I Gusti Agung Wiratama
Universitas Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN WISATA BERBASIS BUDAYA MELALUI PEMETAAN OBJEK WISATA DAN PEMBARUAN INFORMASI DI DESA PENGADANGAN, KABUPATEN LOMBOK TIMUR Lina Afriyana; Dwi Candra Bayuanto; Mila Sopiana; I Gusti Agung Wiratama; Lalu Jodi Satriawan; Nanda Isyfi Zillil Islami; Silvia Wulandari; Laini Atil Far'i Hidayati; Ismiladiana Ismiladiana; Niswatul Latifah
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2022): Agustus
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.898 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v5i3.3914

Abstract

Desa pengadangan memiliki potensi besar dalam pariwisata karena keindahan alam, kearifan lokal, dan atraksi budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Adapun permasalahan sektor pariwisata di Desa Pengadangan antara lain potensi pariwisata selain Festival Pesona Budaya belum dikembangkan secara optimal, kurangnya promosi wisata berupa pemetaan objek wisata dan penyebaran informasi secara digital, dan kurangnya sumbangsih masyarakat dalam mengembangkan pariwisata. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan pengabdian dalam menyelesaikan bersama persoalan Desa Pengadangan dalam bidang pariwisata, yaitu persebaran informasi potensi wisata yang kurang akibat kelembagaan pariwisata yang belum terstruktur dengan baik dan pembaruan informasi spasial di Desa Pengadangan secara digital. Metode yang digunakan dalam proses pelaksanaan kegiatan oleh Tim KKN Universitas Mataram adalah metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan beberapa program yang diusulkan antara lain pembuatan peta potensi wisata, pembuatan pusat informasi kesenian, dan pembaruan informasi spasial di Google Maps. Metode Pelaksanaan meliputi observasi, kajian pustaka, persiapan, pembuatan peta potensi wisata dan pusat informasi kesenian, serta pembaruan informasi spasial melalui Google Maps dengan melibatkan masyarakat dan menggunakan instrumen pengumpulan data. Hasil yang diperoleh adalah dihasilkannya peta potensi wisata, pusat informasi kesenian, dan informasi spasial Desa Pengadangan di Google Maps.
Praktik Dan Akuntabilitas Sanksi Denda Pelanggaran Awig-Awig Berbasis Tri Hita Karana: Studi Etnometodologi I Gusti Agung Wiratama; Rr. Sri Pancawati Martiningsih
Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Riset Mahasiswa Akuntansi, September 2026
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/risma.v6i3.3298

Abstract

Banjar, as a customary non-profit social organization, partly funds its activities through fines sanction imposed for violations of its awig-awig (customary regulations); however, enforcement in practice is often inconsistent and fund management remains loosely structured. This study aims to analyze the practice of imposing fines under the awig-awig of Banjar Karya, Rendang Bajur Village, Gunungsari, and the accountability process for managing the resulting fine funds from the perspective of Tri Hita Karana. The study employs a qualitative method with an ethnomethodological approach, drawing on interviews, participatory observation, and documentation involving the chairperson, secretary, treasurer, and members of Banjar Karya, analyzed through the stages of indexicality, reflexivity, and contextual action. The findings reveal three main points. First, fine sanctions under the awig-awig are not fully enforced; only certain types of fines, such as pecikrem, minggel, ngayah, pralaya, patus, megebagan, and pupuan, are consistently applied, shaped by social solidarity, members' circumstances, and limited socialization. Second, the fine record-keeping system remains simple and is handled separately by the treasurer and the secretary, creating potential confusion over responsibility. Third, the accountability process reflects the values of Tri Hita Karana through the dimensions of Parahyangan, Pawongan, and Palemahan, indicating that accountability is understood not merely as financial responsibility but also as a social and spiritual value. This study contributes to enriching the literature on culturally grounded non-profit accounting and offers a reference for developing alternative accountability models for similar customary organizations in Indonesia.