Kematian pasangan merupakan suatu masalah yang dapat menyebabkan stress pada kehidupan lansia karena perasaan kesepian. Kematian juga menjadi pemicu gangguan psikologis yang berbentuk kesedihan yang mungkin berulang dan menimbulkan ansietas hingga depresi. Depresi merupakan suasana psikologis lebih dari sekedar rasa sedih. Kesepian akan lebih dirasakan oleh lansia yang hidup sendirian tanpa anak, keadaan kesehatannya kurang baik, tingkat pendidikan dan rasa percaya diri yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara ansietas dan depresi pada lansia yang ditinggal pasangan hidup. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 18 orang. Penelitian ini dilakukan di Desa Pangkoh Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data pada penelitian ini adalah kuesioner Geriatric Anxiety Scale (GAS) yang telah baku dengan nilai 0,92 dan Geriatric Depression Scale (GDS) yang telah disesuaikan oleh Depkes RI dengan sensitivitas 84% dan spesivisitas 95%. Hasil analisis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ansietas dan depresi pada lansia yang ditinggal pasangan hidup dengan nilai r = -0,637. Arti dari nilai ini adalah adanya hubungan kuat antara ansietas dan depresi pada lansia yang ditinggal pasangan hidup. Kesimpulan. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa lansia yang ditinggal pasangan hidup mengalami ansietas dan depresi di Desa Pangkoh Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah.