Mohammad Taufiq Rahman
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integritas Terbuka dalam Pengembangan Inklusivisme Beragama Masyarakat Kampung Susuru Hendi Suhendi; Mohammad Taufiq Rahman
Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies Vol. 1 No. 1 (2022): Integritas Terbuka: Peace and Interfaith Studies
Publisher : Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.382 KB) | DOI: 10.59029/int.v1i1.4

Abstract

Masyarakat Kampung identik dengan kehidupan tradisional dan homogen baik dari etnis, budaya maupun agama. Masyarakat Kampung yang kental dengan sikap ‘‘curiga’’ jika ada pendatang dengan keyakinan agama berbeda. Sikap umum tersebut tidak berlaku untuk Kampung Susuru. Meskipun Kampung Susuru secara geografis berada terpencil dari kampung lainnya tetapi memiliki relasi sosial yang baik dengan sesama warga yang berbeda agama. Inklusivisme beragama warga Kampung Susuru menjadi nilai khas yang sangat berharga karena merupakan modal besar dalam mencipatakan kerukunan antar umat beragama yang berdampak tehadap kedamaian dan keamanan Kampung. Contoh wujud kerukunan tersebut dapat dilihat dari praktek ibadah mereka, dimana setiap warga yang berbeda agama saling menghormati dan membantu dalam pelaksanaan ibadah warga lain yang berbeda agama. Selain itu kebiasaan gotong royong diantara warga dalam mebangun tempat ibadah merupakan penegasan dari sikap inklusivisme mereka. Untuk meningkatkan inklusivisme tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan integritas terbuka yakni sikap keterbukaan terhadap klaim kebenaran, mempertahankan keunikan setiap agama dan respon terhadap relativisme yang dapat kembangkan melalui sepuluh tahapan pembelajaran yaitu membangun kesadaran: nilai-nilai ku dan nilai dalam dirimu, membangun keterhubungan nilai dan spiritual diri, membangun keterhubungan dari pohon kehidupan, merumusakan mimpi, , membangun keterhubungan hidup dengan orang lain, membangun karakter damai dari pikiran damai, membangun dialog antar iman yang lebih baik, membangun keterbukaan, membangun keterhubungan dalam dialog antar agama dan melakukan perubahan secara terbuka.
Dari Identitas Muslim menjadi Simbol Nasional:  Sejarah Peci M Iming di Indonesia 1928-1955 Ilham Muhamad Nurjaman; Fajriudin Mutaqin; Mohammad Taufiq Rahman; Ahmad Masrul Anwar
Islamuna: Jurnal Studi Keislaman Vol. 2 No. 1 (2026): Islamuna: Jurnal Studi Keislaman (In Progres)
Publisher : CV. Biha Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The peci (fez-like cap) has long been regarded as a symbol of religious, particularly Muslim, identity. However, during the Indonesian national movement (1908–1945), the peci underwent a transformation in meaning, shifting from a religious to a national identity, as it became closely associated with movement figures such as Sukarno, Mohammad Hatta, and Buya Hamka. This article aims to reconstruct the history of Peci M Iming, a peci brand from Bandung established in 1918 on Groote Postweg (now Jalan Ahmad Yani), as part of that transformation. The study employs the historical method (heuristics, criticism, interpretation, and historiography), supplemented by an interview with the fourth-generation heir of the M Iming business, and is analyzed through Clifford Geertz's theory of culture, enriched by Anthony D. Smith's theory of national identity and Benedict Anderson's concept of imagined community. The findings show that Peci M Iming grew from a home business with a single sewing machine into a shop known for its opal shape, ship-inspired model, and Kembang Bandung motif, along with M Iming's authentic hand-stitched signature. The study also identifies four circumstantial facts—the shop's proximity to the sites of Sukarno's movement activities in Bandung, testimony from the heir's family, the coincidence between the business's golden era and Sukarno's presidency, and similarities in cap motifs—that strengthen the argument linking Peci M Iming to the cap worn by Sukarno, including at the 1955 Asian-African Conference. The study concludes that Peci M Iming is not merely a local craft heritage of Bandung, but also a witness to, and part of, the long process of Indonesian national identity formation.