Imam Masrur
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Tasawuf Substantif Dalam Muhammadiyah Imam Masrur
Spiritualita Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Usluhuddin dan Dakwah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1345.96 KB) | DOI: 10.30762/spr.v3i1.1515

Abstract

This research is exploring Islamic Sufism concept of the Muhammadiyah Organization. Formally,Muhammadiyah refuses classical sufism like Naqsabandiyah, Qadiriyah and etc. According to Muhammadiyah, sufism is often deviated into a tarekat by strict ritual practices, self isolated, and being unmindful people.Thisview motivates Muhammadiyah to make another concept of sufism accordingto Islam. The result explains that achieving spiritual grace are by reciting holy Quran, doing more sholat sunnah, zikir, fasting, and etc that in Islamics role. Muhammadiyah practices sufism in pure religious service and non-pure religious service according to Quran and hadist; it is called by substantive sufism. Sufism meant sincere, patient, tawakkal based on Prophets guide and only Allah. It is also meant as a balancing of material and spiritual, worldly and eschatological matters that based on Al-Quran and Sunnah. It is alsodenySufism that oriented with khalwat and reject the world. Another, the important of Muhammadiyahs attitude are faithful, doing religious service obediently, and being good human in environment. This is the sufism orientation that is not related with negative view like isolated, doing unusual, having faith by speculation and isolated from environment.
TARBIYAH SALAT QABLIYAH DAN BA'DIYAH DARI RASULULLAH Imam Masrur
UNIVERSUM: Jurnal Keislaman dan Kebudayaan Vol. 15 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : LPPM IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v15i1.716

Abstract

Hadith memiliki posisi sentral dalam Islam. Ia merupakan sumber kedua setelah al-Qur'an yakni berfungsi merinci pesan-pesan al-Qur'an yang mujmal, sehingga diperoleh keterangan yang jelas dalam menjalankan amaliah ibadah sehari-hari, termasuk shalat Qabliyah dan Ba'diyah. Akan tetapi faktanya, hegemoni pemikiran fiqh lebih kental mewarnai daripada pemahaman terhadap hadith dalam menentukan amaliah ibadah kaum Muslim, terutama Muslim Indonesia. Fiqh seakan-akan menjadi tolok ukur pertama dan utama dalam menghadapi persoalan. Oleh karena itu, peneliti akan menghadirkan bagaimana sebenarnya hadith melukiskan af aliyah Rasulullah terkait salut Qahliyah dan Ba'diyah murni sesuai dengan pandangan alamah (ach>th Dalam penelitian ini, motode yang digunakan adalah metode hadith tematik. Yakni dengan mengumpulkan hadith- hladith yang setema yang membahas stalat Qabilyah dan Ba'dayah Rasulullah. Dalam penelitian ini, sebelum melangkah pada pemahaman hadith akan dipaparkan validitas kualitas hadith, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman penafsiran. Adapun lokal penelitian hadith adalah kitab kutab al-tis'ah, sedangkan pemahamannya diambil dari sharh kitab hadith. Dari hasil penelitian diperoleh penjelasan bahwa Rasulullah melaksanakan stalar Qabliyah dan Ba'diyah: Qabliyah subuh sebanyak dua raka'at dan setelahnya beliau tidur ringan sampai muadzin iqamat. Qabliyah Dhubur beliau laksanakan dua raka'at dan terkadang empat raka'at, sedangkan Ba'diyah Dhuhur beliau laksanakan dua raka'at Qabliyah "As far beliau laksanakan empat raka'at dengan dua kali salam. Untuk Qubliyah Maghrib Rasulullah memerintahkan menjalankannya bagi mereka yang menghendaki, tapi dengan catatan jangan menganggapnya sebagai kesunnahan yang dikuatkan, sedangkan Ba'diyah Maghrib, beliau menjalankan dua raka'at. Ba'diyalı "Isha>, beliau menjalankan dua raka'at.