Sari Triyulianti
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Brain Gym dan Resistance Exercise Pada Lansia dengan Kondisi Demensia Untuk Meningkatkan Fungsi Kognitif Sari Triyulianti; Leila Ayuningtyas
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 5 No 02 (2022): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.458 KB) | DOI: 10.36341/jif.v5i02.2678

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Demensia adalah suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan kognitif secara progresif yang mengganggu kemampuan fungsional secara mandiri. Demensia umumnya disebabkan oleh gangguan beberapa fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, pemikiran, orientasi, pemahaman, pembelajaran, bahasa, dan penilaian. Demensia disebabkan oleh berbagai penyakit dan kondisi yang menyebabkan rusaknya sel-sel otak atau hubungan antar sel-sel otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam otak dan latihan resistensi terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan kondisi demensia. Metode: Studi kasus tunggal dengan desain pre dan post test pada pria berusia 65 tahun dengan kondisi gangguan kognitif sedang. Brain gym dilakukan selama 20 menit, sedangkan latihan resistensi dilakukan selama 60 menit, tiga kali seminggu selama empat minggu. Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) untuk mengevaluasi fungsi kognitif pada lansia. Hasil: Setelah diberikan intervensi selama empat minggu didapatkan hasil peningkatan fungsi kognitif. Hasil pada pengukuran awal sebelum diberikan intervensi didapatkan T0 = 23, dan pada evaluasi akhir tintervensi didapatkan T11= 25. Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa brain gym dan latihan resistensi dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan kondisi demensia
Pengaruh Neuromuscular Taping Dan Contract Relax Stretching Pada Kondisi Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Terhadap Penurunan Nyeri Leher Sari Triyulianti
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Vol 5 No 02 (2022): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.185 KB) | DOI: 10.36341/jif.v5i02.2688

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Myofacial trigger point syndrome otot upper trapezius adalah nyeri pada suatu titik/tempat hiperiritabel pada otot atau fascia yang disebabkan oleh adanya trauma ataupun pembebanan akibat dari kerja otot yang terjadi secara terus-menerus. Otot yang bekerja secara berlebihan akan menyebabkan kontraksi terus menerus yang akan menyebabkan otot menjadi tegang sehingga timbul spasme, kekakuan, adhesi serta penurunan sirkulasi darah yang merupakan pemicu timbulnya trigger point di otot yang menegang. Kondisi ini ditemukan pada posisi beraktivitas dengan posisi yang tidak ergonomis dalam jangka waktu lama terutama pada area leher khususnya otot upper trapezius yang sering ditemukan berkontraksi berlebihan mempertahankan postur kepala yang cenderung jatuh ke depan karena kekuatan gravitasi atau berat kepala itu sendiri. Kontraksi berlebih memicu timbulnya trigger points pada taut band yang menimbulkan myofascial pain syndrome sehingga akan berdampak pada nyeri leher. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pengaruh neuromuscular taping dan contract relax stretching pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapezius terhadap penurunan nyeri leher. Metode: penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan dengan desain pre dan post test pada 14 orang yang diambil secara acak sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Intervensi yang diberikan berupa neuromuscular taping dan contract relax stretching dan pengukuran nyeri diukur dengan visual analog scale (VAS). Data diolah dan dianalisa dengan aplikasi software SPSS 21. Hasil: Hasil uji hipotesis didapatkan dengan p = 0,000 berarti p<0,05 maka ada pengaruh pemberian neuromuscular taping dan contract relax stretching terhadap nyeri leher pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapeziu . Kesimpulan: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian neuromuscular taping dan contract relax stretching dapat mengurangi nyeri leher pada kondisi myofascial pain syndrome otot upper trapezius
Aerobic Exercise Improves Cognitive Function in Sedentary Young Adults Without Cognitive Impairment Sari Triyulianti; Yose Rizal; Afifah Dwi Tifani
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 5 No 1 (2024): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v5i1.314

Abstract

Physical exercise can improve cognitive function of older adults, but the influence of young adults is less clear. The purpose of this study was to assess the effect of aerobic exercise on cognitive function of sedentary young adults without cognitive impairment. This study used an experimental method with pre and post test designs on 20 young adults according to the inclusion and exclusion criteria. Samples were randomly divided into two groups, the control group and the aerobic exercise group. The control group did not do the exercise. The aerobic group exercised by running for 30 minutes (64-76% of maximal heart rate), three time per week for four weeks. Cognitive function was measured using stroop task test. The results showed that there was a significant increase in cognitive function in the aerobic exercise group (p<0.05). There was a significant difference in cognitive function between the aerobic exercise group and the control group (p<0.05). In conclusion, aerobic exercise over four weeks can increase cognitive function in sedentary young adults without cognitive impairment.
Efek Latihan Aerobik dan Play Therapy terhadap Fungsi Kognitif Lansia dengan Demensia Sari Triyulianti; Ayu Permata, Elvina Roza
Jurnal teknologi Kesehatan Borneo Vol 5 No 2 (2024): Jurnal teknologi Kesehatan Borneo
Publisher : POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jtkb.v5i2.368

Abstract

Demensia merupakan gangguan neurodegeneratif pada lansia yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, memengaruhi kualitas hidup, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek latihan aerobik dan play therapy terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia. Desain penelitian menggunakan studi kasus tunggal dilakukan pada seorang lansia berusia 64 tahun dengan demensia sedang. Intervensi berupa latihan aerobik dan play therapy diberikan tiga kali seminggu selama tiga minggu, dengan evaluasi dilakukan setiap minggu menggunakan Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ). Hasil penelitian menunjukkan penurunan skor kesalahan SPMSQ dari 7 (gangguan kognitif sedang) menjadi 4 (gangguan kognitif ringan) setelah tiga minggu intervensi. Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi latihan aerobik dan play therapy efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia.
EFEKTIVITAS METODE SQUARE STEPPING EXERCISE DALAM MENINGKATKAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DENGAN KONDISI DEMENSIA: CASE STUDY Sari Triyulianti; Muawanah, Siti; Relida Samosir, Nova; Haikal Akbar, Muhammad
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 5 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v5i1.11053

Abstract

Introduction: The aging process in older adults leads to various physiological changes, including a decline in nervous system function that may increase the risk of developing dementia. Dementia is a neurodegenerative syndrome characterized by decreased cognitive functions such as memory, orientation, attention, and thinking ability, which negatively affect independence and quality of life in older adults. This condition also increases the risk of mobility impairment and dependency in daily activities. Therefore, effective non-pharmacological interventions are needed to maintain and improve cognitive function. One such method is Square Stepping Exercise, a structured stepping-pattern-based physical exercise initially developed to improve balance in older adults, which has also been shown to stimulate cognitive function through enhanced concentration, memory, and motor coordination. This study aimed to determine the effectiveness of Square Stepping Exercise in improving cognitive function in older adults with dementia. Methods: This study employed a case study design involving one older adult with dementia and moderate cognitive impairment. The Square Stepping Exercise intervention was administered in 12 therapy sessions with a frequency of three times per week. Cognitive function was measured using the Mini Mental State Examination (MMSE) before and after the intervention. Results: After 12 sessions of Square Stepping Exercise intervention, an improvement in cognitive function was observed as measured by the Mini Mental State Examination (MMSE). The MMSE score increased from 13 (moderate cognitive impairment) before the intervention to 23 (mild cognitive impairment) after the intervention. Conclusion: Based on the results of this study, the implementation of Square Stepping Exercise for 12 therapy sessions demonstrated an improvement in cognitive function in older adults with dementia, as indicated by an increase in MMSE scores from the moderate cognitive impairment category to the mild cognitive impairment category. These findings suggest that Square Stepping Exercise has the potential to be used as a non-pharmacological intervention to improve cognitive function in older adults with dementia