Articles
DIAGRAM INTERAKSI PERANCANGAN KOLOM DENGAN TULANGAN PADA EMPAT SISI BERDASARKAN SNI 2847:2013 DAN ACI 318M-11
Arfiadi, Yoyong
Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 4 (2016)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2457.872 KB)
|
DOI: 10.24002/jts.v13i4.935
Dalam tulisan ini dibahas perancangan kolom yang disesuaikan dengan SNI 2847:2013 dan ACI 318M-11. Untuk keperluan praktis, dikembangkan diagram-diagram sebagai alat bantu perancangan. Kolom yang ditinjau adalah kolom empat persegi panjang dengan tulangan pada keempat sisinya, di mana masing-masing sisi mempunyai luas tulangan yang sama. Dalam penurunan rumus-rumus dan grafik-grafik, tulangan dianggap sebagai pias baja dengan tebal tertentu yang sesuai dengan luas tulangan masing-masing sisi. Persamaan-persamaan keseimbangan gaya dan momen kemudian diturunkan untuk berbagai diagram regangan dan tegangan yang mungkin terjadi. Sebagai pendekatan, dalam penurunan persamaan, luas tulangan yang ditempati oleh baja desak tidak ditinjau. Diagram-diagram untuk berbagai mutu beton dan baja selanjutnya dibuat untuk memudahkan perancangan kolom. Diagram interaksi dibuat tak-berdimensi, sehingga dapat digunakan untuk berbagai ukuran kolom. Dalam setiap diagram, disediakan beberapa rasio tulangan yang dapat digunakan untuk perencanaan. Diagram interaksi dibuat untuk kuat perlu, kuat nominal dan kapasitas maksimum. Dengan demikian diagram interaksi yang dikembangkan dapat digunakan untuk perencanaan kolom-kolom struktur sebagai kolom pada struktur rangka momen biasa, rangka momen menengah, dan rangka momen khusus menurut peraturan gempa yang berlaku. Pada bagian akhir disajikan beberapa aplikasi penggunaan diagram interaksi yang dibuat sebagai alat bantu perancangan.
Operator Kawin Silang pada Algoritma Genetik Riil untuk Variabel Rencana Selalu Positif
Arfiadi, Yoyong
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 22, Nomor 2, DESEMBER 2016
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (914.505 KB)
|
DOI: 10.14710/mkts.v22i2.12883
Genetic algorithms have been used to solve various optimization problems. One of the advantages of genetic algorithms is that they have the ability to solve complex optimization problems in a simple way. By using genetic algorithms, the near global optimum can be achieved easily. Although in the early development, binary coded genetic algorithms are more popular, recently real coded genetic algorithms are widely used to solve engineering problem’s optimization. The advantage of using real coded genetic algorithms is the ability of the crossover operator to explore a larger domain of interest. As a result the use of crossover in real coded genetic algorithms may have a detrimental effect, as it can explore the domain that is very far from the expected domain. In the civil engineering area, most variables are positive. Therefore, it is needed to develop a crossover operator that can produce positive-only offspring. In this paper an asymmetric crossover is proposed to solve this problem. It is shown in the experiments that this crossover has a good performance in achieving optimum results.
Aplikasi Metode Vektor Beban Penentu Lokasi Kerusakan pada Struktur Thick Plate
Frans, Richard;
Arfiadi, Yoyong
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 4 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (489.648 KB)
|
DOI: 10.24002/jts.v15i4.3792
Salah satu metode yang sering digunakan dalam mendeteksi kerusakan elemen dalam struktur adalah metode vektor beban penentu lokasi kerusakan. Hal ini dikarenakan metode ini cukup mudah untuk digunakan dan memberi hasil yang cukup memuaskan dalam mendeteksi kerusakan struktur. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, metode vektor beban penentu lokasi kerusakan ini telah banyak diaplikasikan ke berbagai jenis (tipe) struktur misalnya pada struktur balok, struktur rangka, struktur portal, dan lain sebagainya, Oleh karena itu, pada penelitian ini, metode beban penentu lokasi kerusakan ini diaplikasikan pada struktur thick plate. Terdapat dua skenario pembagian elemen dengan masing-masing tiga skenario kerusakan. Skenario pembagian elemen yaitu struktur thick plate akan dibagi menjadi 4 elemen dan 81 elemen. Pemodelan yang digunakan adalah dengan menggunakan metode elemen hingga dengan mengasumsikan elemen pelat tersebut sebagai elemen eight-noded quadratic quadrilateral plate bending. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan dari metode vektor beban penentu lokasi kerusakan dalam menentukan elemen rusak. Berdasarkan hasil yang didapatkan, metode vektor beban penentu lokasi kerusakan cukup akurat dalam menentukan elemen yang diasumsikan mengalami kerusakan.
IMPLIKASI PENGGUNAAN PETA GEMPA 2010 PADA PERENCANAAN GEDUNG DI KOTA YOGYAKARTA
Yoyong Arfiadi
Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 2 (2013)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.359 KB)
|
DOI: 10.24002/jts.v12i2.609
Dalam tulisan ini dibahas implikasi penggunaan peta gempa 2010 dan peraturan yang baru pada suatu sistem struktur rangka momen. Gedung yang ditinjau adalah gedung dengan penggunaan normal dan dengan jumlah lantai 4. Sebagai perbandingan dibahas desain gaya geser dasar pada struktur tersebut di Kota Yogyakarta untuk berbagai jenis tanah (klas situs), yaitu untuk tanah lunak, sedang dan keras. Dari hasil analisis diperoleh bahwa untuk gedung bertingkat sedang yang dibangun di atas tanah lunak, nilai gaya geser dasar berdasarkan RSNI 03-1726-201X lebih kecil dari nilai gaya geser yang dihitung berdasarkan SNI 03-1726-2002, walaupun dengan selisih yang tidak terlalu besar. Untuk gedung bertingkat sedang yang dibangun di atas tanah dengan kekerasan sedang, nilai gaya geser dasar dari RSNI 03-1726-201X lebih besar dari gaya geser dasar yang dihitung dengan SNI 03-1726-2002. Rasio gaya geser yang dihitung dengan RSNI 03- 1726-201X terhadap gaya geser yang dihitung dengan SNI 03-1726-2002 dapat mencapai 1,4. Demikian juga untuk gedung bertingkat sedang yang dibangun di atas tanah keras, gaya geser dasar yang dihitung dengan RSNI 03-1726-201X kira-kira 70% lebih besar dari gaya geser dasar yang dihitung dengan SNI 03-1726-2002. Selain itu gaya geser yang dihitung dengan RSNI 03- 7126-201X pada tanah lunak lebih kecil dari gaya geser pada tanah sedang dan keras. Hal ini terjadi karena parameter spektral respons percepatan desain pada RSNI 03-1726-201X mempunyai nilai yang kecil untuk tanah lunak dibandingkan dengan nilai parameter spektral respons percepatan desain pada tanah sedang dan keras, untuk rentang perioda struktur yang ditinjau.
PREDICTION OF DYNAMIC PARAMETERS OF STRUCTURES BASED ON MODAL ANALYSIS USING FDD
Ricky Priyatmoko;
Yoyong Arfiadi
Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2019)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (482.194 KB)
|
DOI: 10.24002/jts.v15i2.3718
Dynamic behavior and system identification are important topic in monitoring and maintaining existing infrastructures. System identification using Frequency Domain Decomposition (FDD) is an operational modal analysis (OMA) in frequency domain used on experiment of shear frame model with random vibration method is validated by comparing output of FDD data using acceleration input from simulated model with output of FDD using acceleration result of experimental model. The result of acceleration data is recorded using USB accelerometer X16-1D then calibrated and analyzed using Matlab programs, data_procces.m and solve FDD_eksperiment.m to estimate the modal parameter of model structure. Compared with parameter modal of simulation model, FDD method with input simulated acceleration resulted in difference of 1.757% in first frequency and 0.462% in second frequency. Meanwhile for FDD method using acceleration of experimental model, resulted in difference of 6.3126% in first frequency and 7.7327% in second frequency. FFD method is fairly accurate in predicting the frequency of structure, but for difference of mode shapes in experimental is very big compared to simulated model therefore it can be concluded that, this modal parameter is cannot be detected in experimental model.
Parameters Optimization of Tuned Mass Damper Using Fast Multi Swarm Optimization
Richard Frans;
Yoyong Arfiadi
Jurnal Teknik Sipil Vol 26 No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5614/jts.2019.26.1.6
Tuned mass damper (TMD) has been used for vibration controller of building, especially for high rise building. TMD is one of passive device for reducing response of the structure which subjected to dynamic external disturbance such as wind, or earthquake load. TMD used its weight for reducing the vibration, TMD's frequency has been set with structure's frequency so that the frequency can resonate each other for reducing the response of the structure during the dynamic load. Therefore, three variables have significant effect for TMD performance which are mass ratio of TMD (m), frequency ratio of TMD (a), and damping ratio of TMD (z) which lead to two important variables of TMD properties which are stiffness and damping of TMD. This paper developed an empirical equation for obtaining the optimum parameters of tuned mass damper based on H2 norm control system and fast multi swarm optimization (FMSO). The objective function was to minimize the acceleration and displacement response of the structure. Accelerogram of El-Centro 1940 NS was chosen to be ground motion acceleration for simulating the response of the structure with and without TMD. The result shows a strong correlation both mass ratio of TMD to frequency ratio of TMD and mass ratio of TMD to damping ratio of TMD.Penggunaan peredam massa selaras (PMS) telah banyak digunakan sebagai alat kontrol getaran pada bangunan, khususnya bangunan-bangunan tinggi. PMS adalah salah satu kontrol pasif yang digunakan untuk mengurangi respon getaran dari struktur akibat beban-beban dinamik seperti angin, atau gempa. PMS menggunakan berat sendiri untuk mengurangi getaran, frekuensi dari PMS disesuaikan dengan frekuensi dari struktur sehingga beresonansi satu sama lain untuk mengurangi respon dari struktur selama berlangsungnya beban dinamik. Berdasarkan hal tersebut, ada tiga variabel yang mempunyai efek yang signifikan terhadap performa dari PMS, antara lain: rasio massa PMS (ï), rasio frekuensi PMS (ï¡), dan rasio redaman PMS (ïº) yang akan berhubungan langsung dengan dua parameter penting dari PMS yaitu kekakuan dan redaman dari PMS. Tulisan ini mengusulkan persamaan empirik untuk mendapatkan properti optimum dari PMS dengan menggunakan fungsi kontrol H2 dan algoritma fast multi swarm optimization. Fungsi objektif yang digunakan adalah untuk meminimumkan respon percepatan dan perpindahan dari struktur. Data rekaman El-Centro 1940 NS dipilih sebagai data percepatan tanah dasar untuk mensimulasikan respon dari struktur dengan dan tanpa menggunakan PMS. Hasil menunjukkan terdapat korelasi yang kuat antara rasio massa dari PMS terhadap rasio frekuensi dari PMS serta rasio massa dari PMS terhadap rasio redaman dari PMS.
Analisis Riwayat Waktu Nonlinier Struktur Flat Slab dengan OpenSees Navigator
Samsul A Rahman Sidik Hasibuan;
Yoyong Arfiadi;
Junaedi Utomo
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 1, JULI 2022
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1245.304 KB)
|
DOI: 10.14710/mkts.v28i1.38184
Pengembangan sistem struktur yang tidak menggunakan balok sebagai komponen utama pertama kali diajukan oleh Turner pada tahun 1906. Sistem struktur ini lebih dikenal dengan flat slab. Struktur flat slab didukung oleh kepala kolom dan drop panel, atau tanpa drop panel, atau tanpa kepala kolom. Beberapa peraturan bangunan seperti IS 456:2000, ACI 318-19, EC 2:2004, dan NZS 3101 (Part 1):2006 hanya memberikan pedoman untuk merancang sistem flat slab di bawah beban gravitasi saja. Namun demikian, bangunan flat slab juga banyak dibangun di daerah dengan gempa tinggi yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan akibat beban gempa. Dalam tulisan ini struktur gedung flat slab 10 tingkat hasil rancangan dianalisis menggunakan analisis riwayat waktu respons nonlinier dengan bantuan software OpenSees Navigator menggunakan beberapa rekaman gempa yaitu Kobe (Jepang, 1995), Imperial Valley (California, 1979) dan Tabas (Iran, 1978) yang telah disesuaikan dengan spektra desain kota Yogyakarta. Dari hasil analisis menggunakan OpenSees Navigator diperoleh bahwa story drift yang terjadi masih dalam batas-batas yang disyaratkan dalam peraturan, sehingga gedung yang ditinjau masih dalam batas perencanaan life safety.
Aplikasi vektor beban penentu lokasi kerusakan struktur pada struktur portal rangka ruang
Richard Frans;
Yoyong Arfiadi
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22225/pd.12.2.6679.172-178
Structural health monitoring system is one of the most interesting and important topics in civil engineering. This is because a good structural health monitoring system will increase the reliability of the structure. There are 4 (four) levels in the structural health monitoring system, one of which is damage localization. Damage localization requires an approach or method that can accurately predict the damaged member. One of the methods that is widely applied and proven to give good results for predicting damaged members called damage locating vector (DLV). The DLV method has been applied to several structures, such as plane truss structures, space truss structures, plane frame structures, shear buildings, plane stress elements, thick plate elements and several types of structures. The purpose of this research is to apply DLV method to space frame structures to find out the effectiveness of this method in damage detection. There are three damage scenarios used, two single damage scenarios and one multiple damage scenario. Based on the results obtained, the DLV method can accurately determine the damaged member in the space frame structure for single damage scenarios but in case of multiple damage scenarios, the DLV cannot predict the damaged member due to the values ​​of the end forces and moments of the damaged members are similar to one another.
PENGARUH RANGKAIAN GEMPA UTAMA – GEMPA SUSULAN TERHADAP REDUNDANSI DAN KERUNTUHAN PROGRESIF STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BETON BERTULANG
Zacharias, Hendry David;
Utomo, Junaedi;
Arfiadi, Yoyong;
Lisantono, Ade
Jurnal Teknik Sipil Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24002/jts.v18i1.9601
Rangkaian kejadian gempa meningkatkan kerusakan kumulatif pada struktur karena meningkatnya simpangan antar lantai, terutama untuk daerah potensi gempa kuat atau bangunan penting. Redundansi bergantung pada karakteristik dinamis dan geometris strukturnya serta sifat eksitasi gempa, peningkatan redundansi tidak dapat didefinisikan sebagai kriteria untuk meningkatkan perilaku seismik struktur, namun sangat berkaitan erat dengan keruntuhan progresif. Penelitian ini melihat pengaruh rangkaian gempa MSEq –ASEq terhadap redundansi dan keruntuhan progresif dari 16 model struktur rangka pemikul momen beton bertulang dengan variasi jumlah bentangan dan jumlah lantai tapi dengan luas denah yang sama, dengan melihat nilai simpangan antar lantai dan rotasi balok serta rasio gaya aksial terhadap kapasitas aksial kolom pada beberapa skenario pelepasan kolom. Rangkaian gempa MSEq-ASEq berpengaruh sangat signifikan terhadap kebutuhan redundansi struktur terlihat dari peningkatan nilai simpangan antar lantai namun tidak untuk keruntuhan progresif dimana tidak terjadi peningkatan nilai rotasi balok dan gaya aksial kolom (rasio ≈ 1). Menambah jumlah bentangan pada denah tidak selalu mengurangi besaran simpangan antar lantai, namum efektif untuk mengurangi nilai rotasi balok dan rasio gaya aksial terhadap kapasitas aksial kolom
Studi Komparatif Perilaku Nonlinear Slender Shearwall Dan Squat Shearwall Terhadap Beban Dinamik
Wijaya, Ryan;
Arfiadi , Yoyong
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 8 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.58344/jii.v4i8.6905
his study aims to conduct a comparative investigation of two types of reinforced concrete shear walls namely, slender shearwalls and squat shearwalls in order to understand the differences in their dynamic responses and hysteretic behavior under seismic loading. The analysis was performed through a numerical approach using time history simulation in the OpenSees software, with the El Centro earthquake record as input. The study focuses on evaluating structural displacement, force, rotation, moment, and ductility based on force-displacement and moment-rotation relationships. The results indicate that the slender shearwall exhibits larger displacement responses, more significant plastic rotations, and better ductility performance in the positive direction. Conversely, the squat shearwall demonstrates greater lateral stiffness and strength, along with higher ductility in the negative direction. The hysteretic characteristics of both wall types further reflect the dominance of different structural mechanisms slender shearwalls tend to exhibit flexural behavior, while squat shearwalls are primarily governed by shear action. Overall, the simulation results reveal that each shearwall type has its own distinctive advantages. The slender shearwall is more effective in accommodating plastic deformation, whereas the squat shearwall excels in resisting large lateral forces with limited deformation. These findings are expected to serve as a reference for the design of shear wall systems in earthquake-resistant buildings, particularly in Indonesia.