penelitian terdiri dari dua lingkungan, yaitu fluvial dan deltaik. Kata-kata kunci: Fasies, lingkungan pengendapan, foraminifera bentonik, T-R sequence Abstract This research is located in Tanjung Formation which is part of Barito Basin, South Kalimantan. The purpose of this research is to determine facies, depositional environment, and the vertikal and lateral distribution of facies association in the research area. This research using three well log datas. The research methodology that used in this research is elektrofacies of three well log datas (log curve pattern) analysis using Kendall (2003) classification, stratigraphy sequence analysis with T-R sequence method using Embry (2003) classification, biostratigraphy marker analysis based on the abundance of benthonic foraminifera using Van der Vlerk & Umbgrove (1927) classification, facies analysis by Walker (1992) classification, depositional environment analysis by Boggs (2006) classification. Based on the analysis, the result show that there are two sequence markers, there are SB 2 and Top Tanjung with the facies such as fluvial channel, fluvial pointbar, fluvial floodplain, shale delta plain, distributary channel, and mouthbar. Whereas the depositional environment in the research area consists two environments, there are fluvial and deltaic. Keywords: Facies, depositional environment, benthonic foraminifera, T-R sequence
ANALISIS DIAGENESIS BATUPASIR FORMASI JATILUHUR SUNGAI CIPAMINGKIS BERDASARKAN ANALISA SCANNING ELECTRON MICROSCOPE ( SEM ) Kevin Virgian; Firman Herdiansyah
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi, batuan sedimen kerap menjadi target reservoar potensial. Besarnya cadangan yang tersimpan dalam reservoar batuan sedimen ditentukan oleh kemampuan batuan reservoar tersebut untuk menampung hidrokarbon. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah porositas batuan. Secara umum, semakin tinggi nilai porositasnya, jumlah hidrokarbon yang dapat disimpan dalam reservoar akan cenderung semakin besar. Lapangan penelitian berada pada daerah Sungai Cipamingkis, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan penentuan tingkat dan proses diagenesis yang terjadi pada batupasir Formasi Jatiluhur, melalui observasi lapangan dan analisis laboratorium berupa data SEM (Scanning Electron Microscope). Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan ilmu-ilmu geologi, menginterpretasikan keadaan geologi, serta hubungan diagenesis batuan pada daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data berupa observasi lapangan, lintasan sungai daerah Cipamingkis dan analisis proses diagenesis yang terjadi melalui hasil uji SEM (Scanning Electron Microscope). Secara geografis daerah penelitian berada pada koordinat 107o02’00.5” - 107o02’07.1” BT dan 06o32’01.0” - 06o32’00.9” LS dan secara fisiografis termasuk kedalam bagian utara Zona Antiklinorium Bogor yang berbatasan dengan Zona Dataran Pantai Utara. Diagenesis terbagi menjadi 3 tahap yaitu Eogenesis, Mesogenesis, Telogenesis. Daerah penelitian termasuk kedalam Mesogenesis karena pada setiap sampel batuan yang telah di analisis terdapat mineral lempung berupa mineral Illite, Kaolinite. Kata-kata kunci: diagenesis, SEM, mesogenesis, illite, kaolinite Abstract In oil and gas exploration activities, sedimentary rocks are often a potential reservoir target. The amount of reserves stored in the sedimentary rock reservoir is determined by the ability of the reservoir rock to accommodate hydrocarbons. One of the most influential factors is rock porosity. In general, the higher the porosity value, the amount of hydrocarbons that can be stored in a reservoir will tend to be even greater. The research field is in the Cipamingkis River area, Jonggol, Bogor, West Java Province. The purpose of this study is to determine the level and process of diagenesis that occurs in sandstones of the Jatiluhur Formation, through field observations and laboratory analysis with SEM (Scanning Electron Microscope). The purpose of this study is to apply the geological sciences, interpret geological conditions, and the relationship of rock diagenesis in the study area. The data used in the study are data in the form of field observations, river crossings in the Cipamingkis area and analysis of the diagenetic process that occurs through SEM (Scanning Electron Microscope) test results. Geographically the study area is at coordinates 107o02’00.5” - 107o02’07.1” BT and 06o32’01.0” - 06o32’00.9” LS and physiographically belongs to the northern part of the Bogor Anticlinorium Zone bordering the North Coast Plain Zone. Diagenesis is divided into 3 stages namely Eogenesis, Mesogenesis, Telogenesis. The study area is included in Mesogenesis because in each rock sample that has been analyzed there are clay minerals in the form of mineral Illite, Kaolinite. Keywords: diagenesis, SEM, mesogenesis, illite, kaolinite