Muhamad Hilal Ramadhan
Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

YAHUDI DALAM AL-QUR’AN : (Studi Analisis QS. Al-Baqarah ayat 62 Dan 120 dalam Tafsir Al-Mizan) Muhamad Hilal Ramadhan
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.569

Abstract

Artikel ini berbicara mengenai agama Yahudi, serta bagaimana sejarah dan teks ayat-ayat al-Qur’an tentangnya yang diambil dari penafsiran Thabathaba’i. Tentu dalam membahas  agama ini diperlukan adanya kerangka setting sosio-historis secara mendalam. Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an memberikan sebuah alternatif dalam membahas agama-agama secara universalistik-positivistik. Siapakah sebenarnya Yahudi dalam al Qur’an itu? Apakah mereka akan selalu tidak senang dengan perbuatan Muslim dari dulu hingga sekarang? Apakah mereka akan masuk surga atau neraka menurut klaim dari agama Ahl Ibrahim? Kajian ini dianggap penting sebab menyangkut dasar falsafah hidup kaum Muslim dalam menentukan sikapnya terhadap umat Yahudi. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik dengan pemahaman historisitas dan pemahaman teks dengan 3 tahap, yaitu deduktif, induktif kemudian analisis. Penulis menganalisis pemikiran Thabathaba’i dengan pemahaman sejarah Yahudi, berikut dengan ayat-ayat al-Qur’an tentangnya. Dari telaah yang telah dilakukan, penulis berkesimpulan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai Yahudi dapat dikatakan berada pada tataran historis, kultural dan sosiologis. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa agama Yahudi dan Islam apabila melihat dari konteks historis-genealogi Ibrahim itu sangat dekat. Jadi munculnya kebencian, saling mengklaim agama paling benar, kekerasan dan lain sebagainya itu adalah sikap yang salah dalam melestarikan ajaran Ibrahim yang hanif.